MAKALAH PENGANTAR PENDIDIKAN PERGURUAN KEBANGSAAN TAMAN SISWA


MAKALAH PENGANTAR PENDIDIKAN
PERGURUAN KEBANGSAAN TAMAN SISWA





Disusun oleh :

           





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2015
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dengan tema “Perguruan Kebangsaan Taman Siswa” yang insyaAllah dengan baik. Adapun penyusunan makalah ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh nilai mata kuliah Pengantar Pendidikan kami di perguruan tinggi Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Terima kasih kepada Allah SWT yang telah memberi segalanya dalam tugas ini, kepada orang tua kami, dosen pembimbing kami dan teman-teman yang kami sayangi.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna dan banyak terdapat kekurangan, karena keterbatasan kemampuan dan pengalaman kami. Oleh karena itu, kami harapkan adanya saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan ini.
Akhir kata, kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb



Purwokerto, 5 Januari 2016


Kelompok Enam


DAFTAR ISI

Cover........................................................................................................................ 1
Kata Pengantar......................................................................................................... 2
Daftar Isi.................................................................................................................. 3
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................... 4
A.    Latar Belakang............................................................................................. 4
B.     Tujuan Penulisan.......................................................................................... 4
BAB II ISI............................................................................................................... 5
A.    Berdirinya Taman Siswa.............................................................................. 5
B.     Reaksi Pemerintah Kolonial......................................................................... 7
C.     Lingkungan dan Sua Sana Pendidikan........................................................ 9
D.    Taman Siswa Setelah Kemerdekaan.......................................................... 11
E.     Ungkapan KiHajar Dewantara................................................................... 12
F.      Ciri Khas Taman Siswa.............................................................................. 13
BAB III PENUTUP.............................................................................................. 14
A.    Kesimpulan................................................................................................ 15
Daftar Pustaka....................................................................................................... 16


I.                   PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Taman siswa adalah sekolah yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara pada tanggal 3 juli 1922 di jogyakarata (taman berarti tempat bermain dan tempat belajar, siswa mempunyai arti murid). Pada waktu pertama kali didirikan, sekolah ini diberi nama “National Onderwijs Institut Taman Siswa”, dan direlisasikan bersama-sama dengan teman-teman beliau di paguyuban Sloso Kliwon. Taman Siswa adalah badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat yang menggunakan pendidikan dalam arti luas untuk mencapai cita-citanya. Bagi Taman Siswa, pendidikan bukanlah tujuan tetapi media untuk mencapai tujuan perjuangan, yaitu mewujudkan manusia Indonesia yang merdeka lahir dan batinnya. Merdeka lahiriah artinya tidak dijajah secara fisik, ekonomi, politik, dsb; sedangkan merdeka secara batiniah adalah mampu mengendalikan keadaan.
Keanekaragaman masyarakat  Indonesia sangat  luas saat ini, hal ini meliputi dari segi cara dan gaya hidup, cara berpikir, prinsip dan dari segi kehidupan yang sangat berbeda  antara satu dengan yang lain. Akan tetapi hal ini tidak seharusnya menghambat kita sebagai masyarakat yang saling melengkapi dengan berbagai macam ajaran yang dapat saling menyatukan kita sebagai bangsa Indonesia yang utuh. Hal ini dapat mendukung masyarakat untuk saling membantu antara satu dengan yang lain maka dengan ini akan tercipta masyarakat yang mempunyai tujuan yang sama demi membangun kehidupan yang adil, damai, makmur dan sejahterah.

B.     Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah :
1.      Mahasiswa dapat mengetahui riwayat berdirinya Pendidikan Taman Siswa.
2.      Mahasiswa dapat mengetahui asas dan tujuan Pendidikan Taman Siswa.
3.      Mahasiswa dapat mengetahui upaya yang dilakukan oleh Pendidikan Taman Siswa.
4.      Mahasiswa dapat mengetahui hal-hal yang dicapai oleh dicapai oleh Pendidikan Taman Siswa.


