makalah permasalahan PENDIDIKAN


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Permasalahan Pendidikan. Dan juga kami berterima kasih pada Ibu Arum Adita selaku Dosen mata kuliah pengantar pendidikan UMP yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
       Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai permasalahan di dalam dunia pendidikan dan cara penanganannya. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
      

Purwokerto, Oktober 2015





Penyusun









DAFTAR ISI

Kata Pengantar..............................................................................................1
Daftar isi ......................................................................................................................2
Bab I Pendahuluan
1.     Latar Belakang....................................................................................3
2.     Tujuan ................................................................................................3
Bab II Isi
1.     Permasalahan Pokok Pendidikan .......................................................4
2.     Jenis-Jenis Permasalahan Pokok Pendidikan .....................................5
3.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Berkembangnya masalah pendidikan ........................................................................................12
4.     Permasalahan Aktual Pendidikan dan Penanggulangannya ............15
Bab III Penutup
1.     Kesimpulan.......................................................................................18
2.     Saran.................................................................................................19
Daftar Pustaka ............................................................................................20




BAB I
PENDAHULUAN

Ø  LATAR BELAKANG
Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Derap langkah pembangunan selalu diupayan seirama dengan tuntunan zaman. Perkembangan zaman selalu memunculkan tantangan-tantangan baru, yang sebagiannya sering tidak dapat di ramalkan sebelumnya. Sebagai konsekuensi logis, pendidikan selalu dihadapkan pada masalah-masalah baru. Masalah yang dihadapi dunia pendidikan itu demikian luas, pertama karena sifat sasarannya yaitu manusia sebagai makhluk misteri, kedua karena usaha pendidikan  harus mengantisipasi ke hari depan yang tidak segenap seginya terjangkau oleh kemampuan daya ramal manusia. Oleh karena itu, perlu anda rumusan sebagai masalah-masalah pokok yang dapat dijadikan pegangan oleh pendidik dalam mengemban tugasnya.
Ø  TUJUAN
1)      Mengetahui permasalahan pokok pendidikan
2)      Mengetahui jenis-jenis permasalahan pokok pendidikan
3)      Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan permasalahan pendidikan
4)      Mengatahui permasalahan aktual pendidikan dan penanggulangannya









BAB II
ISI

A.   Permasalahan Pokok Pendidikan
Sistem pendidikan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sosial budaya dan masyarakat sebagai suprasistem. Pembangunan sistem pendidikan tidak mempunyai arti apa-apa jika tidak sinkron dengan pembangunan nasional. Kaitan yang erat antara bidang pendidikan sebagai sistem dengan sistem sosial budaya sebagai suprasistem tersebut dimana sistem pendidikan menjadi bagiannya,menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga permasalahan intern sistem pendidikan itu menjadi sangat kompleks. Artinya, suatu permasalahan intern dalam sistem pendidikan selalu ada kaitan dengan masalah-masalah di luar sistem pendidikan itu sendiri. Misalnya masalah mutu hasil belajar suatu sekolah tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial budaya dan ekonomi masyarakat disekitarnya, dari mana murid-murid sekolah tersebut berasal, serta masih banyak lagi faktor-faktor lainnya di luar sistem persekolahan yang berkaitan dengan mutu hasil belajar tersebut.
Pada dasarnya ada dua masalah pokok yang dihadapi oleh dunia pendidikan di tanah air kita dewasa ini, yaitu :
a.       Bagaimana semua warga negara dapat menikmati kesempatan pendidikan
b.      Bagaimana pendidikan dapat membekali peserta didik dengan ketrampilan kerja yang mantap untuk dapat terjun ke dalam kancah kehidupan bermasyarakat.
Yang pertama mengenai masalah pemerataan, dan yang kedua adalah masalah mutu,relevansi,dan juga efisiensi pendidikan.






