Laporan Evolusi


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Siapa pun yang mencari jawaban dari pertanyaan bagaimana mahluk hidup, termasuk dirinya, menjadi ada, akan menghadapi dua penjelasan yang berbeda. Yang pertama adalah penciptaan , gagasan bahwa semua mahluk hidup muncul sebagai hasil dari sebuah rancangan cerdas. Penjelasan kedua adalah teori evolusi, yang menyatakan bahwa mahluk hidup bukanlah hasil dari rancangan cerdas, tetapi dari sebab-sebab yang serba kebetulan dan proses alamiah. Dari pernyataan tersebut banyak orang memperbincangkan dan memperdebatkan teori mengenai asal-usul mahluk hidup.
Bagi sebagian orang yang berfikir dengan akalnya akan memahami bahwa adalah karya penciptaan sempurna yang tiada tara. Sedangkan bagi sebagian yang lainnya yang mempercayai teori evolusi, menganggap bahwa mahluk hidup tercipta sebagai akibat dari peristiwa kebetulan dan muncul dengan sendirinya dari kondisi alamiah dan berevolusi dari satu spesies ke spesies lain melalui berbgai peristiwa yang terjadi secara acak. Sebagian orang yang mempercayai bahwa mahluk hidup terjadi secara kebetulan kemudian bersatu dalam sebuah kepercayaan yang berlandasakan materialism. Berawal dari pemikiran ini, materialism mengingkari keberadaan Sang Maha Pencipta, yaitu Allah. Kaum materialis percaya bahwa teori evolusi atau darwinisme adalah fakta yang telah terbukti secara ilmiah, dengan amat sengit mendukungnya, dan juga, dengan sama sengitnya, menolak semua gagasan yang bertentangan dengannya.(Campbell,2003)
Mengacu pada darwinisme, dikatakan bahwa evolusi adalah proses perubahan mahluk hidup dari bentuk sederhana menjadi bentuk yang kompleks baik morfologi maupun fisiologis secara bertahap dalam waktu sangat lama yang diakibatkan adanya seleksi alam sehingga terbentuk mahluk hidup baru yang berbeda dari moyangnya. Dari penjelasan teori Darwin tersebut munculah beberapa konsekuensi yaitu :
1.      Bentuk mahluk hidup setiap selang waktu beberapa tahun akan berubah (bertahap, membutuhkan waktu yang lama)
2.      Setiap spesies mahluk hidup akan terus berubah seiring dengan bergantinya generasi, sehingga terbentuk mahluk hidup yang memiliki bentuk dan sifat yang berbeda dari moyangnya
3.      Terbentuknya spesies baru sehingga terjadi keragaman mahluk hidup
4.      Spesies yang tidak dapat bertahan karena seleksi alam akan mengalami kepunahan
5.      Evolusi bersifat irreversible sehingga tidak ditemukan lagi mahluk hidup sederhana karena sudah menjadi kompleks
6.      Sesungguhnya tidak terdapat spesies terminal/ akhir/ definitive
Selama satu setengah abad hingga sekarang, teori evolusi telah menerima dukungan luas dari masyarakat ilmiah. Ilmu Biologi diterangkan dalam penjelasan-penjelasan berdasarkan konsep-konsep evolusionis. Itulah mengapa, antara kedua penjelasan antara penciptaan dan evolusi, kebanyakan orang beranggapan bahwa penjelasan evolusionis lebih ilmiah. berdasarkan hal itu, mereka mempercayai bahwa evolusi merupakan sebuah teori yang didukung oleh temuan-temuan ilmiah, sementara penciptaan dianggap sebagai kepercayaan berlandaskan keimanan. Namun faktanya, temuan-temuan baru ilmu pengetahuan modern telah membuat teori evolusi menjadi tidak berlaku lagi. Berbagai cabang ilmu pengetahuan seprti paleontology, genetika, biokimia dan biologi molekuler telah membuktikan bahwa tak mungkin mahluk hidup tercipta akibat kebetulan atau muncul dengan sendirinya dari kondisi alamiah. Dan ilmu pengetahuan menunjukan bahwa segala yang ada merupakan hasil ciptaan sesuatu yang lebih tingi.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah evolusi terjadi ?
2.      Apa saja bukti-bukti bahwa evolusi tidak terjadi ?
3.      Bagaimana bantahan yang menguatkan bahwa evolusi tidak terjadi ?
C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui apakah evolusi terjadi
2.      Untuk mengetahui apa saja bukti-bukti bahwa evolusi tidak terjadi
3.      Untuk mengetahui bagaimana bantahan yang menguatkan bahwa evolusi tidak terjadi