II.                ISI
Berbicara Taman Siswa tidak bisa lepas dari pendirinya yaitu Raden Mas Soewardi Soeryaningrat atau yang biasa di kenal dengan Ki Hajar Dewantara. Beliau mendirikan Taman Siswa bertujuan untuk pendidikan pemuda Indonesia dan juga sebagai alat perjuangan bagi rakyat Indonesia. Tujuan Taman Siswa adalah membangun anak didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, merdeka lahir batin, luhur akal budinya, cerdas dan berketerampilan, serta sehat jasmani dan rohaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air, serta manusia pada umumnya. Meskipun dengan susunan kalimat yang berbeda namun tujuan pendidikan Taman Siswa ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional.

A. Berdirinya Taman Siswa
Tamansiswa berdiri pada 3 Juli 1922, pendirinya adalah Raden Mas Soewardi Soeryaningrat atau yang biasa dikenal dengan Ki Hajar Dewantara. Awal pendirian Taman Siswa diawali dengan ketidakpuasan dengan pola pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial, karena jarang sekali negara kolonial yang memberikan fasilitas pendidikan yang baik kepada negara jajahannya. Seperti yang dikatakan oleh ahli sosiolog Amerika “pengajaran merupakan dinamit bagi sistem kasta yang dipertahankan dengan keras di dalam daerah jajahan”.

Gambar: Ki Hajar Dewantara


Oleh sebab itu  maka didirikanlah Taman Siswa. Dengan proses berdirinya Taman Siswa Ki Hajar Dewantara telah mengesampingkan pendapat revolusioner pada masa itu, tetapi dengan seperti itu secara langsung usaha Ki Hajar merupakan lawan dari politik pengajaran kolonial. Lain dari pada itu kebangkitan bangsa-bangsa yang dijajah dan perlawanan terhadap kekuasaan kolonial umumnya disebut dengan istilah nasionalisme atau paham kebangsaan menuju kemerdekaan.
Taman Siswa mencita-citakan terciptanya pendidikan nasional, yaitu pendidikan yang beralas kebudayaan sendiri. Dalam pelaksanaannya pendidikan Taman Siswa akan mengikuti garis kebudayaan nasional dan berusaha mendidik angkatan muda di dalam jiwa kebangsaan.
      Pendidikan Taman Siswa dilaksanakan berdasarkan Sistem Among, yaitu suatu sistem pendidikan yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan kodrat alam dan kemerdekaan. Dalam sistem ini setiap pendidik harus meluangkan waktu sebanyak 24 jam setiap harinya untuk memberikan pelayanan kepada anak didik sebagaimana orang tua yang memberikan pelayanan kepada anaknya. Sistem Among tersebut berdasarkan cara berlakunya disebut Sistem Tut Wuri Handayani. Dalam sistem ini orientasi pendidikan adalah pada anak didik, yang dalam terminologi baru disebut Student Centered. Di dalam sistem ini pelaksanaan pendidikan lebih didasarkan pada minat dan potensi apa yang perlu dikembangkan pada anak didik, bukan pada minat dan kemampuan apa yang dimiliki oleh pendidik. Apabila minat anak didik ternyata keluar “rel” atau pengembangan potensi anak didik di jalan yang salah maka pendidik berhak untuk meluruskannya.
Gambar: Logo Taman Siswa


      Untuk mencapai tujuan pendidikannya, Taman Siswa menyelanggarakan kerja sama yang selaras antar tiga pusat pendidikan yaitu lingkungan keluarga, lingkungan perguruan, dan lingkungan masyarakat. Pusat pendidikan yang satu dengan yang lain hendaknya saling berkoordinasi dan saling mengisi kekurangan yang ada. Penerapan sistem pendidikan seperti ini yang dinamakan Sistem Trisentra Pendidikan atau Sistem Tripusat Pendidikan. Pendidikan Taman Siswa berciri khas Pancadarma, yaitu Kodrat Alam (memperhatikan sunatullah), kebudayaan (menerapkan teori Trikon), Kemerdekaan (memperhatikan potensi dan minat masing-masing individu dan kelompok), Kebangsaan (berorientasi pada keutuhan bangsa dengan berbagai ragam suku), dan Kemanusiaan (menjunjung harkat dan martabat setiap orang).

