HAKIKAT PENDIDIKAN



A.  Hakikat Pendidikan
      a. Pengertian Pendidikan
                        Dari segi etimologi, pendidikan berasal dari bahasa Yunani yaitu “Pedagogik” yang terdiri dari kata paedos yang berarti laki-laki dan agogos yang berarti pengantar pembimbing.
Pendidikan adalah ilmu yang mempelajari msalah membimbing anak ke arah tujuan tertentu supaya ia kelak mampu menyelesaikan tugasnya secara mandiri. Pendidikan dapat diartikan secara luas dan khusus. Pendidikan dalam arti khusus yaitu bimbingan oleh orang dewasa kepada anak untuk mencapai kedewasaan. Sedangkan pendidikan dalam arti sempit dapat diartikan pendidikan sepnjang hayat, interaksi individu dalam lingkungan sosial dan fisik.
     b.  Konsepsi Dasar Pendidikan
     Prof. Langeveld seorang ahli pedagogik dari Negeri Belanda mengemukakan batasan pendidikan, bahwa pendidikan ialah suatu bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai tujuan, yaitu kedewasaan.
     Dalam GBHN 1973, dikemukakan pengertian pendidikan bahwa pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu usaha yang disadari untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia, yang dilaksanakan di dalam maupun di luar sekolah, dan berlangsung seumur hidup.
     Ada beberapa konsepsi dasar tentang pendidikan yang akan di laksanakan, yaitu:
 1.) Bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup ( life long education ).  
 Dalam hal ini  berarti bahwa usaha pendidikan sudah dimulai sejak
  manusia itu lahir dari kandungan  ibunya sampai ia tutup usia, sepanjang ia mampu untuk menerima pengaruh dan dapat mengembangkan dirinya.
            Suatu konsekuensi dari konsep pendidikan sepanjang hayat ialah,
 bahwa pendidikan tidak identik dengan sekolah.
Pendidikan akan berlangsung dalam lingkungan keluarga, dalam   
lingkungan sekolah, dan dalam lingkungan masyarakat.
 2.) Bahwa tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersama,
 antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Pemerintah tidak boleh
   memonopoli segalanya, melainkan bersama dengan keluarga dan
  masyarakat, berusaha agar pendidikan mencapai tujuan yang telah
  ditentukan.
 3.) Bagi manusia pendidikan itu merupakan suatu keharusan, karena pen-
 didikan, manusia akan memiliki kemampuan dan kepribadian yang
 berkembang.

     c. Pendidikan Hanya Berlaku bagi Manusia
Yang sudah pasti bahwa beberapa jenis hewan tertentu dapat dilatih keterampilannya. Harimau, gajah, kuda, lumba-lumba dapat dilatih bermain sirkus, dapat dilatih untuk mengenal signal-signal tertentu; seekor anjing dapat dilatih, sehingga dapat melacak panjahat, penyelundupan narkotika, dan sebagainya. Mungkin binatang dapat mengerti sejumlah kata-kata, namun itu sekali lagi hanya merupakan signal saja, tidak sampai kepada bahasa sebagai simbol.
Dari uraian diatas jelaslah, bahwa hewan tidak dapat dididik dan tidak memungkinkan untuk dididik, sehingga tidak mungkin dapat dilibatkan dalam proses pendidikan. Hanya manusialah yang dapat dididik dan mungkin untuk menerima pendidikan, karena manusia memang dilengkapi dengan akal budinya.
Berikut adalah ciri-ciri perilaku yang hanya terdapat pada manusia dan ciri-ciri berikut sama sekali tidak dimiliki oleh hewan, yang dengan ciri-ciri itulah manusia dapat dididik, dapat memperbaiki perilakunya, dalam bentuk suatu pribadi yang utuh :
- manusia berkemauan untuk menguasai hawa nafsu
    - manusia memiliki kesadaran intelektual, ia dapat mengembangkan ilmu
   pengetahuan dan teknologi menjadikan manusia makhluk berbudaya.
  - manusia memiliki kesadaran diri, dapat menyadari sifat-sifat yang ada pada
    dirinya, manusia dapat mengadakan introspeksi.
- manusia adalah makhluk sosial, membutuhkan orang lain untuk hidup 
  bersama-sama, berorganisasi, dan bernegara.
 - manusia memiliki bahasa simbolis, baik secara tertulis maupun secara lisan.
 - manusia dapat menyadari nili-nilai (etika maupun estetika) dan dapat
         berbuat  sesuai dengan nilai-nilai tersebut, dan memiliki kata hati.