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Tinjauan Kritis terhadap teori Evolusi
Terdapat lebih dari satu juta spesies makhluk hidup yang menghuni bumi. Bagaimana beragam spesies dengan keseluruhan ciri yang sama sekali berbeda dan rancangan sempurna ini muncul menjadi ada? Setiap orang yang menggunakan akalnya akan memahami bahwa kehidupan adalah karya penciptaan sempurna yang tiada tara.. Tetapi, teori evolusi menolak kebenaran yang jelas ini. Mengacu pada darwinisme, dikatakan bahwa evolusi adalah proses perubahan mahluk hidup dari bentuk sederhana menjadi bentuk yang kompleks baik morfologi maupun fisiologis secara bertahap dalam waktu sangat lama yang diakibatkan adanya seleksi alam sehingga terbentuk mahluk hidup baru yang berbeda dari moyangnya (Susanto,2018). Evolusi 'adalah istilah yang banyak digunakan tetapi ambigu. Banyak peneliti organisasi (Huygens et al., 2001; Jenkins dan Floyd, 2001; Jones, 2001; Lewin dan Volberda, 2003; Rodrigues dan Child, 2003) merujuk pada 'evolusi' atau 'co-evolution' sementara tidak cukup jelas apa yang mereka berarti. Tidak ada arti umum yang mapan untuk istilah-istilah ini. Dalam beberapa disiplin akademis ‘evolusi’ membangkitkan Darwinisme, tetapi di tempat lain (terutama dalam ekonomi evolusioner saat ini) merujuk secara lebih samar dan luas untuk berubah.(Houdgsn,2017)
Secara ringkas evolusi menyatakan bahwa keanekaragaman bentuk kehidupan muncul sebagai hasil perubahan susunan genetiknya. Organisme-organisme modern merupakan keturunan dari bentuk-bentuk kehidup-an sebelumnya yang mengalami modifikasi (Luthfi.dkk,2005)
Dari penjelasan teori Darwin tersebut munculah beberapa konsekuensi yaitu :
1.      Bentuk mahluk hidup setiap selang waktu beberapa tahun akan berubah (bertahap, membutuhkan waktu yang lama)
2.      Setiap spesies mahluk hidup akan terus berubah seiring dengan bergantinya generasi, sehingga terbentuk mahluk hidup yang memiliki bentuk dan sifat yang berbeda dari moyangnya
3.      Terbentuknya spesies baru sehingga terjadi keragaman mahluk hidup
4.      Spesies yang tidak dapat bertahan karena seleksi alam akan mengalami kepunahan
5.      Evolusi bersifat irreversible sehingga tidak ditemukan lagi mahluk hidup sederhana karena sudah menjadi kompleks
6.      Sesungguhnya tidak terdapat spesies terminal/ akhir/ definitive
Dari konsekuensi diatas mengundang respon atau tanggaan terhadap teori evolusi khususnya oleh para penganut aliran penciptaan. Darwin dianggap memisahkan Tuhan jauh-jauh dari tindakan penciptaan, meski ada yang berpandangan bahwa “menciptakan sesuatu dengan potensi evolusi bawaan adalah lebih hebat daripada menciptakan suatu entitas yang baku”. On the Origin of Species (2002) mendapat kecaman dari banyak kalangan terutama oleh agamawan karena dianggap tidak mendukung gambaran mengenai penciptaan seperti yang tertuang dalam kitab suci (Hidayat,2014). Menurut aliran penciptaan setiap spesies pertamakali muncul dalam keadaan sempurna, seperti yang kita temukan pada saat ini, melalui prosespenciptaan. Dengan demikian aliran penciptaan juga meyakini baha tidak mungkin ada seekor binatang memiliki struktur dan kebiasaan yang terbentuk dari modifikasi binatang yang hidup sebelumnya dengan struktur dan kebiasaan yang sama sekali berbeda. (Susanto,2018)
Adapun tentang naluri yang dimiliki oleh binatang tidak mungkin diperoleh dan dimodifikasi melalui seleksi alam karena naluri tersebut dimiliki oleh hewan berkat pemberian oleh sang pencipta, dimana ada bataan-batasan yang ketat diantara spesies-spesies yang melakukan perkawinan atara varietas-varitasna (Susanto,2018)
Aliran penciptaa juga memeberikan penjelasan bahwa lapsan bumi tertua tempat ditemukannya fosil-fosil mahluk hidup secara bersamaan adalah lapisan kambrium, yang berkisar 500 - 550 juta tahun yang lalu.
B.     Kesulitan-Kesulitan dalam Teori Evolusi
Sebagaimana diakui Darwin sendiri dalam bukunya The Origin of Species Bab VI : Difficulities of the theory, dalam teori evolusi Darwin ditemukan adanya kesulian-kesulitan yang dapat disimpulkan kedalam 4 kesulitan, dan dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.   Apabila spesies-spesies adalah keturunan spesies lain dengan cara gradasi, mengapa tidak ditemukan bukti-bukti yang cukup banyak adanya bentuk transisi, dan mengapa seluruh lam tidak berada dalam kekacauan tetapi spesies yang ada justru menunjukan keharmonisan dan keserasian.
2.   Apakah mungkin struktur dan kebiasaan yang terbentuk dari modifikasi bintang yang hidup sebelumnya dengan struktur dan kebiasaan yang sama sekai berbeda
3.   Dapatkah nalui diperoleh dan dimodofikasi melalui seleksi alam
4.   Bagaimana penjelasn tentang perkawinan antar spesies atau varietas sehingga menghasilkan variasi tanpa batas, dan demikian pula ditemukad adanya ketidasempurnaan dalam catatan geologis.
Dari pernataan tersebut secara tidak langsung memberikan kelemahan terhadap teori evolusi, sehingga mendukung bahwa evolusi tersebut tidak terjadi. 
C.    Tidak Terjadinya Perubahan dari Sedehana ke kompleks
Walaupun teori evolusi kimia telah teruji melalui eksperimen di laboratorium, namun demikian yang menjadi masalah utama adalah belum dapat terjawabnya : bagaimana mekanisme peralihan dari senyawa kompleks menjadi mahluk hidup yang paling sederhana. Teori evolusi biologi belum ada yang menguji secara eksperimental. Walaupun yang dikemukakan dalam teori itu benar, namun tetap saja belum dapat menjelaskan tentang dari mana dan dengan cara bagaimana kehidupan muncul, hal ini disebabkan karena kehidupan tidak sekedar mengangkut kemampuan replikasi diri sel. Kehidupan lebih dari itu semua, tidak hanya kehidupan biologis, tetapi juga kehidupan rohani yang meliputi moral, etika, estetika, dan inteligensia. (Susanto,2018)
Seperti yang kita pahami, catatan fosil menunjukan bahwa mahluk hidup tidak berevolusi dari bentuk primitif kebentuk yang lebih maju, tetapi muncul secara tiba-tiba dan dalam keadaan sempurna. Ringkasnya, mahluk hidup tidak muncul melalui evolusi, tetapi diciptakan. Hal ini dijelaskan dalam AL-Quran :
إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Artinya :
Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: "kun (jadilah)", maka jadilah ia.
Seperti yang kita pahami, catatan fosil menunjukkan bahwa makhluk hidup tidak berevolusi dari bentuk primitif ke bentuk yang lebih maju, tetapi muncul secara tiba-tiba dan dalam keadaan sempurna. Ringkasnya, makhluk hidup tidak muncul melalui evolusi, tetapi diciptakan

Hasil gambar untuk gambar fosil capung saat ini
(Gambar 2.1)
Bentuk fosil capung yang berbentuk sama seperti capung pada umumnya yang ada dimasa sekarang membuktikan tidak adanya perubahan dari sederhana menjadi kompleks. Masih ditemukannya mahluk hidup sederhana pada masa kini yakni bakteri yang disusun oleh satu se atau uniselluler
Hasil gambar untuk bakteri maluk hidup sederhana
(Gambar 2.2 tubuh bakteri tersusun oleh 1 sel)
Dari gambar tesebut dapat dilihat bahwa bakteri merupakan mahluk hidup uniseluller dan merupakan mahluk hidup sederhana sehingga merunntuhkan anggapan kaum evolusionis bahwa evolusi adalah perubahan mahluk hidup dari bentuk sederhana menjadi bentuk yang kompleks.


D.    Tidak Terbukti Bahwa Mahluk Hidup Berkebang dari Kahidupan Akuatik ke Terestrial
Evolusionis menyatakan bahwa suatu ketika, spesies yang hidup di air naik ke darat dan berubah menjadi spesies darat. Ada sejumlah fakta yang sangat jelas menunjukkan kemustahilan transisi seperti itu:
1. Keharusan membawa beban tubuh: makhluk penghuni air membawa beban tubuh mereka tanpa masalah. Tetapi, bagi sebagian besar binatang darat, 40% energi mereka habis hanya untuk membawa beban tubuh mereka. Makhluk hidup yang berpindah dari air ke darat harus mengembang-kan sistem otot dan kerangka baru (!) secara bersamaan agar dapat memenuhi kebutuhan energi ini. Suatu hal yang tidak mungkin terjadi melalui mutasi kebetulan.
2. Daya tahan terhadap panas: suhu daratan dapat berubah dengan cepat dan naik-turun dalam rentang yang lebar. Makhluk hidup di darat memiliki mekanisme tubuh yang dapat menahan perubahan-perubahan suhu yang besar itu. Akan tetapi, suhu lautan berubah secara perlahan dan perubahan tersebut tidak terjadi dalam rentang yang terlalu lebar. Organisme hidup dengan sistem tubuh sesuai temperatur laut yang konstan akan membutuhkan suatu sistem perlindungan agar perubahan suhu di darat tidak akan membahayakan. Sangat tidak masuk akal bahwa ikan mendapatkan sistem tersebut melalui mutasi acak segera setelah mereka naik ke darat.
3. Penggunaan air: air dan kelembaban yang penting untuk metabolisme harus digunakan sehemat mungkin karena kelangkaan sumber air di darat. Sebagai contoh, kulit harus dirancang agar dapat mengeluarkan air sejumlah tertentu, sekaligus mencegah penguapan berlebihan. Karenanya, makhluk hidup di darat memiliki rasa haus karakteristik yang tidak dimiliki organisme air. Di samping itu, kulit tubuh hewan air tidak sesuai untuk habitat non-air.
4. Ginjal: organisme air dapat dengan mudah membuang zat-zat sisa dalam tubuh mereka (terutama amonia) dengan penyaringan, karena banyaknya air dalam habitat mereka. Di darat, air harus digunakan sehemat mungkin. Itulah sebabnya hewan darat memiliki sistem ginjal. Berkat ginjal, amonia disimpan dengan cara mengubahnya menjadi urea dan hanya membutuhkan sejumlah kecil air untuk membuangnya. Di samping itu, beberapa sistem baru dibutuhkan untuk membuat ginjal berfungsi. Singkatnya, agar perpindahan dari air ke darat dapat terjadi, makhluk hidup tanpa ginjal harus membentuk sistem ginjal secara tiba-tiba.
5. Sistem pernapasan: ikan “bernapas” dengan mengambil oksigen yang terlarut dalam air yang mereka alirkan melewati insang. Mereka tidak mampu hidup lebih dari beberapa menit di luar air. Agar mampu hidup di darat, mereka harus mendapatkan sistem paru-paru yang sempurna secara tiba-tiba. Tentu saja mustahil bahwa semua perubahan fisiologis yang dramatis ini dapat terjadi pada organisme yang sama, pada saat bersamaan, dan secara kebetulan. (Yahya:2004)