B.     Reaksi Pemerintah Kolonial Terhadap TamanSiswa
Taman Siswa bisa dianggap sebagai tempat pemupukan kader masyarakat Indonesia dimasa mendatang dan yang sudah pasti akan berusaha pula untuk menumbangkan kekuasaan kolonial. Oleh karena itu pemerintah kolonial berusaha untuk menghalang-halangi perkembangan Taman Siswa khususnya, dan sekolah-sekolah partikelir umumnya. Sejak itu, Taman Siswa menghadapi perjuangan asasi, melawan politik pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1931 timbul pendapat dikalangan orang Belanda yang memperingatkan pemerintah, bahwa apabila tidak diadakan peninjauan kembali, Taman Siswa akan menguasai keadaan dalam tempo sepuluh tahun.
Pemerintah konservatif Gubernur Jenderal de jonge menyambut kegelisahan orang Belanda dengan mengeluarkan “ordonansi pengawasan” yang dimuat dalam Staatsblad no. 494 tanggal 17 September 1932. Isi dan tujuan dari ordonansi itu ialah memberi kuasa kepada alat-alat pemerintah untuk mengurus wujud dan isi sekolah-sekolah partikelir yang tidak dibiayai oleh negeri. Sekolah partikelir harus meminta izin lebih dahulu sebelum dibuka dan guru-gurunya harus mempunyai izin mengajar. Rencana pengajaran harus pula sesuai dengan sekolah-sekolah negeri, demikian juga peraturan-peraturannya. Ordonansi itu menimbulkan perlawanan umum dikalangan masyarakat Indonesia dan dimulai oleh prakarsa Ki Hajar Dewantara yang mengirimkan protes lewat telegram kepada Gubernur Jenderal di Bogor pada tanggal 1 Oktober 1932.
Pada tanggal 3 Oktober 1932 Ki Hajar Dewantara mengirimkan maklumat kepada segenap pimpinan pergerakan rakyat, dan menjelaskan lebih lanjut sikap yang diambil Taman Siswa. Aksi melawan ordonansi ini disokong sepenuhnya oleh 27 organisasi, antara lain Istri sedar, PSII, Dewan Guru Perguruan Kebangsaan di Jakarta, Budi Utomo, Paguyuban Pasundan, Persatuan Mahasiswa, PPPI, Partindo, Muhammadiyah, dan lain-lainnya. Golongan peranakan Arab dan Tionghoa juga menyokong aksi ini. Pers nasional tidak kurang menghantam ordonansi itu melalui tajuk rencananya. Mohammad Hatta sebagai pemimpin Pendidikan Nasional Indonesia, menganjurkan supaya mengorganisasi aksi yang kuat. Pada bulan Desember 1932, Wiranatakusumah, anggota Volksraad mengajukan pertanyaan pada pemerintah dan disusul pada bulan Januari 1933 dengan sebuah usul inisiatif.

        Usul inisiatif yang disokong oleh kawan-kawannya di Volksraad, berisi: menarik kembali ordonansi yang lama serta mengangkat komisi untuk merencanakan perubahan yang tetap. Budi Utomo dan Paguyuban Pasundan mengancam akan menarik wakil-wakilnya dari dewan-dewan, apabila ordonansi ini tidak dicabut pada tanggal 31 Maret 1933. Juga dikalangan para ulama aksi melawan ordonansi sekolah liar ini mendapat sambutan, terbukti dengan adanya rapat-rapat Persyarikatan Ulama di Majalengka dan Ulama-ulama Besar di Minangkabau. Pemerintah terkejut akan tekad perlawanan akan masyarakat Indonesia dan setelah mengeluarkan beberapa penjelasan dan mengadakan pertemuan dengan Ki Hajar Dewantara, akhirnya dengan keputusan Gubernur Jenderal tanggal 13 Februari 1933 ordonansi Sekolah liar diganti dengan ordonansi baru. 
Gambar: Kongres Taman Siswa Tahun 1930 di Yogyakarta