B.   Jenis-jenis Permasalahan Pokok Pendidikan
Seperti  telah dikemukakan pada bagian A, pada bagian ini akan dibahas empat masalah pokok pendidikan yang telah menjadi kesepakatan nasional yang perlu diprioritaskan penanggulangannya. Masalah yang dimaksud yaitu :
1)      Masalah pemerataan pendidikan
2)      Masalah mutu pendidikan
3)      Masalah efisiensi pendidikan
4)      Masalah relevansi pendidikan
Pembahasan atas masalah diatas yaitu sebagai berikut
a)      Masalah Pemerataan Pendidikan
Dalam melaksanakan fungsinya sebagai wahana untuk memajukan bangsa dan kebudayaan nasional,pendidikan nasional diharapkan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh warga negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan.
Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembangunan sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan.
Masalah pemerataan pendidikan timbul apabila masih banyak warga negara khususnya anak usia sekolah yang tidak dapat ditampung di dalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilitas pendidikan yang tersedia.
Masalah pemerataan memperoleh pendidikan dipandang penting sebeb jika anak-anak usia sekolah memperoleh kesempatan belajar pada SD maka mereka memiliki bekal dasar berupa kemampuan membaca,menulis, dan berhitung sehingga mereka dapat mengikuti perkembangan kemajuan melalui berbagai media massa dan sumber belajar yang tersedia baik mereka itu nantinya berperan sebagai produsen maupun konsumen. Dengan demikian mereka tidak terbelakang dan menjadi penghambat derap pembangunan.
Oleh karena itu, dengan melihat tujuan yang terkandung dalam upaya pemerataan pendidikan tersebut yaitu menyiapkan masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam pembangunan, maka setelah pelaksanaaan upaya pemerataan pendidikan terpenuhi, mulai diperhatikan juga upaya pemerataan mutu pendidikan. Hal ini akan dibicarakan pada butir tentang masalah mtu pendidikan.
Khusus untuk pendidikan formal atau pendidikan persekolah yang berjenjang dan tiap-tiap jenjang memiliki fungsinya masing-masing maupun kebijaksanaan memperoleh kesempatan pendidikan pada tiap jenjang itu diatur dengan memperhitungkan faktor-faktor kuantitatif dan kualitatif serta relevansi yang selalu ditentukan proyeksinya secara terus menerus dengan seksama.
Pada jenjang pendidikan dasar, kebijaksanaan penyediaan memperoleh kesempatan pendidikan didasarkan atas pertimbangan faktor kuantitatif karena seluruh warga negara perlu diberikan bekal dasar yang sama. Pada jenjang pendidikan menengah dan terutama pada jenjang pendidikan tinggi, kebijakan pemerataan pendidikan didasarkan atas pertimbangan kualitatif dan relevansi, yaitu minat dan kemampuan anak, keperluan tenaga kerja, dan keperluan pengembangan masyarakat, kebudayaan, ilmu, dan teknologi. Agar tercapai keseimbangan antara faktor minat dengan kesempatan memperoleh pendidikan, perlu diadakan penerangan yang seluas-luasnya mengenai bidang-bidang pekerjaan dan keahlian dan persyaratannya yang dibutuhkan dalam pembangunan, utamanya bagi bidang-bidang yang baru dan langka.
Khusus melalui jalur pendidikan luar sekolah usaha pemerataan pendidikan mengalami perkembangan pesat. Ada dua faktor yang menunjang yaitu perkembangan iptek yang menawarkan berbagai macam alternatif, dan dianutnya konsep pendidikan sepanjang hidup yang tidak membataso pendidikan hanya sampai pada usia tertentu dan tidak terbatas hanya pada penyediaan sekolah.
Perkembangan iptek menawarkan beraneka ragam alternatif model pendidikan yang dapat memperluas pelayanan kesempatan belajar. Dilihat dari segi waktu belajarnya bervariasi dari beberapa jam, hari, minggu, bulan, sampai tahunan. Melalui proses tatap muka,melalui media massa atau jarak jauh. Isinya berupa paket terbatas ataukah himpunan sejumlah paket. Sumber belajarnya manusia,barang cetak elektronik, sampai pada lingkungan alam.
Banyak macam pemecahan masalah yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan pemerataan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkah ditempuh melalui cara konvensional dan cara inovatif.
·         Cara Konvensional antara lain:
1.      Membangun gedung sekolah seperti SD Inpres dan atau ruangan belajar
2.      Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore)