E.     Kesalah fahaman Tentang Seleksi Alam
Darwin mengemukakan sebuah gagasan sebagai “mekanisme evolusi”: Seleksi Alam. Seleksi Alam membahas seputar gagasan bahwa makhluk hidup paling kuat yang paling mampu menyesuaikan diri dengan tempat hidup mereka akan tetap hidup. Misalnya, dalam sekelompok rusa yang dimangsa oleh binatang buas, rusa yang mampu lari lebih cepat akan bertahan hidup. Tetapi, tentu saja mekanisme seperti ini tidak akan menyebabkan rusa berevolusi – ini tidak akan merubah mereka menjadi spesies lain seperti gajah, misalnya. (Yahya,2002). Sebagaimana kemustahilan munculnya kehidupan di muka bumi secara kebetulan, adalah tidak mungkin bagi spesies makhluk hidup untuk merubah diri mereka sendiri menjadi spesies lain. Sebab, tidak ada kekuatan yang mampu mendorong terjadinya peristiwa seperti ini di alam. Apa yang kita sebut alam adalah kumpulan dari atom-atom yang tidak memiliki kesadaran dan akal yang menyusun tanah, bebatuan, udara, air dan segala sesuatu yang lain. Tumpukan benda mati ini tidak memiliki kekuatan untuk merubah makhluk tak bertulang belakang (invertebrata) menjadi seekor ikan, kemudian menjadikannya naik ke darat dan berubah menjadi seekor reptil, dan kemudian merubahnya menjadi seekor burung dan menjadikannya mampu terbang, dan akhirnya menjadikannya seorang manusia. (Yahya,2002).

F.     Mutasi
Sadar  bahwa  seleksi  alam  tidak  berfungsi  mendorong  terjadinya  evolusi,  evolusionis lalu memunculkan konsep “mutasi” dalam teori mereka di abad ke-20. Mutasi adalah perubahan yang terjadi pada gen makhluk hidup karena pengaruh luar seperti radiasi. Evolusionis menyatakan perubahan ini menyebabkan organisme berevolusi. Akan tetapi, berbagai penemuan ilmiah menolak pernyatan ini, sebab semua mutasi yang pernah diketahui, hanya menyebabkan kerugian pada makhluk hidup. Semua mutasi yang terjadi pada manusia mengakibatkan kelainan mental maupun fisik seperti mongolisme (Down’s Syndrome), albinisme (albino), dwarfisme(tubuh pendek), atau penyakit lain seperti kanker. (Yahya,2002). Namun tampaknya selalu ada ruang bagi Tuhan dalam sains. Misalnya teori tentang mutasi DNA dan teori tentang Dentuman Besar yang menghadirkan kekuatan Pemandu dan Perekayasa bagi suatu kerja alam. Sebagai contoh dalam proses mutasi DNA, bahwa mutasi tidak akan pernah bisa terjadi bahkan dalam waktu ratusan juta tahun jika dilakukan secara acak, sehingga suatu mutasi mutlak membutuhkan Pemandu bagi proses mutasi sehingga bisa berjalan dengan baik. (Hidayat,2014).
G.    Bukti Ilmiah evolusi tidak terjadi
1.      Georges cuvier
Cuvier "beranggapan bahwa ciri-ciri anatomi yang membedakan kelompok hewan, membuktikan bahwa spesies tidak pernah berubah sejak masa kejadian. Setiap spesies begitu sempurna terkoordinasi, baik secara fungsi maupun secara struktur, sehingga tidak mungkin bisa bertahan menghadapi perubahan yang berarti." Maksudnya, Cuvier percaya bahwa hewan-hewan diciptakan dalam kelompok yang berbeda dan tetap, seperti dikatakan oleh Alkitab, Sebaliknya, "baik Lamarck maupun Geoffroy Saint-Hilaire mendukung gagasan bahwa semua hewan bisa disusun dalam "sebuah rantai besar makhluk" dari yang paling sederhana sampai yang paling rumit." Lebih lanjut, mereka juga percaya bahwa dengan berlalunya waktu, satu spesies bisa secara bertahap berevolusi menjadi spesies yang lebih tinggi. Lamarck mengatakan bahwa mekanisme yang memungkinkan terjadinya perubahan ini adalah "dipakai tidaknya berbagai anggota tubuh hewan." Lamarck juga percaya bahwa dalam dokumen fosil terdapat cikal- bakal hewan-hewan modern. Dalam perdebatan panjang tersebut, argumentasi paling kuat yang diajukan Cuvier adalah bahwa Lamarck tidak bisa membuktikan adanya transformasi spesies. Sedangkan Cuvier bisa menunjukkannya dari bukti- bukti yang dibawa kembali ke Prancis oleh tentara Napoleon.
Bukti-bukti itu memperlihatkan bahwa hewan peliharaan tidak berubah sejak zaman Mesir kuno. Dia juga menunjukkan bahwa lenyapnya berbagai jenis hewan adalah karena hewan tersebut punah, bukan karena berubah menjadi spesies baru." Cuvier dengan tepat menunjukkan bahwa dokumen fosil justru menentang evolusi dan bukan mendukungnya. Dia mengatakan bahwa "jika spesies memang berubah secara bertahap, kita seharusnya bisa menemukan jejak perubahan itu; antara (fosil) paleotherium dan spesies yang ada sekarang seharusnya ada bentuk antara: tapi ini tidak pernah ada." Hingga sekarang hal ini masih belum terbantah, meskipun berjuta-juta fosil baru telah ditemukan sejak zaman Cuvier. Cuvier dan Lamarck juga tidak sepaham mengenai bagaimana kehidupan dimulai. Lamarck percaya adanya pemunculan spontan, yaitu bahwa kehidupan bisa berasal dari benda tak bernyawa. Namun, Cuvier menunjukkan bahwa "kehidupan selalu berasal dari kehidupan. Kita melihat kehidupan dialihkan tapi tidak pernah diciptakan." Sampai hari ini, tidak pernah ditemukan adanya kehidupan yang berasal dari yang non-hidup, sehingga membuktikan bahwa evolusi tersebut tidak terjadi.( Helmi,2017)
H.    Evolusionisme Kontras dengan Iman Kristen
Setiap orang yang menolak adanya Tuhan akan bergantung kepada evolusi untuk menjelaskan alam semesta tanpa ahli desain. Hal itu merupakan dasar bagi berbagai pandangan dan kehidupan seperti atheisme, agnostisisme, dan yang berkaitan dengannya, yaitu humanisme sekuler dengan mottonya, "Jika tidak ada pencipta, maka tidak ada penilik untuk mengatur kita selain kita." Dengan demikian tidak ada alasan yang masuk akal untuk hidup berdasarkan prinsip-prinsip yang tertulis dalam Sepuluh Hukum (Taurat), atau bagian lain dalam Perjanjian Lama itu ditolak sebagai mitos budaya.(Saragi,2015)
Isi Alkitab (yang diyakini orang Kristen sebagai pewahyuan Ilahi dari Tuhan), yang secara konsisten terus menyatakan diriNya di dalamnya, telah menciptakan bumi dengan baik (tanpa kematian, perebutan, kekerasan, kekejaman dan pertumpahan darah). Namun alam semesta dan segala isinya telah terkutuk (Kej. 3; Rom. 8) sebagai akibat pendurhakaan (dosa) manusia pertama, Adam, terhadap Penciptanya. Inilah permulaan dosa masuk ke dalam dunia. (Saragi,2015)
I.       Manusia Bukan Merupakan Produk Evolusi
Pada hakikatnya dalam Alqur‟an manusia disebut dengan berbagai nama diantaranya: al- Basyr, al- Insan, an- Nas, dan konsep Bani Adam yang dalam hal ini sebagai penolakan terhadap teori Darwin tentang evolusi bahwa manusia adalah keturunan dari  kera.  Adapun  pemahaman  tentang  peran  manusia  sangat  erat  kaitannya dengan sebutan yang disandangnya. (Mualimin,2017)
a.       Konsep Al- Basyr (رشبلا )
Manusia dalam konsep al- Basyr, dipandang dari pendekatannya biologis. Sebagai mahluk biologis adalah manusia terdiri atas unsur materi, sehingga menampilkan sosok kedalam bentuk fisik material, yaitu berupa tubuh kasar (ragawi). Berdasarkan konsep al- Basyr, manusia tidak jauh berbeda dengan makhluk biologis yang lainnya. Dengan demikian kehidupan manusia sangat terikat kepada kaidah-kaidah prinsip kehidupan biologis yang lain seperti berkembang biak, mengalami fase pertumbuhan dan perkembangan untuk mencapai tingkat kematangan serta kedewasaan. Manusia memerlukan makan, minum dengan kreteria yang halal serta bergizi.(Mualimin,2017)
b.      Konsep Al- Insan  ( ن بسنلاا )
Al-Insan terbentuk dari akar kata Nasiya ( يسن), Nisyu ( يسن ) yang berati lupa, dari kata Insu ( ىسنا ) artinya senang, jinak, harmonis, dan ada juga dari akar kata Naus ( سئن ) yang mengandung arti “pergerakan atau dinamisme”. Merujuk pada asal kata al- Insan dapat kita pahami bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki potensi yang positif dalam tumbuh serta berkembang secara fisik maupun mental spiritual. Di samping itu, manusia juga diberikan dengan jumlah potensi lain, yang berpeluang untuk mendorong dirinya ke arah tindakan, sikap, serta prilaku yang negatif dan merugikan. (Mualimin,2017)
c. Konsep An- Nas ( سبنلا )
Kosa kata An- Nas dalam Al- Qur‟an umumnya dihubungkan dengan fungsi manusia sebagai makhluk sosial. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang bermasyarakat, yang berawal dari pasangan laki-laki dan wanita kemudian berkembang menjadi suku dan bangsa untuk saling kenal mengenal “berinterksi”. (Mualimin,2017)





BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas  dapat disimpulkan bahwa teori evolusi memunculkan beberapa konsekuensi yang dapat mempengaruhi pandangan terhadap asal-usul kehidupan, dalam beberapa penganut teori evolusi berpendapat bahwa mahluk hidup tercipta sebagai akibat dari peristiwa kebetulan dan muncul dengan sendirinya dari kondisi alamiah dan berevolusi dari satu spesies ke spesies lain melalui berbgai peristiwa yang terjadi secara acak. Tetapi hal tersebut belum dapat diuktikan kebenarannya dan blum dapat menjawab bantahan dan kritikan terhadap teori tersebut sehingga evolusi tidak benar-benar terjadi.
B.     SARAN
Dalam menerima suatu ilmu pengetahuan hendaknya kita lebih mendalami kembali informasi yang telah kita dapatkan sehingga tidak terjadinya kesalahan konsep dalam mengkaji suatu ilmu















DAFTAR PUSTAKA
Hidayat,samsul.2017. SACRED SCIENCE vs. SECULAR SCIENCE: Carut Marut Hubungan Agama dan Sains.STAIN: Pontianak
Hodgson. Geoffrey M.2017. Understanding Organizational Evolution: Toward a Research Agenda using Generalized Darwinism. University of Hertfordshire, UK
Helmi.2017. EVOLUSI ANTAR SPECIESn(LELUHUR SAMA DALAM PERSPEKTIF PARA PENENTANG). Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Djuanda Bogor
Luthfi.M.J,dkk.2005.Agama dan Evolusi:Konflik atu Kompromi. Fakult Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga.
Mualimin.2017. Konsep Fitrah Manusia  dan Implikasinya dalam Pendidikan Islam. Universitas Negeri Lampung
Saragi.2015. Ancaman Evolusionis Terhadap Pendidikan Kristen. Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta
Yahya, Harun.2002. Menyibak Tabir Evolusi. Global Cipta Publishing,: Jakarta








Pengertian, Klasifikasi, Biosintesis dan Isolasi Terpenoid

Terpenoid = Isoprenoid
Terpenoid adalah kelompok terbesar dari metabolit sekunder tumbuhan, merupakan aneka produk tumbuhan yang mempunyai beberapa sifat umum lipid dengan satuan rumus bangun lima-karbon.
Umumnya berperan sebagai anti-hero orang karena bersifat toksik (racun) untuk mencegah pemakanan oleh serangga dan mamalia.
Lima subkelas utama terpenoid :
1. Monoterpen
2. Sesquiterpen
3. diterpen
4. Triterpen
5. Polyterpen

Klasifikasi terpenoid
Hemiterpen : tersusun dari 1 unit Isopren
Monoterpen : tersusun dari 2 unit Isopren
Sesquiterpen : tersusun dari 3 unit Isopren
Diterpen : tersusun dari 4 unit Isopren
Triterpen : tersusun dari 6 unit Isopren

Biosintesis terpen
1 . Sintesis prekursor dasar IPP
2. Penggabungan berulang IPP membentuk seri phenyl diphosphat yang homolog yang berperan sebagai prekursor intermediate
3. Dilanjutkan oleh enzim terpenoid sintase spesifik sehingga menghasilkan rangka terpenoid
4. Modifikasi enzimatik sekunder (umumnya reaksi redoks) menghasilkan gugus fungsional dan ragam yang banyak

Biosintesis IPP
melalui jalur asam mevalonat : 3 mol asetil CoA bergabung membentuk asam mevalonat, yang selanjutnya mengalami pyrophosporylasi, dekarboksilasi dan dehidrasi menghasilkan IPP ( unit 5 karbon pembentuk terpen) dari intermediate glikolisis melalui jalur deoxyxylulose menghasilkan IPP
1 hemiterpen contoh Isopren gas yang dihasilkan jaringan fotosintesis
2. Monoterpen contoh pyrethroid yang terdapat pada bunga dan daun chrysantemum mempunyai aktivitas insektisida yang sangat. Kuat
3. Sesquiterpen sebagian besar dijumpai dalam bentuk minyak essential
4 diterpen contoh resin pada konfer dan leguminosea
5.triterpen contoh cardenolid ( dari tanaman digitalis) mempunyai efek dramatis pada otot jantung (sudah digunakan untuk pengobatan penyakit jantung)
Digitalis bekerja ditubuh dengan cara menghalangi fungsi enzim natrium-kalium ATPase sehingga meningkatkan kadar kalsium didalam sel-sel otot jantung.

ISOLASI TERPENOID
menggunakan metode yang bervariasi
1. Metode press dapat digunakan untuk senyawa organik yang ingin diperoleh dengan kuantitas yang cukup banyak
2. Solektasi dan maserasi.












LAPORAN PRAKTIKUM BIOSTATISTIKA
ACARA 9
 RANCANGAN ACAK LENGKAP
 











                                                       Disusun oleh:
Dimas Wahyu  Indrata (1501070011)







PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
Sabtu, 12 Mei 2018
RANCANGAN ACAK LENGKAP
A.    TUJUAN
1.      Mengetahui  langkah-langkah Uji RAL melalui program SPSS.
2.      Mengetahui pengaruh berbagai macam varietas terhadap kemampuan reproduksi lada.
3.      Mengetahui varietas lada dengan kemampuan reproduksi tertinggi dan terendah