        Perlawan Taman Siswa terhadap ordonansi sekolah liar merupakan masa gemilang bagi sejarahnya, yang juga berarti mempertahankan hak menentukan diri sendiri bagi bangsa Indonesia. Sesudah itu Taman Siswa akan mengadakan lagi perlawanan terhadap peraturan pemerintah kolonial yang dapat dianggap merugikan rakyat. Pada yahun 1935 Taman Siswa mempunyai 175 cabang yang tersebar disekolahnya ada 200 buah, dari mulai sekolah rendah hingga sekolah menengah.



C. Lingkungan Dan Sua Sana Pendidikan
Lingkungan keluarga mempunyai arti dan pengaruh yang besar bagi pelaksanaan pendidikan. Ki Hadjar Dewantara sebagai seorang pendidik mengemukakan betapa pentingnya tiga pusat pendidikan, ialah alam atau lingkungan keluarga, alam perguruan dan alam pemuda, masing-masing pusat itu mempunyai tugas sendiri-sendiri, tetapi antara tiga pusat tersebut harus ada hubungannya yang rapat. Sudah barang tertentu untuk pendewasaan anak didik, sikap dan tenaga si pendidik sangat penting artinya di samping faktor lingkungan atau pusat pendidikan tertentu.

Adapun tugas tiga pusat pendidikan itu adalah sebagai
berikut:
I. Alam keluaiga, pusat pendidikan yang pertama dan yang terpenting. Tugasnya
terpenting. Tugasnya mendidik budi pekerti dan laku sosial.
2. Alam perguruan, pusat pendidikan yang berkewajiban mengusahakan kecerdasan pikiran dan memberi ilmu pengetahuan.
3. Alam pemuda, membantu pendidikan baik yang menuju kepada kecerdasan jiwa maupun budi pekerti. Sistem pendidikan yang mengemukakan adanya tiga pusat pendidikan tersebut dinamakan “sistem Tripusat”
Alam keluarga merupakan pusat pendidikan yang terpenting karena pengaruh hidup keluarga it uterus menerus dialami oleh anak-anak, lebih-lebih dalam periode “masa peka” yaitu antara usia 3 setengah tahun sampai 7 tahun. Masa peka ini merupakan waktu yang sangat penting bagi kanak-kanak. waktu itu boleh dinamakan waktu “terbukanya jiwa” kanak-kanak. Dalam itu kanak-kanak mudah menerima kesan-kesan serta pengaruh-pengaruh keluarganya. keadaann dan lingkungan keluarga sangat besar pengaruhnya terhadap tabiat dan budi pekerti anak. Sebagai contoh dapat kita bandingkan beberapa orang sarjana. Mereka mempunyai kedudukan yang sama dalam masyarakat, akan tetapi tabitatnya tidak sama. perbedaan ini selain karena faktor pembawaan, juga karena pengaruh lingkungan keluarga. Mereka yang waktu kecilnya hidup di tengah-tengah keluarga yang religious, tentu mempunyai kecintaan pada agama lebih dari pada orang-orang yang waktu kecilnya hidup di tengah-tengah keluarga yang tidak peduli terhadap agama.
            Sistem among merupakan gagasan otentik putra Indonesia, yang digali dari kerektifan local. Lebih lanjut dikatakan, sistem ini dapat menjadi unggulan dalam pendidikan di Indonesia dalam menghadapi persaingan pendidikan antar negara, bahkan dapat menjadi Niche (sistem yang khas, unggulan) dalam menghadapi persaingan global dalam dunia pendidikan. Sistem among Ki Hadjar Dewantara merupakan metode yang sesuai untuk pendidikan karena merupakan metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asah, asah dan asuh. Pendidikan sistem among bersendikan pada dua hal yaitu :
1.       Kodrat alam sebagai syarat untuk menghidupkan dan mencapai kemajuan dengan secepat-cepatnya dan kemerdekaan sebagai syarat untuk menghidupkan menggerakkan kekuatan lahir dan batin anak hingga dapat hidup mandiri. Sistem among sering dikaitkan dengan asas yang berbunyi : Tut Wuri Handayani, Ing Madya Mangun Karsa, Ing Ngarso Sung Tuladha. Asas ini telah banyak dikenal masyarat dari pada sistem among sendiri.
Tujuan dari sistem among adalah membangun anak didik untuk menjadi manusia beriman dan bertaqwa, merdeka lahir dan batin, budi pekerti luhur, cerdas dan berketrampilan, serta sehat jasmani dan rohani agar menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab atas kesejahteraan tanah air serta manusia pada umumnya. Dalam pelaksaan sistem among, setelah anak didik menguasai ilmu, mereka didorong untuk mampu memanfaatkannya dalam masyarakat, didorong oleh cipta, rasa, dan karsa.

