makalah Ekologi POPULASI BEKANTAN (Nasalis larvatus Wurmb.) SEBAGAI HEWAN ENDEMIK DI KALIMANTAN (Autekologi)


MAKALAH
POPULASI BEKANTAN (Nasalis larvatus Wurmb.)
 SEBAGAI HEWAN ENDEMIK DI KALIMANTAN
(Autekologi)


Disusun sebagai syarat untuk Memenuhi Tugas
Mata kuliah “EKOLOGI”

Disusun oleh :

Dimas Wahyu Indrata    (1501070011)


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2018
KATA PENGANTAR
Hasil gambar untuk ayat bismillah
Assalamualaikum.Wr.Wb
Syukur alhamdulillah merupakan mutiara kata yang paling indah nan pantas kita ucapkan kehadirat Allah SWT. Sungguh agung nikmat-Nya dan sungguh luas rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah tentang populasi bekantan (nasalis larvatus wurmb.) sebagai hewan endemik di kalimantan (autekologi) tanpa hambatan yang berarti.
Shalawat serta salam semoga tertap tercurah limpahkan kepada junjungan kita, yakni Nabi Muhammad SAW. Kepada keluarganya, kepada sahabatnya, dan sampailah kepada kita selaku umatnya sepanjang jaman.
Adapun tujuan pembuatan Makalah ini yaitu untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Ekologi, serta mengetahui Siklus hidup, Populasi, Penyebaran dan Adaptasi dari Bekantan selain itu penulis berharap makalah ini bisa dijadikan sebagai titik tolak untuk menulis lebih baik lagi. Dalam penyusunan laporan ini penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu penulis mengharapkan krtitik dan saran yang sifatnya membangun guna menyempurnakan makalah ini.
Akhir kata semoga makalah sederhana ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis, dan umumnya bagi yang membacanya.
Purwokerto, 20 Maret 2018

                        Penulis



DAFTAR ISI

Halaman Judul.........................................................................................................i
Kata Pengantar........................................................................................................ii
Daftar isi.................................................................................................................iii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................................2
1.3 Tujuan Penelitian..............................................................................................2
BAB II KLASIFIKASI DAN MORFOLOGI GAJAH SUMATERA
2.1 Klasifikasi.........................................................................................................3
2.2 Habitat..............................................................................................................3
3.1 Morfologi & Geometro....................................................................................5
4.1 Perilaku.............................................................................................................7
4.2 Sistem Sosial....................................................................................................7
5.1 Populasi & Sebaran……..................................................................................8
4.1 Pergerakan Harian...........................................................................................10
4.2 Perilaku Makan...............................................................................................11
4.1 Konservasi......................................................................................................14

BAB VI PENUTUP
6.1 Kesimpulan.....................................................................................................15
6.2 Saran...............................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................16











BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai keanekaragaman hayati yang cukup tinggi baik flora maupun fauna. Sumber daya alam yang dimiliki merupakan anugerah Tuhan yang perlu disyukuri dan dimanfaatkan secara lestari. Pulau Kalimantan merupakan salah satu pulau di Indonesia yang banyak terdapat jenis primata, dan merupakan wilayah dengan derajat endemisme fauna yang tinggi baik itu dari jenis mamalia maupun hewan melata. Salah satu jenis primata yang ada di Kalimantan adalah Bekantan (Nasalis larvatus, Wurmb). Ordo primata dibagi kedalam tiga subordo yaitu Prosimi, Tarsioidea dan Anthropoidea yang masing-masing memiliki ciri-ciri tertentu.
Bekantan (Nasalis larvatus Wurmb.) adalah jenis satwa yang termasuk ke dalam Ordo (bangsa) Primata, Famili (suku) Cercophitecidae, dan Subfamili (anak suku) Colobinae (Jolly, 1972) dengan status konservasi endangered (IUCN, 2008), termasuk dalam Appendix I CITES dan mendapat perhatian sangat tinggi dalam upaya konservasinya. Jenis ini tergolong sangat langka dan endemik, dengan habitat terbatas pada hutan bakau, hutan di sekitar sungai, dan habitat rawa gambut di mana sebagian telah terancam oleh berbagai aktivitas manusia. Menurut McNeely et al. (1990), dari 29.500 km persegi habitat bekantan, saat ini telah berkurang seluas 40%, sedangkan yang berstatus kawasan konservasi hanya 4,1%. Pada tahun 2000, laju deforestasi habitat bekantan 3,49% per tahun (Supriatna, 2004). Dari enam tipe ekosistem habitat bekantan, pada tahun 1995 telah terjadi penurunan luas habitat antara 20-88% (Meijaard, 2000) dan laju penurunan habitat ini di dalam dan di luar kawasan konservasi dua persen per tahun (PHVA Proboscis monkeys, 2004). Akibat dari penurunan luas habitat tersebut maka populasi bekantan cenderung menurun karena primata ini kurang toleran terhadap kerusakan habitat (Wilson dan Wilson, 1975; Yeager, 1992). Oleh sebab itu penulis membuat kajian autekologi ekologi tentang Populasi Bekantan sebagai Hewan Endemik di Kalimantan
2.1  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana klasifikasi dan morfologi dariBekantan (Nasalis larvatus Wurmb.) ?
2.      Bagaimana habitat dari Bekantan (Nasalis larvatus Wurmb.) ?
3.      Bagaimana perilaku Bekantan (Nasalis larvatus Wurmb.) dengan lingkungannya?
4.      Bagaimana populasi Bekantan (Nasalis larvatus Wurmb.) di  Kalimantan?
3.1  Tujuan
1.      Mengetahui bagaimana klasifikasi dan morfologi dariBekantan (Nasalis larvatus Wurmb.) ?
2.      Mengetahui bagaimana habitat dari Bekantan (Nasalis larvatus Wurmb.) ?
3.      Mengetahui bagaimana perilaku Bekantan (Nasalis larvatus Wurmb.) dengan lingkungannya?
4.      Mengetahui bagaimana populasi Bekantan (Nasalis larvatus Wurmb.) di  Kalimantan?

