B.     DASAR TEORI
Menurut Mattjik dan Sumertajaya (2000) merupakan jenis rancangan percobaan yang paling sederhana. Pada umumnya, rancangan ini biasa digunakan untuk jenis percobaan yang memiliki media atau lingkungan percobaan yang seragam atau homogen.
Rancangan acak lengkap merupakan jenis rancangan percobaan yang dimana,  perlakuan diberikan secara acak kepada seluruh unit yang akan dilakukan percobaan. Hal ini dapat dilakukan karena lingkungan tempat percobaan diadakan relatif homogen sehingga media atau tempat percobaan ini tidak memberikan pengaruh berarti pada respon yang diamati.
Rancangan acak lengkap memiliki beberapa karakteristik, Karakteristik yang perlu diketahui ketika melakukan percobaan dengan model rancangan acak lengkap yakni keragaman atau variasi hanya disebabkan oleh perlakuan yang diuji cobakan pada suatu unit percobaan dan perlakuan tersebut merupakan tingkatan-tingkatan dari suatu faktor tertentu. Sementara itu faktor-faktor di luar perlakuan (faktor lingkungan) pada unit percobaan sedapat mungkin dikondisikan sama (homogen) sedangkan penempatan perlakuan pada unit percobaan dilakukan secara acak (random) (Harjosuwono dkk, 2011).
Terdapat beberapa kentungan dan kerugian menggunakan rancangan acak lengkap, yaitu :
1.      Denah perancangan percobaan mudah dibuat.
2.      Analisis statistik terhadap unit percobaan sederhana.
3.      Sangat fleksibel dalam hal jumlah penggunaan, perlakuan, serta pengulangan.
Selain itu rancangan acak lengkap memiliki kelemahan yakni apabila digunakan dalam kasus yang tidak tepat. Kerugian yang akan timbul dari penggunaan rancangan acak lengkapyakni semakin banyak perlakuan yang diuji cobakan, maka semakin sulit pula usaha untuk menyediakan unit percobaan yang homogen. Oleh karena itu rancangan model ini hanya cocok untuk rancangan dengan jumlah perlakuan dan pengulangan yang relatif sedikit.(Harjosuwono dkk, 2011)
Dalam suatu rancangan acak lengkap, data yang dianalisis statistika dikatakan sah dan valid apabila data tersebut didapat dari suatu percobaan yang memenuhi tiga prinsip dasar. Prinsip ini diperlukan untuk memprediksi kevalid dari suatu galat percobaan dan usaha meminimumkan galat percobaan guna meningkatkan ketelitian percobaan.
Menurut Mattjik & Sumertajaya (2006), tiga prinsip dasar tersebut antara lain :
a.       Ulangan
Ulangan adalah pengalokasian suatu perlakuan tertentu terhadap beberapa unit percobaan pada kondisi yang seragam (Homogen). (Mattjik & Sumertajaya, 2006). Pengulangan dilakukan dengan tujuan antara lain:
1)     Menduga ragam dari galat percobaan.
2)     Menduga galat baku (standard error) dari rata-rata perlakuan.
3)     Meningkatkan ketepatan percobaan.
4)     Memperluas presisi kesimpulan percobaan, yaitu melalui pemilihan dan penggunaan satuan-satuan percobaan yang lebih bervariasi.
b.      Pengendalian Lingkungan (Local Control)
Pengendalian lingkungan adalah suatu usaha untuk mengendalikan suatu keragaman yang muncul akibat keheterogenan kondisi suatu lingkungan. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengendalikan suatu lingkungan antara lain yakni dengan melakukan pengelompokan (blocking) satu arah, dua arah, maupun multi arah (banyak arah). Pengelompokan dikatakan baik jika keragaman di dalam suatu kelompok lebih kecil dari pada keragaman antar kelompok. Untuk mencapai hal itu maka kelompok yang dibentuk harus tegak lurus dengan arah keragaman unit percobaan (Mattjik & Sumertajaya, 2006).
c.       Pengacakan
Pengacakan diperlukan guna rancangan percobaan yang dilakukan terhindar dari suatu pengaruh subjektivitas karena dalam penelitian ilmiah diperlukan logika dan objektivitas. Dengan melakukan pengacakan maka setiap unit percobaan memiliki peluang yang sama untuk mendapatkan suatu perlakuan tertentu. Pengacakan perlakuan pada unit-unit percobaan dapat dilakukan dengan menggunakan tabel bilangan acak, sistem lotere, atau dengan bantuan software komputer (Harjosuwono dkk, 2011).
Langkah –langkah perhitungan rancangan acak lengkap : (Harjosuwono dkk, 2011).
1.      Hipotesis
Sebelum melakukan proses analisa data hasil pengamatan terlebih dahulu perlu dirumuskan hipotesis agar jelas maksud dan tujuan percobaan yang dilakukan
2.      Analisis data
Untuk menganalisa data dari suatu rancangan acak lengkap akan dilakukan sidik ragam berdasar tabulasi data
3.      Menghitung jumlah kuadrat perlakuan
4.      Menghitung jumlah kuadrat galat
5.      Menghitung kuadrat tengah perlakuan
6.      Menghitung kuadrat tengah galat
7.      Menyimpulkan hasil analisa
Jika didapatkan nilai Fhitung < Ftabel, maka H0 diterima pada level nyata α, artinya perlakuan tidak memberikan pengaruh nyata terhadap respon yang diamati. Begitu pula sebaliknya, jika nilai Fhitung > Ftabel, maka H0 ditolak pada level nyata α, artinya perlakuan memberikan pengaruh yang nyata terhadap respon yang diamati.
C.    ALAT DAN BAHAN
Alat:
1.      Laptop
2.      Alat tulis
3.      Buku petunjuk praktikum Biostatistika
4.      Stop kontak
Bahan :
1.      Data hasil penelitian (hasil produksi biji lada per hektar).
2.      Program aplikasi SPSS versi 23

D.    CARA KERJA
1.      Menyiapkan data yang akan diuji
Sebuah penelitian telah dilakukan untuk mengetahui kemampuan berproduksi varietas lada. Varietas-varietas yang dilakukan pengujian antara lain yakni varietas Wilis, Lokon, Galunggung, Malabar, dan Slamet. Tempat percobaan merupakan tanah kering yang dianggap homogen. Uji yang akan digunakan yakni uji Rancangan Acak Lengkap. Masing-masing perlakuan diulang 4 kali. Hasil biji per hektar sebagai berikut:

Varietas
Hasil Biji (Ku/Ha)
1
2
3
4
V1
7.65
6.80
7.92
6.98
V2
5.88
6.40
6.80
6.08
V3
9.29
10.73
10.00
9.17
V4
7.92
8.54
7.46
7.09
V5
10.50
10.19
10.88
10.94
Keterangan :
V1 = Varietas Wilis
V2 = Varietas Lokon
V3 = Varietas Galunggung
V4 = Varietas Malabar
V5 = Varietas Slamet
2.      Menyusun tabel persiapan uji F dalam MS Word agar memudahkan entri data pada worksheet Data View SPSS. Terlebih dahulu memberi kode 1 untuk V1, kode 2 untuk V2, kode 3 untuk V3, kode 4 untuk V4, dan kode 5 untuk V5. Menyusun tabel persiapan uji data hasil penelitian sebagai berikut.
Tabel 1. Tabel persiapan uji
Varietas
Hasil Biji (Ku/Ha)
1
7.65
1
6.80
1
7.92
1
6.98
2
5.88
2
6.40
2
6.80
2
6.08
3
9.29
3
10.73
3
10.00
3
9.17
4
7.92
4
8.54
4
7.46
4
7.09
5
10.50
5
10.19
5
10.88
5
10.94

3.      Membuka program SPSS Versi 23
4.      Memasukan data yang telah disusun ke SPSS dalam worksheet Data View dengan cara memblok tabel persiapan uji yang telah disusun dalam MS Word (Tabel. 1) kemudian menekan Ctrl+C pada keyboard. Pada worksheet Data View SPSS arahkan kursor pada baris 1 dan kolom var pertama dan menekan Ctrl+V sehingga akan nampak sajian data dalam worksheet Data View sebagai berikut:
5.      Membuka worksheet variabel view dengan mengklik Variabel View dibagian pojok kiri bawah. Mengubah VAR00001 dengan “Varietas” dan VAR00002 dengan “Hasil_Biji” pada kolom “NAME”. Selanjutnya mengubah desimal pada kolom “Decimale”, jumlah desimal pada baris pertama diubah menjadi 0 dan pada baris kedua tetap 2. Sehingga dalam worksheet Variabel View akan tampak tampilan seperti berikut:
6.      Memberikan label pada kolom Value baris pertama dengan cara mengklik baris pertama pada kolom Values dan akan muncul kotak dialog Value Labels. Memberi label pada kotak dialog tersebut seperti langkah-langkah berikut:
-          Ketik 1 pada kolom value, ketik V1 pada kolom label, kemudian klik Add
-          Ketik 2 pada kolom value, ketik V2 pada kolom label, kemudian klik Add
-          Ketik 3 pada kolom value, ketik V3 pada kolom label, kemudian klik Add
-          Ketik 4 pada kolom value, ketik V4 pada kolom label, kemudian klik Add
-          Ketik 5 pada kolom value, ketik V5 pada kolom label, kemudian klik Add
Sehingga dalam kotak dialog Value Labels tampak seperti berikut
Mengklik OK untuk menutup kotak dialog Value Labels
7.      Mengarahkan kursor pada menubar dan klik menu Analyze, memilih sub menu Compere Mean dan pilih One Way Anovna dengan cara mengkliknya.
Selanjutnya akan muncul kotak dialog One-Way Anova seperti dibawah ini
8.      Pada kotak dialog One-Way Anova variabel Hasi_Biji dipindahkan ke kolom dependent dan variabel Varietas dipindahkan pada kolom Factor.