Makna Pendidikan
Pendidikan tidak dimaknai dengan paksaan. Lebih tegas lagi dikatakan: ”…apabila kita mengetahui, bahwa sesungguhnya perkataan”opvoeding” atau “paedagogiek” itu tiadalah dapat diterjemahkan dengan bahasa kita. Panggulawentah (bahasa jawa) itu bukan member pengertian “opvoeding”, sebab panggulawentah itu hanya pekerjaannya si dukun bayi. Yang hampir semaksud yaitu perkataan kita Momong, Among, dan Ngemong” (Ki Hajar Dewantara pidato pada rapat umum Taman Siswa di Malang 2 Pebruari 1930 dalam Bagian Pertama Pendidikan, 1977: 21).
                               

Pemaknaan pendidikan yang demikian inilah yang mendasari pendidikan itu dilakukan. Caranya tidaklah menggunakan pemaksaan. Pendidik memiliki kewajiban mencampuri kehidupan anak didik jika sudah ternyata si anak berada di atas jalan yang salah.

D. Taman Siswa Setelah Kemerdekaan
Salah satu masalah yang dihadapi Taman Siswa setelah kemerdekaan ialah meninjau kembali hubungan dengan pemerintah kita sendiri, terutama dalam hal penerimaan subsidi. Di kalang perguruan tinggi, banyak perbedaan dalam menghadapi masalah ini, yaitu mereka yang dapat menerima subsidi itu dan digunakan untuk pengelolaan sekolah tapi tetap melihat berapa besar pengaruhnya agar tidak menggangu prinsip “merdeka mengurus diri sendiri” dan mereka yang beranggapan agar melepas sikap oposisi seperti pada masa kolonial karena dianggap tidak cocok saat Indonesia merdea. Pada tahun 1946, sempat ada keterbukaan untuk menghadapi masa kemerdekaan untuk merumuskan kembali sas dan dasar, namun dalam pelaksanaannya mengenai subsidi ini masih banyak yang ingin memelihara keadaan seperti yang lalu.
Di kalangan para pemimpin sedikitnya tedapat dua aliran. Yang pertama aliran yang memnginginkan Taman Siswa terlepas dari sistem pendidikan pemerintah, merupakan lembaga pendidikan yang independen, hidup dalam cita-citanya sendiri dan terus berusaha agar sebagian masyarakat menerima konsep pendidikan nasional. Caranya ialah dengan tetap mempertahankan sistem pondok yang relatif terasing dari masyarakat sekitarnya. Aliran pemikiran yang kedua ialah mereka yang berpendapat bahwa perkembangan masyarakat Indonesia baru sangat berbeda dengan keadaan zaman kolonial, oleh karena perubahan perlu dihadapi dengan pemikiran baru. Taman Siswa dapat menyumbangkan pengalaman dan keahlian untuk Menteri Pendidikan dalam usahanya mengembangkan kebijaksanaan politik pendidikan nasional.