·         Cara Inovatif antara lain:
1.      Sistem Pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau Inpact System (intructional Management by Parent, Comunity and Teacher). Sistem tersebut dirintis di Solo dan diseminasikan ke beberapa provinsi.
2.      SD kecil pada daerah terpencil
3.      Sistem Guru Kunjung
4.      SMP Terbuka (ISOSA – In School Out off School Approach)
5.      Kejar Paket A dan B
6.      Belajar Jarak Jauh seperti Universitas Terbuka

b)      Masalah Mutu Pendidikan
Mutu pendidian dipermasalahkan jika hasilpendidikan belum mencapai taraf seperti yang diharapkan. Penetapan mutu hasil pendidikan pertama dilakukan oleh lembaga penghasil sebagai produsen tenaga terhadap calon luaran, dengan sistem sertifikasi. Selanjutnya jika luaran tersebut terjun ke lapangan kerja penilaian dilakukan oleh lembaga pemakai sebagai konsumen tenaga sistem tes untuk kerja (performance test). Lazimnya sesudah itu masih dilakukan pelatihan/pemagangan bagi calon untuk penyesuaian dengan tuntutan persyaratan kerja di lapangan.
Jadi mutu pendidikan pada akhirnya dilihat pada kualitas keluarannya. Jika tujuan pendidikan nasional dijadikan kriteria, maka pertanyaannya adalah: Apakah keluaran dari suatu sistem pendidikan menjadikan pribadi yang bertaqwa,mandiri dan berkarya, anggota masyarakat yang sosial dan bertanggung jawab, warganegara yang cinta kepada tanah air dan memiliki rasa kesetiakawanan sosial. Dengan kata lain apakah keluaran itu mawujudkan diri sebagai manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya dan membangun lingkungannya. Kualitas luaran seperti itu disebut nurturant effect. Meskipun disadari bahwa pada hakikatnya produk dengan ciri-ciri seperti itu tidak semata-mata hasil dari sistem pendidikan itu sendiri. Tetapi jika terhadap produk seperti itu sistem pendidikan dianggap mempunyai andil yang cukup, yang tetap menjadi persoalan ialah bahwa cara pengukuran mutu produk tersebut tidak mudah. Berhubung dengan sulitnya pengukuran terhadap produk tersebut maka jika orang berbicara tentang mutu pendidikan, umumnya hanya mangasosiasikan dengan hasil belajar yang dikenal sebagai hasil EBTA,Ebtanas,atau hasil Sipenmaru, UMPTN (yang biasa disebut instructional effect), karena ini yang mudah diukur. Hasil EBTA dan lain-lain tersebut itu dipandang sebagai gambaran tentang hasil pendidikan.
Padahal hasil belajar yang bermutu hanya mungkin dicapai melalui proses belajar yang bermutu. Jika proses belajar tidak optimal sangat sulit diharapkan terjadinya hasil belajar yang bermutu. Jika terjadi terjadi belajar yang tidak optimal menghasilkan skor hasil ujian yang baik maka hampir dapat dipastikan bahwa hasil belajar tersebut adalah semu. Ini berarti bahwa pokok permasalahan mutu pendidikan lebih terletak pada masalah pemrosesan pendidikan.    Selanjutnya kelancaran pemrosesan pendidikan ditunjang oleh komponen pendidikan yang terdiri dari peserta didik,tenaga kependidikan,kurikulum,sarana pembelajaran,bahkan juga masyarakat sekitar. Seberapa besar dukungan tersebut diberikan oleh komponen pendidikan,sangat tergantung kepada kualitas komponen dan kerja samanya serta mobilitas komponen yang mengarah kepada pencapaian tujuan. Sebagai contoh, misalnya komponen sarana pembelajaran yang lengkap tatapi tidak didukung oleh guru-guru yang terampil maka sumbangan sarana tersebut pada pencapaian tujuan tidak akan optimal. Tentang hal ini sudah dipaparkan secukupnya pada butir sebelumnya yaitu tentang sistem pendidikan.
Upaya pemecahan masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat fisik dan perangkat lunak, personalia, dan manajemen sebagai berikut :
1.      Seleksi yang lebih rasional terhadap masukan mentah, khususnya untuk SLTA dan PT
2.      Pengembangan kemampuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut misalnya berupa pelatihan, penataran,seminar, kegiatan-kegiatan kelompok studi seperti PKG dan lain-lain
3.      Penyempurnaan kurikulum, misalnya dengan memberi materi yang lebih esensial dan mengandung muatan lokal, metode yang menantang dan mengairahkan belajar, dan melaksanakan evaluasi yang beracuan PAP.
4.      Pengembangan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram untuk belajar.
5.      Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket,media pembelajaran dan peralatan laboratorium
6.      Peningkatan administrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran
7.      Kegiatan pengendalian mutu yang berupa kegiatan-kegiatan:
ü  Laporan penyelenggaraan pendidikan oleh semua lembaga pendidikan.
ü  Supervisi dan monitoring pendidikan oleh penilik dan pengawas.
ü  Sistem ujian nasional/negara seperti Ebtanas, Sinpenmaru/UMPTN.
ü  Akreditasi terhadap lembaga pendidikan untuk menetapkan status suatu lembaga.
                                             