BAB II
ISI
2.1 Klasifikasi
Klasifikasi bekantan menurut IUCN (2004) adalah sebagai berikut :
Hasil gambar untuk adaptasi morfologi bekantan
Gambar 1. (Nasalis larvatus Wurmb.)
1.      Filum         : Chordata
2.      Kelas         : Mammalia
3.      Bangsa      : Primata
4.      Induk Suku: Cercopithecoidea
5.      Suku          : Cercopithecidae
6.      Anak Suku: Colobinae
7.      Marga        : Nasalis
8.      Jenis          : Nasalis larvatus Wurmb.
9.      Sub Jenis   : Nasalis larvatus larvatus
         Nasalis larvatus orientalis
2.2 Habitat
Pada umumnya bekantan endemik Borneo menyukai habitat hutan lahan basah, baik di dalam dan di luar kawasan konservasi. Di Kalimantan Selatan, bekantan dapat ditemukan di hutan karet yang berada di luar kawasan konservasi yang berdekatan dengan sumber air berupa sungai atau danau kecil (Soendjoto et al., 2005). Jika melihat kondisi habitat bekantan pada tahun 1995 (Meijaard et al., 2000) luasan terkecil merupakan hutan mangrove yang masih tersisa sebesar 59%. Kondisi ini akan mengalami perubahan pada tahun selanjutnya akibat perubahan fungsi dan vegetasi hutan mangrove, sedangkan bekantan sangat tergantung pada hutan mangrove (Kern, 1962).
Bismark (1980) melaporkan keberadaan primata ini tersebar di berbagai tipe habitat yang dilalui sungai termasuk di hutan rawa gambut. Bekantan juga diketahui menggunakan pohon yang ada di tepi-tepi sungai untuk tempat tidurnya sehingga identifikasi sebaran dan habitat primata ini lebih mudah dilakukan termasuk penggunaan metoda sensus populasi bekantan melalui sungai. Jenis bekantan juga dijumpai di hulu sungai yang jauh dari laut, seperti di Sungai Murung Barito Utara (laporan Chivers dan pengamatan pribadi, 1994) serta di hulu Sungai Sangatta yang didominasi hutan dipterocarpaceae (Bismark, 1997). Bekantan ditemukan di pulau kecil, seperti Pulau Kaget seluas 247 ha di Kalimantan Selatan dengan habitat tumbuhan mangrove dan masih terpengaruh oleh kadar garam.
Kekhawatiran akan cepatnya pengurangan luas habitat yang berdampak negatif pada penurunan populasi bekantan adalah terjadinya degradasi habitat hutan dataran rendah, seperti kasus di Taman Nasional Gunung Palung. Dari tahun 1998-2002, penurunan luas tutupan di TN Gunung Palung sangat meningkat dari sekitar 500 sampai 8.000 ha per tahun dan di daerah penyangga sekitar 600 ha per tahun (Curran et al., 2004). Kerusakan hutan mangrove lebih disebabkan oleh konversi lahan menjadi tambak. Tambak di hutan mangrove di kawasan hutan produksi PT Karyasa Kencana Tarakan dalam kurun waktu 10 tahun sejak tahun 1982 meningkat dengan drastis. Luas tambak yang awalnya125 ha meningkat menjadi 50 kali lipat (Sardjono, 1995) sebagai bentuk penyusutan areal mangrove. Secara umum, upaya perbaikan ekosistem mangrove melalui rehabilitasi di Kalimantan dalam kurun waktu tahun 1999-2006 telah terealisasi sejumlah 4.173 ha.
Di Kalimantan Selatan, habitat bekantan mencakup hutan mangrove, hutan campuran di pantai, rawa gambut, dan hutan rawa yang didominasi oleh galam (Melaleuca cajuputi). Selain itu populasi bekantan juga ditemukan di hutan bukit kapur dan hutan karet (Sunjoto et al., 2005). Sebaran bekantan pada beberapa kawasan di luar kawasan konservasi di Kalimantan Selatan telah diidentifikasi oleh Sunjoto et al. (2003). Degradasi lahan habitat bekantan terjadi relatif cepat akibat nilai ekonominya yang tinggi. Habitat tepi sungai adalah areal yang pertama dilalui oleh masyarakat untuk menginvasi lahan di belakangnya, yang dibuka untuk lahan pemukiman dan pertanian. Demikian pula dengan terbentuknya perkampungan yang semuanya ini merupakan bentuk degradasi habitat yang umum terjadi di hulu hingga ke muara sungai hutan riparian yang berpotensi sebagai habitat bekantan.
Berkembangnya pemukiman dan areal pertanian di sepanjang hutan tepi sungai menyebabkan penurunan dan berpencarnya populasi bekantan antara 15-40 km (Bismark, 2002; Ma’ruf, 2004). Pada akhirnya, bekantan yang tersisa, yang seharusnya merupakan penghuni asli, dianggap sebagai hama pertanian oleh sebagian masyarakat (Sunjoto et al., 2005). Pada tahun 1990 habitat bekantan telah dilaporkan hilang seluas 49% dan pada tahun 1995 dilaporkan tinggal 39% dan hanya 15% dari habitat aslinya yang ada di kawasan konservasi (Meijaard et al., 2000). Diperkirakan telah terjadi penurunan habitat sekitar 2% setahun. Kerusakan habitat tidak hanya terjadi di luar kawasan konservasi, bahkan telah memasuki kawasan konservasi. Pada tahun 2001 hutan dataran rendah di kawasan konservasi Kalimantan telah terdegradasi lebih dari 56% (Curran et al., 2004).
Degradasi habitat terlihat di Pulau Kaget, di mana hanya 10% kawasan berhutan dan 90% menjadi areal pertanian (Meijaard, 2000). Habitat tumbuhan pohon hanya berada dalam 20-50 m dari tepi sungai dengan kerapatan pohon 150 pohon per ha (Bismark, 1997). Kebakaran hutan yang luas terjadi di Taman Nasional Tanjung Puting pada tahun 1997 menyebabkan habitat hilang sekitar 75% dan pada tahun 1998 kebakaran hutan Taman Nasional Kutai menyisakan habitat berhutan 5%. Habitat bekantan yang spesifik, keterbatasan sumber pakan, dan kompetisi dengan jenis primata lain, menyebabkan bekantan lebih sensitif terhadap kerusakan habitat. Berdasarkan dampak peningkatan arus lalu lintas sungai, pemanfaatan hutan berupa pengelolaan HPH mempercepat kerusakan habitat dan percepatan ini dipacu oleh kebakaran hutan, illegal logging, konversi lahan hutan gambut menjadi areal perkebunan dan pertanian.