E.     Dinding pedoman Tamansiswa
Ki Hajar Dewantara juga pernah melontarkan konsep belajar 3 dinding. Yang dimaksud belajar dengan 3 dinding bukanlah belajar dikelas dengan jumlah dinding 3 buah ( salah satu dari 4 sisi dinding tidak ada ), tetapi konsep tersebut mencerminkan tidak ada batas atau jarak antara di dalam kelas dengan realita di luar. Belajar bukan sekedar teori dan praktek disekolah, tetapi juga belajar menghadapi realitas dunia. Sekolah dan Dunia menurut konsep ini berarti tidak terpisah. Dengan itu diharapkan para guru mengajarkan ilmu teori serta praktek di dunia dan juga kepada siswa jika tidak sungkan-sungkan menanyakan apa saja hal yang tidak diketahuinya tentang dunia kepada guru mereka masing-masing. Tujuan dari konsep ini, agar para lulusan sekolah dapat mampu hidup dan bisa berbuat banyak setelah lulus dari sekolah.

F.      Ungkapan Ki Hadjar Dewantara
“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu!”

(Soewardi Soerjaningrat, “Als Ik Eens Nederlander Was”, De Express, 1913)

G.    Ajaran Kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara
Ing Ngarso Sung Tulodho artinya Ing ngarso itu didepan / dimuka, Sun berasal dari kata Ingsun yang artinya saya, Tulodo berarti tauladan. Jadi makna Ing Ngarso Sun Tulodo adalah menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi orang - orang disekitarnya. Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seseorang adalah kata suri tauladan.

Ing Madyo Mangun Karso, Ing Madyo artinya di tengah-tengah, Mangun berarti membangkitan atau menggugah dan Karso diartikan sebagai bentuk kemauan atau niat. Jadi makna dari kata itu adalah seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat . Karena itu seseorang juga harus mampu memberikan inovasi-inovasi dilingkungannya dengan menciptakan suasana yang lebih kodusif untuk keamanan dan kenyamanan.

Demikian pula dengan kata Tut Wuri Handayani, Tut Wuri artinya mengikuti dari belakang dan handayani berati memberikan dorongan moral atau dorongan semangat. Sehingga artinya Tut Wuri Handayani ialah seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Dorongan moral ini sangat dibutuhkan oleh orang - orang disekitar kita menumbuhkan motivasi dan semangat.

Jadi secara tersirat Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani berarti figur seseorang yang baik adalah disamping menjadi suri tauladan atau panutan, tetapi juga harus mampu menggugah semangat dan memberikan dorongan moral dari belakang agar orang - orang disekitarnya dapat merasa situasi yang baik dan bersahabat . Sehingga kita dapat menjadi manusia yang bermanfaat di masyarakat.

Bangsa Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara Indonesia sudah mewarisi sikap luhur pahlawan sejati dan perlu meneruskan buah pemikiran Ki Hadjar Dewantara, tentang tujuan pendidikan nasional yakni memajukan kualitas semua komponen anak bangsa secara keseluruhan. Arah tujuan hakiki bagi kemanusiaan, tanpa membeda-bedakan asal-usul, agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan sebagainya. Konsep pendidikan terpadu yang harus didasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan yang asasi.




H.    Ciri khas Tamansiswa

ü  KODRAT ALAM  (Ciri khas 1 Tamansiswa) :
Sebagai perwujudan kekuasaan Tuhan YME mengandung arti bahwa hakekat umat manusia adalah menyatu dengan alam semesta dan tidak dapat lepas dari hukum kodrat alam. Manusia akan bahagia bila menyelaraskan diri dengan kodrat alam yang mengandung segala hukum kemajuan.

Hari berganti minggu, berganti bulan, berganti tahun selalu bertambah dan tidak pernah mundur ataupun berhenti, itulah kodrat alam kuasa Illahi. Budaya manusia selalu mengalami kemajuan dan interaksi antar bangsa tak terelakkan sesuai hukum kodrat alam. Demikianlah Ki Hadjar Dewantara (KHD) memberi pedoman olah budaya bangsa dengan TRIKON (Kontinyu, Konvergen, Konsentris):

         KONTINYU : Mengolah budaya bangsa secara berkesi nambungan dari masa lalu, masa kini dan masa datang. Dari generasi ke generasi menjalin rangkaian kemajuan budaya bangsa terus menerus tiada terputus.