     d.  Manusia Perlu Dididik  ( Memperoleh Pendidikan )
Ada beberapa asumsi yang memungkinkan manusia itu perlu mendapatkan
     pendidikan :
1.) Manusia dilahirkan dalam keadaan tidak berdaya. Manusia begitu lahir ke
dunia, perlu mendapatkan uluran orang lain untuk dapat melangsungkan
kehidupannya.
     2.) Manusia lahir tidak langsung dewasa. Untuk sampai kepada dewasa yang
           menjadi tujuan pendidikan dalam arti khusus memerlukan waktu yang
           relatif panjang.  Untuk menuju kehidupan yang dewasa, bagi manusia perlu
  dipersiapkan, lebih-lebih pada masyarakat modern. Untuk memperoleh
           bekal itulah diperoleh dengan pendidikan, dimana orang tua atau generasi
           tua akan mewariskan pengetahuan, nilai-nilai, serta keterampilannya
           kepada anak-anaknya atau generasi penerusnya.
3.) Manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial.




      e.  Pendidikan sebagai Suatu Proses Transformasi Nilai
Pendidikan pada hakikatnya akan mencakup kegiatan mendidik, mengajar, dan melatih. Kegiatan tersebut kita laksanakan sebagai suatu usaha untuk mentransformasikan nilai-nilai. Maka dalam pelaksanaannya ketiga kegiatan tadi harus berjalan secara serempak dan terpadu, dan berkelanjutan, serta serasi dengan perkembangan anak didik serta lingkungan hidupnya.Nilai-nilai yang akan ditransformasikan itu mencakup nilai-nilai religi, nilai-nilai kebudayaan, nilai pengetahuan, dan teknologi,serta nilai keterampilan.

     Agar proses transformasi itu berjalan secara lancar, ada beberapa syarat yang
harus dipenuhi, ialah :
1.) Adanya hubungan edukatif yang baik antara pendidik dan anak didik.
Hubungan edukatif ini dapat diartikan suatu hubungan yang diliputi kasih
sayang, sehingga terjadi hubungan yang didasarkan atas kewibawaan.
   2.) Adanya metode pendidikan yang sesuai. Sesuai dengan kemampuan
pendidik, dengan materi serta tujuan yang akan dicapai, dan dengan situasi
          dan kondisi dimana pendidikan tersebut berlangsung.
3.) Adanya sarana dan perlengkapan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan.
Sarana tersebut harus didasarkan atas pengabdian terhadap anak didik, harus
disesuaikan dengan setiap nilai yang ditransformasikan.
   4.) Adanya suasana yang memadai, sehingga proses transformasi nilai-nilai
tersebut berjalan dengan wajar serta dalam suasana yang menyenangkan.

       f. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Karena itu tujuan pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan.

      1. Tujuan Pendidikan Indonesia dalam UUD 1945 no.20 Tahun 2003.
 “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.”

             g.   Proses Belajar Sepanjang Hayat
            Proses belajar berarti bagaimana seseorang melakukan suatu kegiatan jasmani rohani dalam rangka memperoleh pengetahuan baru. Pengetahuan baru itu selalu mengalami perkembangan sesuai dengan adanya kemajuan zaman. Oleh karena itu, seseorang yang selalu ingin memperoleh pengetahuan baru, seharusnya ia belajar terus sepanjang hidupnya.
            Akhir-akhir ini muncul istilah yang sesuai dengan hal tersebut, yaitu “life long education” (pendidikan seumur hidup) dan “life long learning”(belajar sepanjang hayat) . menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan dimulai sejak anak dilahirkan dan berakhir setelah ia meninggal dunia. Jadi pendidikan itu berlangsung seumur hidup. Sedangkan menurut Notonagoro  pendidikan itu dapat dimulai sejak anak itu masih dalam kenangan. Muda-mudi dapat mempersiapkan diri dengan jalan mendidik dirinya sendiri, sehingga mereka dapat menjadi bibit dan persemaian yang lebih baik, dan pendidikan itu berlangsung sepanjang hayat.
            Pendidikan lebih luas daripada menyekolahkan anak. Pendidikan dimulai  setelah anak lahir, dan akan berlangsung terus sampai manusia meninggal dunia, sepanjang dia mampu untuk menerima pengaruh-pengaruh. Oleh karena itu proses pendidikan akan berlangsung dalam keluarga, di sekolah, dan di masyarakat.