2.3 Morfologi dan Geometri
Bekantan dewasa menunjukkan perbedaan bentuk dan ukuran tubuh yang nyata antara jantan dan betina (seks dimorphisme) (Kern, 1964; Bennett dan Sebastian, 1988; Yeager, 1989). Perbedaan ini terlihat pada besar tubuh dan bentuk hidung. Jenis jantan memiliki hidung yang relatif besar, alat kelamin eksternal, terdapat warna putih berbentuk segi tiga pada bagian pinggul serta berkembangnya otot yang kuat. Betina relatif lebih kecil, puting susu jelas serta hidung lebih kecil dan runcing. Berat badan jantan berkisar antara 20-22 kg dan betina antara 10-12 kg (Yeager, 1990).
Berat badan bekantan jantan di hutan mangrove berkisar antara 22-27 kg dan betina antara 8-17 kg (Bismark, 2005). Perbedaan bentuk dan ukuran tubuh bekantan jantan dan betina (dikenal sebagai geometri tubuh) meliputi panjang badan dan kepala (atau tinggi saat duduk), lebar bahu, panjang ekor, dan luas permukaan tubuh. Perbedaan geometri bekantan jantan dan betina terlihat pada bentuk hidung, di mana hidung yang jantan lebih besar dan yang betina lebih runcing. Di samping itu lebar bahu betina (17,5-18 cm), sama dengan 2/3 lebar bahu jantan (23-32 cm) dan tinggi betina (55-58 cm), sama dengan 4/5 dari tinggi jantan (60-73 cm) sehingga luas permukaan tubuh betina sama dengan 2/3 luas permukaan tubuh yang jantan.
Ukuran tubuh betina dewasa hampir sama dengan jantan setengah dewasa. Menurut Bennett dan Sebastian (1988) besar tubuh bekantan setengah dewasa lebih dari 3/4 tubuh dewasa sedangkan yang remaja kurang dari 3/4 bagian tubuh dewasa. Walaupun tinggi duduk jantan setengah dewasa sama dengan 3/4 dari jantan dewasa, namun lebar bahunya sama dengan 2/3 dari dewasa dan luas permukaan tubuhnya sama dengan1/2 dari luas tubuh dewasa. Menurut pengamatan, bekantan lebih banyak istirahat setelah aktif makan (42,3%). Pada waktu istirahat satwa ruminansia memproses makanan dalam saluran pencernaan dan pada saat ini pula panas banyak terlepas melalui saluran pencernaan (Moen, 1973). Dalam hubungan ini bekantan memiliki volume saluran pencernaan lebih besar dari primata pemakan daun lainnya, yaitu 8.371 cm³ sedangkan jenis Presbytis melalophos, P. rubicunda, dan P. obscura masing-masing 3.168, 3.113, dan 3.805 cm³ (Bennett, 1983). Untuk menjaga keseimbangan suhu, bekantan melakukan istirahat atau tidur dalam posisi duduk dengan anggota gerak mendekap ke bagian tubuh agar pelepasan panas secara konveksi dan evaporasi dapat dikurangi.
Hasil gambar untuk perbedaan bekantan jantan
Gamba 2. Kiri bekantan betina dan kanan bekantan jantan