c)      Masalah Efisiensi Pendidikan
Masalah efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana suatu sitem pendidikan mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaanya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi. Jika terjadi yang sebaliknya, efisiensinya rendah.
Bebrapa masalah efiseinsi pendidikan yang penting ialah :
a.       Bagaimana tenaga kependidikan difungsikan.
b.      Bagaimana prasarana dan sarana pendidikan digunakan.
c.       Bagaimana pendidikan diselenggarakan.
d.      Masalah efisiensi dalam memfungsikan tenaga.

Masalah ini meliputi pengangkatan, penempatan, dan pengembangan tenaga. Masalah pengangkatan terletak pada kesenjangan antara stok tenaga yang tersedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas. Pada masa 5 tahun terakhir ini jatah pengangkatan setiap tahunnya hanya sekitar 20% dari kebutuhan tenaga di lapangan. Sedangkan persediaan tenaga yang siap diangkat (untuk sebagian besar jenis bidang studi, sebab ada bidang studi tertentu yang belum tersedia tenaganya) lebih besar daripada kebutuhan di lapangan. Dengan demikian berarti lebih dari 80% tenaga yang tersedia tidak segera difungsikan. Ini berarti pemubaziran terselubung, karena biaya investasi pengadaan tenaga tidak segera terbayar kembali melalui pengabdian (belum terjadi rate of return). Sebab tenaga kependidikan khususnya guru tidak dipersiapkan untuk berwirausaha.
Masalah penempatan guru, khusunya guru bidang penempatan studi, sering mengalami kepincangan, tidak disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Suatu sekolah menerima guru baru bidang studi yang sudah cukup atau bahkan sudah kelebihan, sedang guru bidang studi yang tidak dibutuhkan tidak diberikan karena terbatasnya jatah pengangkatan sehingga pada sekolah-sekolah tertentu seorang guru bidang studi harus merangkap mengajarkan bidang studi di luar kewenangannya, misalnya guru bahasa harus mengajar IPA. Gejala tersebut membawa ketidakefisienan dalam memfungsikan tenaga kerja, juga pada SD, meskipun persediaan tenaga yang direncanakan secara makro telah mencukupi kebutuhan, namun mengalami masalah penmpatan karena terbatasnyua jumlah yang dpat diangkat dan sulitnya menjaring tenaga yang bersedia ditempatkan di daerah terpencil, karena tidak ada insentif yang menaik, demikian pula sulitnya menempatkan guru wanita.
Masalah pengembangan tenaga kependidikan dilapangan biasanya terlambat, khususnya pada saat menyongsong hadirnya kurikulum baru, setiap pembaruan kurikulum menuntut adanya penyesuaian dari pada pelaksana di lapangan. Dapat dikatakan umumya penanganan pengembangan tenaga pelaksana di lapangan (yang berupa penyuluhan, latihan, lokakarya, penyebaran buku panduan) sangat lambat. Padahal proses pembekalan untuk dapat siap melkasanakan kurikulum baru memakan waktu. Akibatnya terjadi kesenjangan antara saat dicanangkan berlakunya kurikulum dengan saat mulai dilaksanakan. Dalam masa transisi yang relatif lama ini proses pendidikan berlangsung kurang efisiensi dan efektif.
            Penggunaan sarana dan prasarana pendidikan yang tidak efisien bisa terjadi antara lain sebagai akibat kurang matangnya perencanaan dan sering juga karena perubahan kurikulum.
            Banyak gedung SD inpres (yang mulai dilancarkan pembangunannya pada akhir pelita II) karena beberapa sebab dibangun pada lokasi yang tidak tepat. Akibatnya banyak SD yang kekurangan murid atau yang ruang belajarnya kosong. Jika kondisi seperti ini terdapat pada banyak kabupaten dan provinsi, maka terjadinya pemborosan tidak terelakkan sebab bangunan tidak dapat dipindahkan, lagi pula tahannya pun terbatas.
            Gejala lain tentang tidak adanya efisiensi dalam penggunaan sarana pendidikan yaitu diadakannya dan didistribusikannya sarana pembelajaran tanpa dibarengi dengan pembekalan kemampuan, sikap dan keterampilan calon pemakai, ataupun tanpa dilandasi oleh konsep yang jelas. Sejak tahun 1979 telah disebarkan alat peraga untuk sekolah dasar diantaranya 23.000 set untuk bidang studi IPS, 88.000 set untuk matematika dan 25.000 set alat peraga IPA. Sejauh mana alat peraga tersebut digunakan dan bagaimana dampaknya terhadap peningkatan efektifitas belajar, tidak dilakukan pengkajian.
            Kondisi yang semacam ini adalah dibangunnya unit baru yang disebut PSB (Pusat Sumber Belajar) pada perguruan tinggi sebelum tahun 1980, tersebut dirancang untuk membantu meningkatkan pendidikan tenaga kependidikan. Ternyata PSB tersebut tidak berfungsi seperti yang diharapkan karena sikap dan keterampilan pemakai belum disiapkan (Yusufhadi Miarso, 1982: 17).
Perubahan kurikulum sering membawa akibat sering di pakainya lagi buku paket siswa dan buku pegangan guru beserta perangkat lainnya karena harus di ganti dengan buku-buku yang baru. Misalnya perubahan kurikulum 1975/1976 (yang menggunakan orientasi produk) di ganti dengan kurikulum 1984 (yang beroreantasi pada proses). Bahkan sementara buku ang baru belum rampung di siapkan, kurikulum sudah berubah lagi yaitu dengan munculnya kurikulum 1994. Belum lagi terhitung biaya penataran para pelaksana pendidikan di lapangan, khusunya bagi guru-guru agar siap melaksanakan kurikulum yang baru.
Semuanya ini menggambarkan dibalik pemburuan terjadi pemborosan, meskipun sukar dielakkan. Sebab sebagaimanapun juga pemburuan kurikulum tindakan antisipasi terhadap pemberian bekal bagi calon luaran agar sesuai dengan tuntunan jaman.

