LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA
PERSILANGAN GEN TERPAUT SEKS

Oleh:
Dimas Wahyu Indrata
1501070011
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2016
Kamis, 20 Oktober 2016
PERSILANGAN GEN TERPAUT SEKS
A. Tujuan Praktikum
1.
Mengetahui persilangan yang terjadi pada kromosom seks Drosophila melanogaster.
2.
Mengetahui ratio fenotipe yang dihasilkan dari persilangan antar individu
yang memiliki gen terpaut seks.
3.
Menganalisis hasil persilangan gen terpaut seks dengan analisis Chi
Kuadrat.
B. Dasar Teori
Telah
diketahui bahwa individu itu memiliki dua macam kromosom, yaitu autosom dan
kromosom seks. Pada kromosom seks dikenali gen-gen yang terpaut di dalamnya dan
gen-gen yang terangkai pada kromosom kelamin ini disebut gen terpaut kelamin
(seks lingked gens). Sehubungan dengan adanya dua macam kromosom kelamin, yaitu
kromosom –X dan kromosom –Y, maka gen-gen terpaut seks dapat dibedakan menjadi
gen terpaut –x dan gen terpaut –y. Gen yang terpaut kromosom x tidak mempunyai
alel pada kromosom y, akibatnya penurunan gen terpaut x agak lain dibandingkan
dengan gen-gen autosom. Kerena tidak mempunyai alel pada kromosom y, maka gen
terpaut kelamin dapat menunjukkan ekspresinya walaupun dalam keadaan tunggal,
baik resesif maupun dominan.
Pada
kebanyakan kehidupan yang dapat kita bedakan jenis kelaminnya, maka kromosom
turut pula berperan dalam penentuan kelamin. Karena kromosom mengikuti pola
segregasi yang tertentu dan dapat diramalkan., maka dapat kita harapkan
penyebaran kelamin yang jelas. Umumnya individu jantan dan betina menunjukkan
perbedaan dalam salah satu pasangan kromosomnya. Pasangan kromosom yang
menyebabkan perbedaan jenis kelamin ini disebut kromosom kelamin. Pasangan kromosom
lain yang sama dalam sel kedua jenis kelamin spesies itu disebut otosom. Pada
manusia dan kebanyakan hewan, jenis kelamin keturunannya ditentukan oleh
penyebaran kromosom kelamin pada waktu terjadi fertilisasi.
Drosophila melanogaster memiliki 8 kromosom (2n)
dalam sel somatiknya dan lazimnya dikatakan mempunyai 4 pasang. Hal ini memang
benar bagi lalat betina, tetapi tidak dapat bagi lalat jantan. Pada lalat
betina terdapat 3 pasang otosom + 2 X (kromosom X). pada lalat jantan terdapat
3 pasang otosom + 1 Z + 1 Y. Jadi pada yang betina kedua kromosom X tersebut
memang berpasang-pasangan, sedangkan pada yang jantan kromosom X tak mempunyai
pasangan karena kromosom Y bukan
homolognya (mengandung gen-gen lain).
Adanya
rangkai kelamin, mula-mula ditemukan oleh T.H Morgan dalam percobannya
menggunakan lalat buah Drosophila
melanogaster dengan memperhatikan warna matanya. lalat yang normal bermata
merah, tetapi diantara sekian banyak lalat bermata merah, Ia mendapatkan lalat
jantan bermata putih. Karena berbeda dengan lalat normal maka lalat bermata
putih disebut mutan.
Morgan
segera mengawinkan lalat buah jantan bermata putih dengan lalat buah betina
bermata normal. Ia memperoleh semua lalat F1 baik jantan maupun betina bermata
normal. Ketika sesama F1 dikawinkan, diperoleh keturunan F2 yang memperlihatkan
perbandingan yang menyimpang. Dari semua F2 didapat 3 per 4-nya bermata normal,
sedangkan seperempat-nya bermata putih. Kecuali itu, lalat yang bermata merah
adalah betina, sedangkan yang jantan setengahnya bermata normal dan setengahnya
bermata putih.
Berdasarkan
hasil di atas, Morgan mengambil kesimpulan bahwa generasi yang menentukan warna
putih itu rupa-rupanya hanya memperlihatkan pengaruhnya pada lalat jantan saja.
Lagipula gen yang menentukan warna mata tersebut terdapat pada kromosom x.
andaikata gen yang menentukan warna putih itu adalah “w”.
C. Alat dan Bahan
1.
Alat:
a.
Botol kultur
b.
Sumbat botol (spons)
c.
Cawan petri
d.
Botol berpipet yang berisi eter
e.
Botol eterisasi
f.
Kuas kecil
g.
Styrofoam
h.
Botol pembunuh berisi detergen
2.
Bahan:
a.
Stok Drosophila melanogaster
b.
Medium
c.
Eter
d.
Detergen
e.
Air
D. Cara Kerja
1.
Menyediakan dua jenis Drosophila
melanogaster (jantan dan betina).
2.