9.      Menklik Post Hoc untuk melakukan uji lanjut, maka akan muncul kotak dialog One-Way Anova : Post Hoct Multiple Comparison. Pada kotak dialog tersebut memilih metode LDS dan Ducan dengan taraf kepercayaan 95% (α=5%).

Klik countinue untuk menutup kotak dialog One-Way Anova : Post Hoct Multiple Comparison
10.  Pda kotak dialog One-Way Anova, klik menu option dan akan muncul kotak dialog One-Way Anova : Option. Pilih deskriptif dan kemudian mengklik Countinu untuk menutup kotak dialog One-Way Anova : Option
11.  Klik OK pada kotak dialog One-Way Anova sehingga akan keluar hasil uji analisis data sstatistiknya.

12.  Menginterpretasikan data hasil uji analisis data statistk.

E.     HASIL ANALISIS UJI STATISTIK RAL
Tabel 1. Descriptive
Descriptives
HASIL BIJI 

N
Mean
Std. Deviation
Std. Error
95% Confidence Interval for Mean
Minimum
Maximum
Lower Bound
Upper Bound
V1
4
7,8075
,70320
,35160
6,6886
8,9264
6,98
8,68
V2
4
6,2900
,40183
,20091
5,6506
6,9294
5,88
6,80
V3
4
9,7975
,72154
,36077
8,6494
10,9456
9,17
10,73
V4
4
7,7525
,62521
,31261
6,7576
8,7474
7,09
8,54
V5
4
10,6275
,35075
,17537
10,0694
11,1856
10,19
10,94
Total
20
8,4550
1,67897
,37543
7,6692
9,2408
5,88
10,94

Pada pengujian RAK menunjukkan bahwa varietas 1ada menunjukkan bahwa masing-masing perlakuan terdiri dari 4 ulangan dan jumlah kasus sebanyak 20. Rata-rata untuk varieatas 1 (V1)  adalah 7,8075 dengan standar deviasi 0,70320 dengan standar error 0,35160 dan lower bound 6,6886 dan upper bound 8,9264 dengan nilai maksimum 8,68 dan nilai minimum 6,98, varieatas 2 (V2)  adalah 6,2900 dengan standar deviasi 0,40183 dengan standar error 0,20091 dan lower bound 5,6506 dan upper bound 6,9294 dengan nilai maksimum 6,80 dan nilai minimum 5,88, varieatas 3 (V3)  adalah 9,7975 dengan standar deviasi 0,72154 dengan standar error 0,36077 dan lower bound 8,6494 dan upper bound 10,9456 dengan nilai maksimum 10,739 dan nilai minimum 9,17, varieatas 4 (V4)  adalah 7,752 dengan standar deviasi 0,62521 dengan standar error 0,35160 dan lower bound 6,7576 dan upper bound 8,7474 dengan nilai maksimum 8,54 dan nilai minimum 7,09, varieatas 5 (V5)  adalah 10,6275 dengan standar deviasi 0,35075 dengan standar error 0,17537 dan lower bound 10,0694 dan upper bound 11,1856 dengan nilai maksimum 10,94 dan nilai minimum 10,19, hasil tersebut dapat dilihat pada tabel 1. Descriptive

Tabel 2. Hasil Uji ANOVA
ANOVA
HASIL BIJI 

Sum of Squares
df
Mean Square
F
Sig.
Between Groups
48,488
4
12,122
35,853
,000
Within Groups
5,072
15
,338


Total
53,560
19



Penentuan 1 : untuk mengetahui varian sama atau berbeda
Jika sig. < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima
Jika sig. > 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak
Ho : perlakuan mempunyai varian yang sama
Ha : perlakuan mempunyai varian yang tidak sama atau berbeda

Penentuan 2 : adanya beda nyata atau tidak
Ho : terdapat beda nyata antar perlakuan
Ha : tidak ada perbedaan nyata antar perlakuan
Jika sig. < 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak
Jika sig. > 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima

Nilai F 35,853 ditentukan dg tabel F. Tabel F = 3,06
Apabila F hitung > F tabel maka menunjukkan bahwa variabel bebas atau X berpengaruh terhadap variabel terikat atau Y
Apabila F hitung < F tabel maka menunjukkan bahwa variabel bebas atau X tidak berpengaruh terhadap variabel terikat atau Y
Berdasarkan pengujian hasil biji dg nilai sg. 0,000 untuk penentuan 1 nilai sig < dari 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti perlakuan mempunyai nilai yang tidak sama atau berbeda kemudian penentuan 2 nilai sig < 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak  yang berarti terdapat beda nyata antar perlakuan. Nilai F 35,853 ditentukan dg tabel F. Tabel F = 3,06 dari data tersebut  F hitung > F tabel maka menunjukkan bahwa variabel bebas atau X berpengaruh terhadap variabel terikat atau Y

Tabel 3. M Comparisons
Multiple Comparisons
Dependent Variable:   HASIL BIJI 

(I) VARIETAS
(J) VARIETAS
Mean Difference (I-J)
Std. Error
Sig.
95% Confidence Interval

Lower Bound
Upper Bound
LSD
V1
V2
1,51750*
,41116
,002
,6411
2,3939
V3
-1,99000*
,41116
,000
-2,8664
-1,1136
V4
,05500
,41116
,895
-,8214
,9314
V5
-2,82000*
,41116
,000
-3,6964
-1,9436
V2
V1
-1,51750*
,41116
,002
-2,3939
-,6411
V3
-3,50750*
,41116
,000
-4,3839
-2,6311
V4
-1,46250*
,41116
,003
-2,3389
-,5861
V5
-4,33750*
,41116
,000
-5,2139
-3,4611
V3
V1
1,99000*
,41116
,000
1,1136
2,8664
V2
3,50750*
,41116
,000
2,6311
4,3839
V4
2,04500*
,41116
,000
1,1686
2,9214
V5
-,83000
,41116
,062
-1,7064
,0464
V4
V1
-,05500
,41116
,895
-,9314
,8214
V2
1,46250*
,41116
,003
,5861
2,3389
V3
-2,04500*
,41116
,000
-2,9214
-1,1686
V5
-2,87500*
,41116
,000
-3,7514
-1,9986
V5
V1
2,82000*
,41116
,000
1,9436
3,6964
V2
4,33750*
,41116
,000
3,4611
5,2139
V3
,83000
,41116
,062
-,0464
1,7064
V4
2,87500*
,41116
,000
1,9986
3,7514
*. The mean difference is significant at the 0.05 level.
Berdasarkan hasil analisis uji LSD pada tabel multiple comparisons menjukkan bahwa Pengujian antara var 1 dan v2 nilai signya 0,002. Vari 1 dg var 3 nilai signya 0,000 . Var 1 dg var 4 nilai signya 0,895. Var 1 dg v 5 nilai signya 0,000. Var 2 dg v 3 nilai signya 0,000. Var 2 dg v 4 nilai signya 0,003. Var 2 dg v 5 nilai signya 0,000. Var 3 dg v 4 nilai signya 0,000. Var 3 dg v 5 nilai signya 0,062. Var 4 dg v 5 nilai signya 0,000.
Dari tabel diatas untuk mengetahui apakah ada beda nyata atau tidak
Ho : terdapat beda nyata antar perlakuan
Ha : tidak ada perbedaan nyata antar perlakuan
Jika sig. < 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak
Jika sig. > 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima
·         Antar v1 dan v2 nilai sig 0,002 dianalisis berdasarkan nilai probablitas. Nilai probablitas yang digunakan adalah 0,05. Dari hasl tersebut nilai sig. 0,002 < 0,005 maka Ho diterima dan Ha ditolak yang artinya ada perbdaan nyata antar perlakuan
·         Antar v1 dan v3 nilai sig 0,000 dianalisis berdasarkan nilai probablitas. Nilai probablitas yang digunakan adalah 0,05. Dari hasl tersebut nilai sig. 0,000 < 0,005 maka Ho diterima dan Ha ditolak yang artinya ada perbdaan nyata antar perlakuan
·         Antar v1 dan v4 nilai sig 0,895 dianalisis berdasarkan nilai probablitas. Nilai probablitas yang digunakan adalah 0,05. Dari hasl tersebut nilai sig. 0,895 > 0,005 maka Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya tidak ada perbedaan nyata antar perlakuan
·         Antar v1 dan v5 nilai sig 0,000 dianalisis berdasarkan nilai probablitas. Nilai probablitas yang digunakan adalah 0,05. Dari hasl tersebut nilai sig. 0,00o < 0,005 maka Ho diterima dan Ha ditolak yang artinya ada perbdaan nyata antar perlakuan
·         Antar v2 dan v3 nilai sig 0,000 dianalisis berdasarkan nilai probablitas. Nilai probablitas yang digunakan adalah 0,05. Dari hasl tersebut nilai sig. 0,000 < 0,005 maka Ho diterima dan Ha ditolak yang artinya ada perbdaan nyata antar perlakuan
·         Antar v2 dan v4 nilai sig 0,003 dianalisis berdasarkan nilai probablitas. Nilai probablitas yang digunakan adalah 0,05. Dari hasl tersebut nilai sig. 0,003 < 0,005 maka Ho diterima dan Ha ditolak yang artinya ada perbdaan nyata antar perlakuan
·         Antar v2 dan v5 nilai sig 0,000 dianalisis berdasarkan nilai probablitas. Nilai probablitas yang digunakan adalah 0,05. Dari hasl tersebut nilai sig. 0,000 < 0,005 maka Ho diterima dan Ha ditolak yang artinya ada perbdaan nyata antar perlakuan
·         Antar v3 dan v4 nilai sig 0,000 dianalisis berdasarkan nilai probablitas. Nilai probablitas yang digunakan adalah 0,05. Dari hasl tersebut nilai sig. 0,000 < 0,005 maka Ho diterima dan Ha ditolak yang artinya ada perbdaan nyata antar perlakuan
·         Antar v3 dan v5 nilai sig 0,062 dianalisis berdasarkan nilai probablitas. Nilai probablitas yang digunakan adalah 0,05. Dari hasl tersebut nilai sig. 0,062 > 0,005 maka Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya tidak ada perbedaan nyata antar perlakuan
·         Antar v4 dan v5 nilai sig 0,000 dianalisis berdasarkan nilai probablitas. Nilai probablitas yang digunakan adalah 0,05. Dari hasl tersebut nilai sig. 0,000 < 0,005 maka Ho diterima dan Ha ditolak yang artinya ada perbdaan nyata antar perlakuan