d)      Masalah Relevansi Pendidikan
Masalah revelasi pendidikan mencakup sejauh mana sistem pendidikan dapat menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalah seperti yang di gambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional.
Luaran pendidikan diharapkan dapat mengisi semua sektor pembangun yang beraneka ragam seperti sektor produksi, sektor jasa, dll. Baik dari segi jumlah maupun dari segi kualitas. Jika sistem pendidikan menghasilkan luaran yang dapat mengsi semua sektor pembangunan baik yang aktual ( yang tersedia ) maupun yang potensial dangan memenuhi kriteria yang di persyaratkan oleh lapangan kerja, maka relevansi pendidikan di anggap tinggi.
Sebenarnya kriteria relevansi seperti yang di nyatakan tersebut cukup ideal jika di kaikan dengan kondisi sistem pendidikan pada umumnya dan gambaran tentang kerjaan yang ada antara lain sebagai berikut:
·         Status lembaga pendidikan sendiri masih bermacam-macam kulitasnya.
·         Sistem pendidikan tidak pernah menghasilkan luaran siap pakei. Yang ada ialah siap kembang
·         Peta kebutuhan tenaga kerja dengan persyartannya yang dapat di gunakannya sebagai pedoman oleh lembaga-lembaga pendidikan untuk menyusun programnya tidak tersedia.