Mengosongkan dua botol kultur tersebut sehingga yang terdapat di dalam
botol hanya berupa larva dan pupa.
3.
Melakukan persilangan dari kedua botol kultur tersebut.
4.
Mengeluarkan kedua parental dari botol tersebut setelah 7-8 hari.
5.
Mengambil sejumlah keturunan F1 dari botol kemudian dipindahkan
ke botol kultur yang baru.
6.
Mengeluarkan induk dari kultur setelah 7-8 hari.
7.
Menghitung masing-masing genotype F2 selama 2 minggu atau
setelah diperoleh 200 ekor.
8.
Memasukkan hasil pengamatan dalam tabel.
9.
Setelah mengetahui jumlah mutan yang diamati, membuat hipotesis atau
jawaban sementara mengenai jenis mutan serta jenis kelamin pariental dari F2 tersebut.
10.
Kemudian menghitung kemungkinan dengan analisis Chi Kuadrat.
11.
Selanjutnya membuat bagan persilangan monohibrid dari Drosophila melanogaster.
12.
Menyimpulkan apakah kemungkinan sesuai dengan Hukum Mendel atau tidak
sesuai dengan Hukum Mendel.
E. Hasil Pengamatan
Nomor Botol : S74
Perbandingan menggunakan
analisis Chi Kuadrat.
Ho:
Data yang diperoleh mempunyai rasio ♂ Normal: ♂ Black: ♂ White: ♂ White Black:
♀ Normal: ♀ Black: ♀ White: ♀ White Black = 3: 1: 3 : 1: 3: 1: 3: 1.
Ha:
Data yang diperoleh tidak mempunyai rasio ♂ Normal: ♂ Black: ♂ White: ♂ White
Black: ♀ Normal: ♀ Black: ♀ White: ♀ White Black = 3: 1: 3 : 1: 3: 1: 3: 1.
|
|
♂ (Jantan)
|
♀ (Betina)
|
Jumlah (n)
|
||||||
|
Normal
|
Black
|
White
|
White Black
|
Normal
|
Black
|
White
|
White Black
|
||
|
Jumlah individu yang diamati (ft)
|
43
|
10
|
33
|
13
|
41
|
12
|
40
|
12
|
204
|
|
Jumlah individu yang diharapkan (Ft)
|
=38,25
|
=12,75
|
=38,25
|
=12,75
|
=38,25
|
=12,75
|
=38,25
|
=12,75
|
204
|
Derajat kebebasan (dk) = k – 1
= 8 – 1
= 7
Dari perhitungan diperoleh
hasil sebagai berikut.
X2 = 
=
+
+
+
+
+
+
+ 
=
+
+
+
+
+
+
+ 
=
+
+
+
+
+
+
+ 
=
+
+
+
+
+
+
+ 
=
+
+
+
+
+
+
+ 
=

=
2,274
Bagan
Persilangan
♂ w
= White
Rasio perbandigan fenotipe ♂ Normal: ♂ Black: ♂ White: ♂
White Black: ♀ Normal: ♀ Black: ♀ White: ♀ White Black = 3: 1: 3 : 1: 3: 1: 3: 1.
Kesimpulan:
Jika dibandingkan dengan tabel chi
kuadrat, maka hasil tersebut lebih kecil dibandingkan dengan tabel, sehingga
menerima hipotesis nol pada taraf kepercayaan 95% artinya perilangan tersebut
sesuai dengan Hukum Mendel.
F. Pembahasan
Praktikum kali ini,
dilakukan pengamatan mengenai persilangan gen terpaut seks pada lalat buah
yaitu Drosophila melanogaster. Pada
pengamatan ini praktikan diberi F2 dari Drosophila melanogaster dimana mutan-mutan dipelihara di dalam
botol kultur dan dikeluarkan dari botol-botol itu setelah 7 sampai 8 hari.
Setelah dikeluarkan, kemudian dilakukan perhitungan jumlah mutan tersebut dan
selanjutnya ditentukan jenis mutan dan jenis kelamin parental dari mutan-mutan
yang telah diketahui.