Tabel 4. Hasil Biji
HASIL BIJI

VARIETAS
N
Subset for alpha = 0.05

1
2
3
Duncana
V2
4
6,2900


V4
4

7,7525

V1
4

7,8075

V3
4


9,7975
V5
4


10,6275
Sig.

1,000
,895
,062
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 4,000.
Berdasarkan hasil pengujian duncan dapat diliat pada tabel diatas bahwa pada perlakuan V1 meningkatkan hasil panen biji lada sebesar 7,8075 kuintal/ha. Pada perlakuan V2 dapat meningkatkan hasil panen biji lada sebesar 6,2900 kuintal/ha. Pada perlakuan V3 dapat meningkatkan hasil panen biji lada sebesar 9,7975. Pada perlakuan V4 dapat meningkatkan hasil panen biji lada sebesar 7,7525 kuintal/ha. Pada perlakuan V5 dapat meningkatkan hasil panen biji lada sebesar 10,6275 kuintal/ha.
Jadi dapat dilihat variets lada yang memiliki kemampuan produksi biji terbesar  adalah varietas 5 dengan jumlah produksi sebesar 10,6275 kuintal/hektar dan untuk varietas kedelai yang memiliki kemampuan produksi biji terendah adalah varietas 2 dengan jumlah produksi sebesar 6,2900 kuintal/hektar. Dari data tersebut hasil produksi yang paling tertinggi hingga terendah dapat diurutkan yakni V5 = 10,6275, V3=9,7975, V1= 7,8075, V4= 7,7525, V2= 6,2900
F.     PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan yakni uji rancangan acak lengkap dengan menggunakn program SPSS versi 23. Percobaan ini dilakuan dengan tujun untuk mengetahui  langkah-langkah Uji RAL melalui program SPSS, mengetahui pengaruh berbagai macam varietas terhadap kemampuan reproduksi lada., mengetahui varietas lada dengan kemampuan reproduksi tertinggi dan terendah terhadap beberapa perlakuan. Dalam percobaan ini menggunakan uji Rancangn Acak Lengkap, Rancangan acak lengkap merupakan jenis rancangan percobaan yang dimana,  perlakuan diberikan secara acak kepada seluruh unit yang akan dilakukan percobaan.
Berdasarkan hasil uji yang telah dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 23 diketahui bahwa terdapat adanya pengaruh macam varietas lada terhadap hasil produksi biji lada. Pada tabel Descriptive, terdapat nilai rata-rata (mean), standar deviasi dan penyimpangan kesalahan (standar error) dari masing-masing varietas lada. Masing-masing varietas terdiri dari 4 kali ulangan dengan jumlah kasus 20. Dari semua varietas lada menunjukkan nilai rata-rata dengan standar defiasi yang berbeda pula.
Hipotesis ANOVA
Penentuan 1 : untuk mengetahui varian sama atau berbeda
Jika sig. < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima
Jika sig. > 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak
Ho : perlakuan mempunyai varian yang sama
Ha : perlakuan mempunyai varian yang tidak sama atau berbeda

Penentuan 2 : adanya beda nyata atau tidak
Ho : terdapat beda nyata antar perlakuan
Ha : tidak ada perbedaan nyata antar perlakuan
Jika sig. < 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak
Jika sig. > 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima

Nilai F 35,853 ditentukan dg tabel F. Tabel F = 3,06
Untuk menentukan cara membaca F tabel igunakan langkah-langkah sebagai berikut
F pembilang (df1) = k (banyaknya varietas) -1à 5-1= 4
F penyebut (df2 )= n (total hasil biji semua varietas) - k à 19-4=15
Apabila F hitung > F tabel maka menunjukkan bahwa variabel bebas atau X berpengaruh terhadap variabel terikat atau Y
Apabila F hitung < F tabel maka menunjukkan bahwa variabel bebas atau X tidak berpengaruh terhadap variabel terikat atau Y
Berdasarkan pengujian hasil biji dg nilai sg. 0,000 untuk penentuan 1 nilai sig < dari 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti perlakuan mempunyai nilai yang tidak sama atau berbeda kemudian penentuan 2 nilai sig < 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak  yang berarti terdapat beda nyata antar perlakuan. Nilai F 35,853 ditentukan dg tabel F. Tabel F = 3,06 dari data tersebut  F hitung > F tabel maka menunjukkan bahwa variabel bebas atau X berpengaruh terhadap variabel terikat atau Y
Berdasarkan tabel multiple comparisons, varietas yang memiliki perbedaan yang nyata adalah sebagai berikut:
1.      Perlakuan V1 dengan V2, berbeda nyata karena sig. 0,02 < 0,05
2.      Perlakuan V1 dengan V3, berbeda nyata karena sig. 0,000 < 0,05
3.      Perlakuan V1 dengan V4, tidak berbeda nyata karena sig. 0,895 > 0,05
4.      Perlakuan V1 dengan V5, berbeda nyata karena sig. 0,000 < 0,05
5.      Perlakuan V2 – V3, berbeda nyata karena sig. 0,000 < 0,05
6.      Perlakuan V2 – V4, berbeda nyata karena sig. 0,003 < 0,05
7.      Perlakuan V2 – V5, berbeda nyata karena sig. 0,000 < 0,05
8.      Perlakuan V3 – V4, berbeda nyata karena sig. 0,000 < 0,05
9.      Perlakuan V3- V5, tidak berbeda nyata karena sig. 0,062 > 0,05
10.  Perlakuan V4- V5, berbeda nyata karena sig. 0,000< 0,05
Hasil analisis yang muncul pada tabel homogeneus subsets digunakan untuk mengetahui macam varietas lada yang memiliki kemampuan produksi biji terendah hingga tertinggi. Berdasarkan hasil interpretasi yang telah dilakukan terhadap tabel homogeneus subsets, maka Varietas lada yang memiliki kemampuan produksi biji terbesar  adalah varietas 5 dengan jumlah produksi 10,6275 kuintal/hektar dan untuk varietas kedelai kemampuan produksi biji terendah adalah varietas 2 dengan jumlah produksi 6,2900 kuintal/hektar. Dari data tersebut hasil produksi yang paling tertinggi hingga terendah dapat diurutkan yakni V5 = 10,6275, V3=9,7975, V1= 7,8075, V4= 7,7525, V2= 6,2900
Pada penghitungan uji RAL dengan menggunakan uji F ini dilkukan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan perlakuan yang dicobakan. Jika Ho diterima berarti semua perlakuan yang dicobakan memberikan pengaruh yang sama, tetapi jika Ha yang diterima berarti paling sedikit terdapat sepasang nilai tengah perlakuan yang berbeda. Untuk mengetahui pasangan perlakuan mana yang mempunyai nilai tengah yang berbeda, maka harus dilakukan pengujian lanjutan. Uji lanjutan yang digunakan adalah uji LCD (Least Significance Different) dan uji Duncan. Tujuan dilkukannya Uji duncann adalah untuk mengetahui hasil uji beda nyata dengan metode Duncan pada RAL faktorial. Apabila hasil yang diperoleh menunjukkan hasil tau data yang signifikan maka Ha diterima dan Ho ditolak , maka dapat disimpulkan data tersebut ke dalam uji beda nyata guna mengetahui lebih lanjut letak perbedaan spesifik dari data.
Pemiliihan Uji LSD  karena Uji LSD bekerja lebih teliti, apabila perlakuan yang akan diperbandingkan sebelumnya telah direncanakan, sehingga sering juga dikenal sebagai suatu uji perbandingan terencana. Pengujian dilakukan berdasarkan dua nilai baku (α) pembanding terhadap perbedaan rata-rata, yaitu LSD(α=5%) atau taraf kepercayan 95% dan LSD(α=1%) tau taraf kpercyaan 99%, yang diperoleh dengan mengalikan nilai t-sudent dengan nilai galat baku rerata deviasi (Sδ).