2.4 Perilaku
Faktor utama yang menentukan perilaku sosial primata adalah seleksi pakan dan kecenderungan dari mamalia untuk menganut polygyny (Raemakers dan Chivers, 1980). Pada burung, sistem monogami benar-benar berperan karena jantan akan melakukan apa saja terutama saat betina bertelur (Clutton-Brock dan Harvey, 1977; Raemakers dan Chivers, 1980). Kelompok primata dalam jumlah kecil dengan teritorial sempit, jarang berpencar dalam mencari makan sehingga memaksa kelompok ini membentuk sistem sosial monogami (kelompok 2-6 individu) terutama jantan, karena yang betina tidak dapat mempertahankan teritorial sendiri.
Perilaku menjaga teritorial ini akan memungkinkan untuk menjamin anaknya agar dapat berkembang (Raemaekers dan Chivers, 1980). Presbytis yang berkelompok dalam jumlah relatif besar (5-19 individu) mencari makanan di dalam ruang pengembaraan (home range) secara berpencar dengan membentuk anak kelompok sebagai adaptasi terhadap keterbatasan dan tersebarnya sumber pakan (Curtin, 1980). Predator juga mempengaruhi perilaku sosial.
Primata dalam kelompok besar akan berkomunikasi lebih baik dalam mendeteksi predator dan sumber pakan sehingga meningkatkan upaya penyelamatan terhadap ancaman predator (Sussman, 1977). Hal ini sangat penting dilakukan pada habitat yang struktur fisiknya sudah terganggu. Habitat yang terganggu dapat mempengaruhi perubahan komposisi dan jumlah individu dalam kelompok bekantan (Yeager, 1991).
2.5 Sistem Sosial
Terdapat perbedaan pendapat mengenai sistem sosial bekantan. Kern (1964) mengemukakan bahwa sistem sosial bekantan agak longgar sehingga dapat terjadi perpecahan dan penggabungan anggota antar kelompok yang berbeda. Dengan sistem ini dapat ditemui kelompok yang lebih dari 60 individu (Kern, 1964; Bismark, 1986). Salter et at. (1985) menemukan kelompok hingga 50 individu yang kemudian berpencar saat meninggalkan lokasi tempat tidur dan kelompok ini dapat digolongkan pada fission fussion Bennett dan Sebastian (1988) menyimpulkan bahwa sistem sosial bekantan adalah harem, di mana terdapat beberapa betina dan satu jantan dewasa. Sistem sosial bekantan di hutan mangrove lebih mengarah pada sistem multi-male, di mana dalam tiap kelompok terdapat lebih dari satu jantan dewasa. Perbandingan individu jantan dewasa dengan betina dewasa (seksrasio) adalah 1:2,55.
Di samping itu perpindahan anggota antar kelompok juga terjadi (Bismark, 1994). Penelitian Ruhyat (1986) menunjukkan bahwa kelompok bekantan yang diteliti mempunyai jantan dewasa antara 1-5 individu untuk kelompok 11-56 individu. Peran jantan dalam kelompok seks dimorphisme adalah untuk mempertahankan teritorial, terutama kaitannya dengan sumber pakan. Bagi jenis primata yang kurang selektif terhadap sumber pakan, organisasi sosialnya akan menjurus kepada kelompok besar multi-male dan seks dimorphisme dan bahkan sistem sosial fission-fusion (Raemakers dan Chivers, 1980). Perbedaan sistem sosial bekantan berkaitan erat dengan kondisi habitat dan sumber pakan.