Berdasarkan pengamatan yang
telah dilakukan, jenis-jenis mutan beserta jenis kelamin mutan pada botol
kurtur nomor S74 terdiri dari 8 macam
lalat dengan dua jenis kelamin dari lalat-lalat tersebut, 8 macam diantaranya yaitu
berjenis jantan normal, jantan black, jantan
white, jantan white black, betina normal, betina black, betina white dan betina
white black. Dari perhitungan, lalat yang berjenis jantan normal berjumlah 43 ekor, lalat yang berjenis jantan
black berjumlah 10 ekor, lalat berjenis jantan white berjumlah 33 ekor, lalat
berjenis jantan white black berjumlah 13 ekor, lalat yang berjenis betina
normal berjumlah 41 ekor, lalat yang berjenis betina black berjumlah 12 ekor,
lalat berjenis betina white berjumlah 40 ekor dan lalat yang berjenis betina
white black berjumlah 12 ekor dengan total keseluruhan mutan yang dikeluarkan
selama kurang lebih 8 hari berjumlah 204 ekor. Dengan hasil tersebut, dapat
diketahui bahwa lalat normal dan white baik jantan maupun betina memiliki rasio
tertinggi daripada jenis lainnya yang ada pada pengamatan. Persilangan antara
lalat jantan black dengan betina white dihasilkan keturunan F1 yaitu betina normal
dan jantan white. Sedangkan jika keturunan F1 disilangkan, menghasilkan
keturunan normal, white, black, dan white black. Presentase yang diperoleh
yaitu betina maupun jantan normal 18,75%, betina maupun jantan white 18,75%,
betina maupun jantan black 6,25%, dan betina
maupun jantan white black 6,25% Pada bagan yang telah dibuat, rasio
perbandingan fenotipenya yaitu ♂ Normal: ♂ Black: ♂ White: ♂ White Black: ♀
Normal: ♀ Black: ♀ White: ♀ White Black = 3: 1:
3 : 1: 3: 1: 3: 1. Gen yang
terletak pada kromosom kelamin tidak mempunyai alel pada kromosom Y (karena
memang bukan homolognya) oleh sebab itu penurunan gen terpaut kelamin pada
jenis kelamin yang mempunyai kromosom Y (XY atau X0).
Dari hasil tersebut kemudian
dilakukan perhitungan dengan menggunakan teknik analisis Chi Kuadrat. Hasil
analisis dapat diketahui bahwa
kemungkinan yang diperoleh adalah 2,274
dengan derajat kebebasannya adalah 7. Hal ini menunjukkan bahwa hasil
tersebut lebih kecil dibandingkan dengan tabel Chi Kuadrat dan hipotesis sesuai
dengan Hukum Mendel atau tidak menyimpang dari Hukum Mendel. Berikut ini adalah
indikator yang menunnjukkan hipotesis sesuai dengan Hukum Mendel.
|
|
P
|
||||||||
|
DF
|
0,995
|
0,975
|
0,20
|
0.10
|
0.50
|
0.025
|
0.02
|
0.01
|
0.005
|
|
1
|
0,0000393
|
0,000982
|
1.642
|
2.706
|
3.841
|
5.024
|
5.412
|
6.635
|
7.879
|
|
2
|
0,0100
|
0,0506
|
3.219
|
4.605
|
5.991
|
7.378
|
7.824
|
9.210
|
10.597
|
|
3
|
0,0717
|
0,216
|
4.642
|
6.251
|
7.815
|
9.348
|
9.837
|
11.345
|
12.838
|
|
4
|
0,207
|
0,484
|
5.989
|
7.779
|
9.488
|
11.143
|
11.668
|
13.277
|
14.860
|
|
5
|
0,412
|
0,831
|
7.289
|
9.236
|
11.070
|
12.833
|
13.388
|
15.086
|
16.750
|
|
6
|
0.676
|
1.237
|
8.558
|
10.645
|
12.592
|
14.449
|
15.033
|
16.812
|
18.548
|
|
7
|
0.989
|
1.690
|
9.803
|
12.017
|
14.067
|
16.013
|
16.622
|
18.475
|
20.278
|
Keterangan: Angka 2,274
berada di antara kedua angka yang berada dikolom kuning.
G. Kesimpulan
Berdasarkan
pengamatan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut.
1.
Sehubungan dengan adanya dua macam kromosom kelamin, yaitu kromosom –X
dan kromosom –Y, maka gen-gen terpaut seks dapat dibedakan menjadi gen terpaut
–x dan gen terpaut –y.
2.
Drosophila melanogaster memiliki 8 kromosom (2n)
dalam sel somatiknya dan lazimnya dikatakan mempunyai 4 pasang
3.
Pada lalat buah betina terdapat 3 pasang otosom + 2 X (kromosom X). pada
lalat jantan terdapat 3 pasang otosom + 1 Z + 1 Y.
4.
Kedua parental dari mutan-mutan di botol kultur S74 adalah berjenis ♀ White
dan ♂ Black.
5.
Dari bagan persilangan gen terpaut seks pengamatan Drosophila melanogaster, fenotipenya yaitu ♂ Normal: ♂ Black: ♂
White: ♂ White Black: ♀ Normal: ♀ Black: ♀ White: ♀ White Black = 3: 1: 3 : 1: 3: 1: 3: 1.
6.
Pada percobaan persilangan dihibrid
Drosophila melanogaster, dengan analisis Chi Kuadrat diperoleh kemungkinan
2,274 dengan derajat kebebasan adalah 7 dan menunjukkan bahwa persilangan
tersebut sesuai dengan Hukum Mendel.
H. Daftar Pustaka
Kiauw
Nio, Tjan. 1991. Genetika Dasar.
Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Kusumawati,
Rohana. 2013. Biologi. Klaten: Intan
Pariwara.
Sisunandar.
2016. Penuntun Praktikum Genetika.
Purwokerto: Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

No comments:
Post a Comment