G.    KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penghitungan hasil analisis rancangan percobaan RAL dengan menggunakan SPSS dapat disimpulkan bahwa:
1.      Rancangan acak lengkap merupakan jenis rancangan percobaan yang dimana,  perlakuan diberikan secara acak kepada seluruh unit yang akan dilakukan percobaan.
2.      Uji ducan berfungsi untuk mengetahui hasil uji beda nyata dengan metode Duncan pada RAL faktorial.
3.       Tabel Analisis of Variace (ANOVA) ini bertujuan untuk menguji apakah semua populasi mempunyai rata-rata yang sama
4.      Uji LSD lebih teliti apabila perlakuan yang akan diperbandingkan sebelumnya telah direncanakan.
5.      Pengujian yang dilakukan adalah dengan uji F yang dilanjutkan dengan menggunakan uji duncan dan uji LSD (Least Significance Different)
6.       Untuk varietas kacang kedelai kemampuan produksi biji terbesar adalah varietas 5 dengan jumlah produksi 10,6275 kuintal/hektar
7.      Varietas kacang kedelai yang memiliki kemampuan produksi biji terendah adalah varietas 2 dengan jumlah produksi 6,2900 kuintal/hektar
8.      Hasil produksi yang paling tertinggi hingga terendah dapat diurutkan yakni V5 = 10,6275, V3=9,7975, V1= 7,8075, V4= 7,7525, V2= 6,2900
9.      Langkah-langkah uji RAL terdiri dari :
a)      Hipotesis
b)      Analisis data
c)      Menghitung jumlah kuadrat perlakuan
d)     Menghitung jumlah kuadrat galat
e)      Menghitung kuadrat tengah perlakuan
f)       Menghitung kuadrat tengah galat
g)      Menyimpulkan hasil analisa




DAFTAR PUSTAKA
Mattjik AA, Sumertajaya IM. 2006. Perancangan Percobaan, dengan Aplikasi
SAS dan Minitab. Edisi kedua. Bogor: IPB Press.
Harjosuwono, B. A., Arnata, I. W. & Puspawati, G. A. K. D.2011. Rancangan
Percobaan Teori, Aplikasi SPSS dan Excel. Malang: Lintas Kata
Publishing
Sastrosupadi.2000. Rancangan Percobaan Praktis Bidang Pertanian.
Yogyakarta: Kanisius.
Siswani, Dini Mulia.2017.Petunjuk Praktikum Biostatistika.Purwokerto:UMP


















LAMPIRAN 1 OUTPUT UJI RAL SPSS
Tabel 1. Descriptive
Descriptives
HASIL BIJI 

N
Mean
Std. Deviation
Std. Error
95% Confidence Interval for Mean
Minimum
Maximum
Lower Bound
Upper Bound
V1
4
7,8075
,70320
,35160
6,6886
8,9264
6,98
8,68
V2
4
6,2900
,40183
,20091
5,6506
6,9294
5,88
6,80
V3
4
9,7975
,72154
,36077
8,6494
10,9456
9,17
10,73
V4
4
7,7525
,62521
,31261
6,7576
8,7474
7,09
8,54
V5
4
10,6275
,35075
,17537
10,0694
11,1856
10,19
10,94
Total
20
8,4550
1,67897
,37543
7,6692
9,2408
5,88
10,94

Tabel 2. Hasil Uji ANOVA
ANOVA
HASIL BIJI 

Sum of Squares
df
Mean Square
F
Sig.
Between Groups
48,488
4
12,122
35,853
,000
Within Groups
5,072
15
,338


Total
53,560
19




Tabel 3. M Comparisons
Multiple Comparisons
Dependent Variable:   HASIL BIJI 

(I) VARIETAS
(J) VARIETAS
Mean Difference (I-J)
Std. Error
Sig.
95% Confidence Interval

Lower Bound
Upper Bound
LSD
V1
V2
1,51750*
,41116
,002
,6411
2,3939
V3
-1,99000*
,41116
,000
-2,8664
-1,1136
V4
,05500
,41116
,895
-,8214
,9314
V5
-2,82000*
,41116
,000
-3,6964
-1,9436
V2
V1
-1,51750*
,41116
,002
-2,3939
-,6411
V3
-3,50750*
,41116
,000
-4,3839
-2,6311
V4
-1,46250*
,41116
,003
-2,3389
-,5861
V5
-4,33750*
,41116
,000
-5,2139
-3,4611
V3
V1
1,99000*
,41116
,000
1,1136
2,8664
V2
3,50750*
,41116
,000
2,6311
4,3839
V4
2,04500*
,41116
,000
1,1686
2,9214
V5
-,83000
,41116
,062
-1,7064
,0464
V4
V1
-,05500
,41116
,895
-,9314
,8214
V2
1,46250*
,41116
,003
,5861
2,3389
V3
-2,04500*
,41116
,000
-2,9214
-1,1686
V5
-2,87500*
,41116
,000
-3,7514
-1,9986
V5
V1
2,82000*
,41116
,000
1,9436
3,6964
V2
4,33750*
,41116
,000
3,4611
5,2139
V3
,83000
,41116
,062
-,0464
1,7064
V4
2,87500*
,41116
,000
1,9986
3,7514
*. The mean difference is significant at the 0.05 level.

Tabel 4. Hasil Biji
HASIL BIJI


VARIETAS
N
Subset for alpha = 0.05


1
2
3

Duncana
V2
4
6,2900



V4
4

7,7525


V1
4

7,8075


V3
4


9,7975

V5
4


10,6275

Sig.

1,000
,895
,062

Means for groups in homogeneous subsets are displayed.

a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 4,000.




Varietas
Hasil Biji (Ku/Ha)

1
2
3
4

V1
7.65
6.80
7.92
6.98

V2
5.88
6.40
6.80
6.08

V3
9.29
10.73
10.00
9.17

V4
7.92
8.54
7.46
7.09

V5
10.50
10.19
10.88
10.94





























LAMPIRAN 2 DATA HASIL PENELITIAN
Varietas
Hasil Biji (Ku/Ha)
1
2
3
4
V1
7.65
6.80
7.92
6.98
V2
5.88
6.40
6.80
6.08
V3
9.29
10.73
10.00
9.17
V4
7.92
8.54
7.46
7.09
V5
10.50
10.19
10.88
10.94





RPP BAKTERI SMA

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)                         Nama Sekolah        :           SMA Mata Pelajaran         :       ...

Translate

Powered By Blogger