1.)Pendidikan dalam keluarga
       Keluarga ialah merupakan sekelompok manusia yang hanya terdiri dari orang tua (ibu dan ayah) dengan anak-anaknya (anak yang belum kawin). Jadi ayah dan ibu yang akan bertindak sebagai pendidik, dan anak-anak yang belum berkeluarga sebagai si terdidik. Tingkah laku anak pada waktu lahir ke dunia tidak bersifat manusiawi sesungguhnya, tetapi anak akan bersifat manusiawi dengan melalui interaksi sosial dan perjalanan sosial. Pada tahun-tahun  pertama pada umumnya di dalam keluargalah proses humanisasi berlangsung. Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang utama, berlangsung secara wajar, dan informal, serta melalui media permainan.orang tua sebagai pendidik betul-betul merupakan peletak dasar kepribadian anak. Dasar kepribadian tersebut akan bermanfaat atau berperan terhadap pengaruh-pengaru atau pengalaman-pengalaman selanjutnya, yang datang kemudian.
2.) Pendidikan di sekolah
     Usaha pendidikan di sekolah, merupakan kelanjutan dari pendidikan dalam keluarga. Sekolah ini merupakan lembaga dimana terjadi proses sosialisasi yang kedua setelah keluarga, sehingga mempengaruhi pribadi anak dan perkembangan sosialnya dan diselenggarakan secara formal. Di sekolah anak akan belajar apa yang ada di dalam kehidupan, sekolah harus mencerminkan kehidupan masyarakat sekelilingnya. Materi yang diberikan di sekolah berhubungan langsung dengan usaha pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pengembangan kecakapan-kecakapn tertentu yang langsung dapat dirasakan dalam pengisian tenaga kerja.
3.)   Pendidikan di masyarakat
       Pendidikan di masyarakat adalah pendidikan yang dilaksanakan diluar keluarga dan sekolah. Pendidikan di masyarakat merupakan suatu keharusan  akan kehadirannya terutama dalam memberikan pengetahuan dan ketrampilan khusus serta praktis yang secara langsung bermanfaat dalam kehidupan di masyarakat. Kebutuhan pendidikan di masyarakat beraneka ragam, misalnya penitipan bayi dan pendidikan anak sebelum sekolah, program persamaan, kepramukaan, kelompok pemuda tani, perkumpulan olahraga dan rekreasi, dan kursus-kursus ketrampilan.Dari uraian di atas jelaslah bahwa manusia selama hidupnya memerlukan pendidikan, hal ini terjadi karena tuntutan perkembangan sendiri. Apabila tidak mendapatkan pelayanan perkembanan tersebut tidak akan mencapai sasaran yang optimal.