         KONVERGEN : Tidak menutup diri dengan perkem bangan kebudayaan dunia. Dengan adaptif memilah dan memilih budaya universal yang bermanfaat bagi memperkaya perkembangan budaya bangsa sendiri.

    KONSENTRIS : Dalam mengarungi dan menyatu dengan arus budaya universal, berpegang teguh kepada budaya sendiri memperkuat kepribadian nasional. Bangsa yang besar selalu mempunyai ciri karakter budaya bangsanya.

ü  KEMERDEKAAN (Ciri khas 2 Tamansiswa) :
         Kemerdekaan mengandung arti sebagai karunia Tuhan YME kepada manusia dengan memberikan hak untuk mengatur dirinya sendiri (zelfbeschikkingsrecht) dengan mengingati syarat tertib damainya (orde en vrede) hidup bermasyarakat. Karena itu kemerdekaan diri harus diartikan sebagai swadisiplin atas dasar nilai luhur, hak hidup sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Kemerdekaan harus menjadi dasar untuk pengembangan pribadi yang kuat dan sadar dalam suasana keseimbangan dan keselarasan pribadi yang kuat dan sadar dalam kehidupan bermasyarakat.
ü    Kebangsaan menurut Tamansiswa adalah nasionalisme yang religius, humanistis, dan kultural. Pendidikan di Tamansiswa mengupayakan terwujudnya wawasan kebangsaan seperti tersebut di atas, dengan menanamkan peradaban bangsa Indonesia.
ü    Kemanusiaan dimaksudkan sebagai penempatan manusia sesuai kodrat, harkat, dan martabatnya. Pendidikan di Tamansiswa berusaha mempertinggi kodrat, harkat, dan martabat manusia.
ü    Kebudayaan, diartikan sebagai buah budi yang bersifat indah dan luhur, dan hasil perjuangan hidup manusia menghadapi perubahan alam dan jaman yang membawa kemajuan. Pendidikan di Tamansiswa merupakan usaha kebudayaan guna memajukan hidup dan penghidupan peserta didik lahir batin, secara luhur dan indah.



III.              
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dengan dibentuknya tamansiswa telah lahir pahlawan-pahlawan yang berjuang untuk Indonesia merdeka. Selain itu, tumbuhlah kader-kader nasionalis, yang pada awal kemerdekaan perannya sangat signifikan di negeri ini. Hingga sekarang lambing Departemen Pendidikan Nasional diambil dari ikon Tamansiswa yaitu Tut Wuri Handayani.
Oleh karena itu kita sebagai generasi penerus bangsa yang berada di tengah-tengah masyarakat yang luas, hendaknya selalu berusaha menjadi pribadi yang mempunyai  prinsip dan sikap yang mencerminkan bahwa kita bisa dan harus menjadi seorang pendidik yang mendidik atas dasar ajaran dan nilai-nilai yang telah di ajarkan oleh Ki Hajar Dewantara.




Daftar Pustaka

Darsiti : 1985.Ki Hadjar Dewantara, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Kartini: 1951.Habis Gelap Terbitlah Terang, terjemaha:n Armiin Pane, cet. ke 3, Balai Pustaka, Jakarta.
K.H.· Dewantara: 1952.Kenanf(-kenangan, Dari Kebangunan nasional sampai Proklamasi Kemerdekaan, Penerbit Endang, Jakarta.
K.H. Dewantara: Masalah Kebudayaan, Kenang-kenangan promosi doctor honoris causa, ML Persatuan T s 1957.
K.H. Dewantara: Demokrasi dan Leiderschap, ML Persatuan T S cet. ke 2, 1959.


No comments:

Post a Comment

RPP BAKTERI SMA

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)                         Nama Sekolah        :           SMA Mata Pelajaran         :       ...

Translate

Powered By Blogger