Habitat bekantan di hutan mangrove riverine memiliki ciri-ciri keragaman jenis pohon yang rendah namun kerapatannya tinggi, dan terdapat jenis pohon yang sangat dominan, yaitu R. apiculate yang menjadi sumber pakan pokok (71,9%) dalam komposisi pakan bekantan. Jenis ini dominan dan membentuk zonasi dengan kerapatan 391 pohon per ha serta mempunyai kualitas kandungan organik dan mineral yang baik. Kondisi ini dapat menghindarkan persaingan antar jantan dalam mempertahankan ruang pengembaraan dan ini terlihat pula pada sempitnya ruang pengembaraan kelompok bekantan yaitu 19,4 ha. Dari analisis ini terlihat bahwa kondisi habitat, kualitas dan kuantitas sumber pakan di hutan bakau dapat mengurangi kompetisi antar jantan sehingga mengarah terbentuknya kelompok yang multi-male.
2.6 Populasi dan Sebaran
Di Kalimantan, hutan rawa di sepanjang tepi sungai dan riverine mangrove di pantai, merupakan kawasan potensial sebagai habitat satwaliar. Bekantan adalah salah satu jenis primata pemakan daun endemik Kalimantan, yang populasinya sangat bergantung pada kualitas ekosistem lahan basah, khususnya hutan mangrove dan hutan riparian, dan tidak toleran terhadap gangguan habitat (Wilson dan Wilson, 1975; Bennet dan Gombek, 1991; Yeager, 1992). Berdasarkan laporan McNeely et al. (1990) dari 29.500 km persegi habitat bekantan, 40% telah hilang, sedangkan habitat bekantan yang termasuk ke dalam kawasan konservasi hanya 4,1%. Oleh karena pembangunan pemukiman dan areal pertanian di sepanjang sungai cenderung meningkat, maka dampaknya akan berpengaruh terhadap penurunan kualitas habitat dan populasi satwa endemik.
Hasil gambar untuk populasi bekantan
Gambar 3. Populasi bekantan
Salah satu indikator dampak kerusakan habitat hutan rawa terhadap biodiversitas satwa, di antaranya adalah penurunan populasi bekantan. Distribusi bekantan di Kalimantan telah didokumentasikan oleh Meijaard dan Nijman (2000) di 30 lokasi dan diperoleh informasi sebaran bekantan di 123 lokasi lainnya yang tersebar di hutan mangrove, pulau kecil, delta, sepanjang sungai, dan hutan rawa gambut. Lebih dari 20% populasi tersebar di daerah pantai, 18% tersebar antara 100-200 km dari pantai, 16% antara 20-100 km, dan 58% populasi tersebar 50 km dari pantai, bahkan ditemukan di kawasan 300 km dari pantai dan sampai 750 km dari pantai. Sebesar 90% lokasi sebaran bekantan terletak pada ketinggian di bawah 200 m dari permukaan laut (dpl) dan tertinggi pernah dilaporkan terletak pada 350 m dpl.
Sebaran bekantan dan tipe habitat di Kalimantan Selatan telah dilaporkan oleh Soendjoto (2005) dan Bismark (1997), di Kalimantan Timur oleh Bismark dan Iskandar (2002) dan Ma’ruf et al. (2005). Areal prioritas sebaran bekantan yang mengalami tekanan sampai tahun 1997 telah diidentifikasi oleh Meijaard (2000) Survei populasi bekantan sudah banyak dilakukan para peneliti di Taman Nasional (TN) Kutai, di antara peneliti yang melaporkan populasi bekantan tersebut adalah Wilson dan Wilson (1975) dan Rodman (1987). Keduanya melaporkan bahwa bekantan sulit ditemukan selama penelitian mereka berlangsung. Wilson dan Wilson (1975) menemukan tiga kelompok bekantan di muara Sungai Sangatta dan Rodman (1978) menemukan bekantan di hulu Sungai Sangatta. Populasi bekantan di hutan bakau terkonsentrasi di komplek hutan Sungai Sangkimah, Teluk Kaba, Sungai Pemedas, dan Sungai Padang. Di Sungai Sangkimah sepanjang 2 km dari pantai terdapat sejumlah 117 individu bekantan (Bismark, 1986).