2.  Unsur-Unsur Pendidikan
1.      Peserta didik
Peserta didik berstatus sebagai subjek didik. Peserta didik adalah subjek atau pribadi yang otonom, yang ingin diakui keberadaannya. Selaku pribadi yang memiliki ciri khas dan otonomi, ia ingin mengembangkn diri (mendidik diri) secara terus-menerus guna memecahkan masalah-masalah hidup yang di jumpai dalam hidupnya.
Ciri khas peserta didik yang perlu dipahami oleh pendidik ialah:
a.       Individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga merupakan insan yang unik.
Anak sejak lahir telah memiliki potensi-potensi yang ingin di kembangkan dan diaktualisasikan. Untuk mengaktualisasikannya membutuhkan bantuan dan bimbingan.
b.      Individu yang sedang berkembang
Yang dimaksud dengan perkembangan disini ialah perubahan yang terjadi dalam diri peserta didik secara wajar, baik ditujukan kepada diri sendiri maupun ke arah penyesuaian dengan lingkungan.
c.       Individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi.
Dalam proses perkembangannya peserta didik membutuhkan bantuan dan bimbingan. Hal ini menunjukkan bahwa pada diri peserta didik ada dua hal yang menggejal yaitu:
¨      Keadaannya yang tidak berdaya yang menyebabkan ia membutuhkan bantuan. Hal ini menimbulkan kewajiban orang tua untuk membantunya.
¨      Adanya kemampuan untuk mengembangkan dirinya, hal ini membutuhkan bimbingan. Orang tua berkewajiban untuk membimbingnya. Agar bantuan dan bimbingan itu mencapai hasil maka harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak.
d.      Individu yang memiliki kemampun untuk mandiri
Dalam perkembangan peserta didik ia mempunyai kemampuan untuk berkembang kearah kedewasaan. Pendidikan tidak boleh memaksa agar peserta didik berbuat menurut pola yang dikehendaki pendidik. Ini dimaksud agar peserta didik memperoleh kesempatan memerdekakan diri dan bertanggung jawab sesuai dengan kepribadiannya sendiri.
2.      Pendidik
Yang dimaksud dengan pendidik ialah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sarana peserta didik. Peserta didik mengalami dalam tiga lingkungan yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Sebab itu yang bertanggung jawab terhadap pendidikan adalah orang tua, guru, pemimpin program pembelajaran,latihan, dan masyarakat/organisasi.
Hal yang penting untuk diperhatikan pendidik ialah persoalan kewibawaan.
a)      Apa yang dimaksud dengan kewibawaan?
Pendidik harus memiliki kewibawan (kekuasaan batin pendidik) dan menghindari penggunaan kekuasaan lahir, yaitu kekuasaan yang semata-mata didasarkan kepada unsur wewenang jabatan. Kewibawaan justru merupakan sesuatu pancaran batin yang dapat menimbulkan pada pihak lain sikap untuk mengakui, menerima, dan menuruti dengan penuh pengertian atas kekuasaan tersebut
 ( Umar tirtarahardja)
b)      Bagaimana kewibaawan timbul?
Kewibaawan mendidik hanya dimiliki oleh mereka yang sudah dewasa. Yang dimaksud adalah kedewasaan rohani yang ditopang kedewasaan jasmani. Orang dewasa adalah orang yang mampu mempertanggungjawabkan segenap aktivitas yang bertalian dengan statusnya. Yang dimaksud dengan bertanggungjawab ialah kemampuan untuk menyatukan diri dengan norma-norma hidup dan meragakan dalam hidupnya. Pendidik mempunyai tugas untuk mentransformasikan norma-norma atau kewibawaan itu kepada peserta didik.
c)      Bagaimana memelihara kewibawaan?
Ibarat cahaya lampu bagaimanapun juga suatu kewibawaan dapat memudar jika tidak dirawat dan dibina. Ada tiga sendi kewibawaan menurut M.J.Langevled yang harus dibina yaitu kepercayaan,kasih sayang, dan kemampuan.
Kepercayaan
Pendidik harus percaya bahwa dirinya bisa mendidik dan juga harus percaya bahwa peserta didik dapat dididik.
Kasih sayang
Kasihsayang mengandung dua makna yakni penyerahan diri kepada yang di sayangi dan pengendalian terhadap yang disayangi.
Kemampuan
Kemampuan mendidik dapat dikembangkan melalui beberapa cara, antara lain pengkajian terhadap ilmu pengetahuan kependidikan, mengambil manfaat dari pengalaman kerja, dan lain-lain.
3.      Interaksi Edukatif
Interaksi edukatif pada dasarnya adalah  komunikasi timbal ballik antara peserta didik dengan pendidik yang terarah kepada tujuan pendidikan. Pencapain tujuan pendidikan secara optimal ditempuh melalui proses berkomunikasi intensif dengan memanipulasikan isi, metode serta alat-alat pendidikan.
4.      Materi/Isi Pendidikan
Materi ini meliputi materi inti maupun muatan lokal. Materi inti bersifat nasional yang mengandung misi pengendalian dan pemersatu bangsa. Sedangkan muatan lokal misinya adalah mengembangkan kebhinekaan kekayaan buadaya sesuai dengan kondisi lingkungan. Dengan demikian jiwa dan semangat Bhineka Tunggal Ika dapat ditumbuhkembangkan.

5.      Konteks yang Mempengaruhi Pendidikan
a.       Alat dan  Metode
Alat pendidikan yaitu langkah-langkah yang diambil/sesuatu perbuatan/situasai yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Contohnya yaitu berupa nasehat, memberi tugas, hukuman, perintah, dan lain-lain. Metode pendidikan yaitu cara yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan.
Alat pendidikan dibedakan atas yang preventif dan yang kuratif.
1)      Yang preventif, yaitu yang bermaksud mencegah terjadinya hal-hal yang tidak dikehendaki minsalnya larangan, pembatasan, peringatan bahkan juga hukuman.
2)      Yang bersifat kuratif, yaitu yang bermaksud memperbaiki, misalnya ajakan, contoh, nasihat, dorongan, pemberian kepercayaan, saran, penjelasan, bahkan juga hukuman.
      Salah satu alat pendidikan yang sangat istimewa dan bersifat khusus ialah “hukuman”. Sebabnya karena hukuman mesti menimbulkan nestapa (penderitaan), sehingga penggunaan hukuman harus dipertimbangkan dengan seksama, baru boleh digunakan manakala sudah tidak ada alat lain yang berkhasiat. Hukuman yang demikiann ini bersifat memperbaiki yaitu menjadikan si salah menyadari keesalahannya, menyesali perbuatannya, dann memperbaiki dirinya.
b.      Tempat Peristwa Bimbingan Berlangsung (lingkungan pendidikan)
Lingkungan pendidikan biasanya disebut panca pusat pendidikan, yaitu pendidikan keluarga, sekolah, masyarakat, negara, dan global.




No comments:

Post a Comment

RPP BAKTERI SMA

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)                         Nama Sekolah        :           SMA Mata Pelajaran         :       ...

Translate

Powered By Blogger