C.   Faktor-faktor yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan
Permasalahan pokok pendidikan sebagaimana telah diutarakan sebelumnya merupakan masalah pembangunan mikro, yaitu masalah-masalah yang berlangsung didalam sistem pendidikan sendiri. Masalah mikro tersebut berkaitan dengan masalah makro pembangunan, yaitu masalah di luar sistem pendidikan, sehingga juga harus diperhitungkan didalam memecahkan masalah mikro pendidikan. Masalah makro ini berupa antara lain masalah perkembangan internasional, masalah demografi, masalah politik, ekonomi dan sosial budaya serta masalah perkembangan regional.
Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan, yaitu:
1)      Perkembangan Iptek dan Seni
a.       Perkembangan Iptek
Terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dengan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) . Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasi mengenai alam semesta, dan teknologi adalah penerapan yang direncanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.
Sebagai contoh betapa eratnya hubungan antara pendidikan dengan iptek itu, misalnya sering suatu teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi menimbulkan kondisi ekonomi sosial baru lantaran perubahan persyaratan kerja dan mungkin juga penguraian tenaga kerja atau jam kerja, kebutuhan bahan-bahan baru, sistem pelayanan baru, sampai kepada berkembangnya gaya hidup baru, kondisi tersebut minimal dapat mempengaruhi perubahan isi pendidikan dan metodenya, bahkan mungkin rumusan baru tunjangan pendidikan, otomatis juga sarana penunjangnya seperti sarana laboratorium dan ketenangan. Semua perubahan tersebut tentu membawa masalah dalam skala nasional yang tidak sedikit memakan biaya.

b.      Perkembangan Seni
Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah.
Berkesenian menjadi kebutuhan hidup manusia melalui kesenian manusia dapat menyalurkan dorongan berkreasi (mencipta yang bersifat orisinil (bukan tiruan)) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. Seni membutuhkan pengembangan.
Dilihat dari segi tujuan pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya, aktivitas mempunyai andil yang besar karena dapat mengisi pengembangan dominan efektif khususnya emosi yang positif dan konstruktif serta keterampilan di samping domain kognitif yang sudah digarap melalui program/bidang studi yang lain.
Dilihat dari segi lapangan kerja, dewasa ini dunia seni dengan segenap cabangnya telah mengalami perkembangan pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat. Pengembangan kualitas seni secara terprogram menuntut tersedianya sarana pendidikan tersendiri di samping program-program yang lain dalam sistem pendidikan. Di sinilah timbulnya masalah pendidikan kesenian yang mempunyai fungsi begitu penting tetapi disekolah-sekolah saat ini menduduki kelas dua. Pendidikan kesenian baru terlayani setelah program studi yang lain terpenuhi pelayanannya. Itulah sebabnya mengapa kesenian tidak termasuk Ebtanas, di samping juga sulit menyediakan tenaga pendidiknya.
2)      Laju Pertumbuhan Penduduk
Pertambahan penduduk yang dibarengi dengan meningkatnya usia rata-rata dan penurunan angka kematian, mengakibatkan berubahnya struktur kependudukan, yaitu proporsi penduduk usia sekolah dasar menurun, sedangkan proporsi usia sekolah lanjutan, angkatan kerja, dan penduduk usia tua meningkat berkat kemajuan bidang gizi dan kesehatan. Dengan demikian terjadi pergeseran permintaan akan fasilitas pendidikan, yaitu untuk sekolah lanjutan cenderung lebih meningkat dibanding dengan permintaan akan fasilitas sekolah dasar. Sebagai akibat lanjutan, permintaan untuk lanjut ke perguruan tinggi juga meningkat, khusus untuk penduduk usia tua yang jumlahnya meningkat perlu disediakan pendidikan nonformal.

3)      Aspirasi Masyarakat
Dalam dua dasa warsa terakhir ini aspirasi masyarakat dalam banyak hal meningkat, khususnya aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat, aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan. Pendidikan dianggap memberikan jaminan bagi peningkatan taraf hidup dan pendakian di tangga sosial. Sebagai akibat dari meningkatnya aspirasi terhadap pendidikan maka orang tua mendorong anaknya untuk bersekolah, agar nantinya anak-anaknya memperoleh pekerjaan yang lebih baik dari orang tuanya sendiri. Gejala yang timbul ialah membanjirnya pelamar pada sekolah-sekolah. Arus pelajar menjadi meningkat.

4)      Keterbelakangan Budaya dan Sarana Kehidupan
Keterbelakangan budaya adalah suatu istilah yang diberikan oleh sekelompok masyarakat (yang menganggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya. Bagi masyarakat pendukung budaya, kebudayaannya pasti dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dan baik.
Sesungguhnya tidak ada kebudayaan yang secara mutlak statis, apalagi mandeg, tidak mengalami perubahan. Berubahnya unsur-unsur kebudayaan tidak selalu bersamaan satu dengan yang lain, namun yang jelas terjadinya perubahan tidak pernah terhenti sepanjang masa, bahkan meskipun perubahan yang baru itu ke arah negatif.



















D.   Permasalahan Aktual Pendidikan dan Penanggulangannya

1.      Permasalahan Aktual Pendidikan di Indonesia
Permasalahan aktual berupa kesenjangan-kesenjangan yang pada saat ini kita hadapi dan terasa mendesak untuk ditanggulangi. Masalah aktual tersebut ada yang mengenai konsep dan ada yang mengenai pelaksanaanya. Misalnya kurikulum baru adalah masalah konsep. Konsep seperti itu bermasalah jika suatu kurikulum belum tentu dapat dilaksanakan atau tidak. Jika tidak, timbullah masalah pelaksaan atau masalah operasional. Berikut ini adalah masalah-masalah aktual :

a.       Masalah Keutuhan Pencapaian Sasaran
Tujuan pendidikan nasional ialah mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Yang dimaksud manusia utuh itu adalah manusia yang sehat jasmani dan rohani, manusia yang memiliki hubungan yang secara vertikal (dengan Tuhan yang Maha Esa), horisontal (dengan lingkungan dan masyarakat), dan konsentris (dengan diri sendiri); yang berimbang antara duniawi dan ukhrawi. Keberhasilan pendidikan dinilai dari kemampuan kognitif atau penguasaan pengetahuan. Pengembangan daya pikir dinomer satukan, sedangkan pengembangan perasaan dan hati terabaikan. Padahal pengembangan perasaan dan hati agar memahami nilai-nilai tidak cukup hanya berkenalan dengan nilai-nilai melainkan harus mengalaminya.

b.      Masalah Kurikulum
Masalah kurikulum meliputi masalah konsep dan masalah pelaksanaannya. Yang menjadi sumber masalah ini ialah bagaimana sistem pendidikan dapat membekali peserta didik untuk terjun ke lapangan kerja (bagi yang tidak melanjutkan sekolah) dan memberikan bekal dasar yang kuat untuk ke perguruan tinggi (bagi mereka yang ingin lanjut). Saat ini sistem pendidikan dilaksanakan dengan menggunakan kurikulum 1984 (SKNO.0209/U/1984) yang didesain sebagai penyempurnaan kurikulum 1975/76. Jika kurikulum 1975/76 berorientasi kepada produk pendidikan dan kurang membenahi proses pembelajaran kurikulum 1984 lebih peduli terhadap proses pembelajaran. Untuk itu kurikulum 1984 memberi perhatian yang besar pada CBSA dan keterampilan proses, juga pelaksanaan dan ekstrakurikuler dengan memperhatikan hasilnya sebagai bahan untuk nilai akhir.
Konsep ini memang bagus secara teoritis. Tetapi pelakasaanya mengundang banyak masalah. Titik rawan yang bisa timbul antara lain bagaimana mempersiapkan para pelaksana dan pembina-pembina pendidikan di lapangan khususnya guru agar dapat ber-CBSA dan melalsanakan keterampilan proses dalam pembelajaran.

c.       Masalah Peranan Guru
Guru merupakan salah satu sumber belajar, ia menjadi pusat tempat bertanya. Tugas guru memberikan ilmu pengetahuan kepada murid. Cara demikian dipandang sudah memadai karena ilmu pengetahuan guru belum berkembang,tugasnya bukan meberikan ilmu pengetahuan melainkan terutama menunjukan jalan bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan, dan mengembangkan dorongan untuk berilmu. Dengan kata lain menumbuh kembangkan budaya mebaca dan budaya meneliti untuk menemukan sesuatu (Scientific Curiesity) pada diri muridnya.
Guru mendudukan dirinya hanya sebagai bagian dari sumber belajar. Beranekaragam sumber belajar yang hanya justru dapat ditemukan diluar diri guru seperti perpustakaan, taman bacaan, museum, toko buku, berbagai media massa, lembaga-lembaga sosial, orang-orang pintar, kebun binatang, alam, dan lingkungan sekitar, dan lain-lain.
Dari sisi kebutuhan murid, guru tidak mungkin seorang diri menyalaninya. Untuk memandu proses pembelajaran murid ia dibantu oleh sejumlah petugas lainnya seperti konselor (guru BP), pusatakawan, laboran, dan teknisi sumber belajar.
Dari sisi pembelajaran guru diharapkan mampu mengelola proses pembelajaran (sebagai manajer), menunjukan tujuan pembelajaran (director), mengorganisasikan kegiatan pembelajaran (koordinator), mengkomuniksikan murid dengan berbagai sumber belajar (komunikator), menyediakan dan memberikan kemudahan-kemudahan belajar (fasilitator), dan memebrikan dorongan belajar (stimulator).
Dalam hubungan dengan mutiperan guru seperti dikemukakan diatas maka masalah yang timbul ialah bagaimana guru dapat melakukan multiperan seperti itu jika pada kebayakan sekolah mereka adalah pejuang tunggal.

d.      Masalah Pendidikan Dasar 9 Tahun
Keberadaan pendidikan dasar 9 tahun mempunyai landasan yang kuat. UU RI Nomor 2 Tahun 1989 Pasal 6 menyatakan tentang hak warganegara untuk mengikuti pendidikan sekurang-kurangnnya tamat pendidikan dasar, Pasal 13 menyatakan tujuan pendidikan dasar. Kemudian PP Nomor 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar, Pasal 2 menyatakan bahwa pendidikan dasar merupakan pendidikan sembilan tahun, terdiri atas program pendidikan 6 tahun di SD dan program pendidikan 3 tahun di SLTP, Pasal 3 memuat tujuan pendidikan dasar yaitu memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan anggota umat manusia, serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah.

2.      Upaya Penanggulangan
Beberapa upaya untuk menanggulangi masalah-masalah aktual sebagai berikut :
a.       Pendidikan afektif perlu ditingkatkan secara terprogram tidak cuckup berlangsung hanya secara isidental. Pendekatan keterampilan proses yang sudah disebarluaskan konsepnya perlu ditindak lanjuti dengan menyebarkan buku panduannya kepada sekolah-sekolah. Dalam hubungan ini pelaksanaan pendidikan kesenian perlu diberi perhatian khusus sehingga tidak menjadi pelajaran yang dikesmpingkan.
b.      Pelkasanaan ekstrakurikuler dikerjakan dengan penuh kesungguhan dan hasilnya diperhitungkan dalam menetapkan nilai akhir ataupun pelulusan.
c.       Pemilihan siswa atas kelompok yang akan melanjutkan belajar dengan yang akan terjun ke masyarakat merupakan hal yang prinsip karena pada dasarnya tidak semua siswa secara potensial mapu belajar di perguruan tinggi.
d.      Pendidikan tenga kependidikan (prajabatan dan dalam jabatan) perlu perhatian khusus, oleh karena tenaga kependidikan khususnya guru menjadi penyebab utama lahirnya sumber daya manusia yang berkualitas untuk pembangunan.
e.       Untuk pelaksanaan pendidikan dasar 9 tahun, apalagi jika dikaitkan dengan gerakan wajib belajar, perlu diadakan penelitian secara meluas pada masyarakat untuk menemukan faktor penunjang dan utamanya faktor penghambatnya.




BAB III
PENUTUP

Ø  KESIMPULAN
Misi pendidikan ialah menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan, karena itu pendidikan selalu menghadapi masalah. Sebabnya karena pembangunan sendiri selalu mengikuti tuntutan zaman yang selalu berubah. Masalah yang dihadapi dunia pendidikan sangat luas dan kompleks. Pertama, karena sifat sasarannya yaitu manusia, merupakan makhluk misteri yang mengandung banyak teka-teki. Kedua, karena pendidikan harus mengantisipasi hari depan yang juga mengundang banyak pertanyaan. Padahal pemahaman terhadap hari depan itu penting karena menjadi acuan dari segenap perubahan yang terjadi saat ini.





















Ø  SARAN
Dengan dikemukakan masalah-masalah pokok pendidikan, kaitan masalah-masalah pokok tersebut satu sama lai, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangannya, permasalahan-permasalahan pendidikan yang aktual dan upaya penanggulangannya, diharapkan para pendidik memahami lebih baik masalah pendidikan yang dihadapi di lapangan, merumuskannya, serta mencari alternatif pemecahannya.





























Ø  DAFTAR PUSTAKA
Tirtaharja, Umar dan La Sulo. 2008. Pengantar Pendidikan. Jakarta : Depdikbud
ContohKata Pengantar Makalah Yang Baik Terbaru Skipnesia.com.htm







No comments:

Post a Comment

RPP BAKTERI SMA

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)                         Nama Sekolah        :           SMA Mata Pelajaran         :       ...

Translate

Powered By Blogger