Kepadatan populasi bekantan di beberapa tempat yaitu dilaporkan antara 8,3-58 individu/km². Beberapa penelitian populasi bekantan dilakukan oleh Yeager dan Blondal (1992), Ruhiyat (1986), Yasuma (1989), dan Bennett dan Sebastian (1988). Yeager dan Blondal (1992) telah mengemukakan hasil analisisnya bahwa pada habitat yang rusak berat, kerapatan bekantan 9 individu per km², selanjutnya yaitu 25 individu per km² pada kerusakan yang agak berat, 33 individu per km² pada habitat dengan kerusakan sedang, dan 62 individu pada habitat dengan kerusakan ringan. Bekantan sensitif terhadap kerusakan habitat (Wilson dan Wilson, 1975) sehingga populasi bekantan dapat dijadikan indikator terhadap tingkat kerusakan hutan mangrove dan hutan tepi sungai.
2.7 Pergerakan Harian
Aktivitas harian bekantan meliputi aktivitas berjalan, mencari makan, bermain, istirahat, dan saling berkutu atau menyelisik. Aktivitas harian dimulai dari tepi sungai di mana tempat kelompok dan sub kelompok bermalam. Bekantan bangun sekitar pukul 05.30 untuk memulai aktivitas dengan bergerak dari cabang tempat posisi tidur dan pada pukul 06.15 memulai aktivitas makan, aktivitas hariannya berakhir pada pukul18.30 sore.
Di hutan mangrove, aktivitas bekantan di tepi sungai dapat berlangsung dari subuh pagi hari hingga pukul 07.45, seperti makan daun Avicennia officinalis atau Rhizophora apiculata di sekitar pohon tidurnya. Bila bergerak lebih awal, bekantan dapat mencapai radius 400 m dari tepi sungai. Pada umumnya pukul 07.00, bekantan sudah ada pada posisi 100 m dari tepi sungai. Selama aktivitas harian berlangsung, kelompok bekantan dapat terbagi menjadi 2-3 sub kelompok. Pola pergerakan, bentuk, dan luas ruang pengembaraan primata pada umumnya berhubungan erat dengan penyebaran dan jumlah sumber pakan (Jolly, 1972; Whitten, 1982), sebaran pohon tempat tidur, dan cuaca (Chivers, 1974).
Parameter aktivitas pergerakan harian bekantan meliputi panjang jaIur yang dilaIui bekantan dalam satu hari (DR, daily range), radius maksimum yang ditempuh bekantan yaitu diukur dari lokasi tempat tidur (MR, maximum radius) dan jarak antara perpindahan lokasi tidur semula dengan malam berikutnya (NPS, night posisition shift) (Chivers, 1974; Gumarya, 1986, Megantara, 1989) dalam kurun waktu pergerakan bekantan. Jarak terjauh dari tepi sungai (TS) juga diukur sebagai parameter pergerakan.
Pergerakan harian bekantan dipimpin oleh betina dewasa. Pergerakan dimulai dari pohon tempat tidur di mana arah pergerakan ditentukan. Keadaan ini juga dilaporkan oleh Rajanathan dan Bennett (1990) karena betina lebih membutuhkan sumber pakan yang baik untuk anaknya (Bennett, 1983) perjalanan harian (DR) bekantan berkisar antara 200-1.100 m dengan jarak dari tepi sungai antara 50-400 m. Perjalan bekantan hingga 400 m dari tepi sungai dicapai pada DR 1.100 m. Dalam melakukan aktivitas harian, terutama makan, bekantan memencar dalam bentuk sub kelompok dengan jumlah 5-11 individu. Strategi ini bertujuan untuk efisien waktu dan pergerakan kelompok dalam memanfaatkan sumber pakan yang ada di ruang pengembaraannya. Sub kelompok berpencar dalam jarak 50-150 m satu sama lain. Sub kelompok dapat tersebar dalam areal 1 ha (Salter et al., 1985) dan di lokasi tempat bermalam di tepi sungai berpencar dalam jarak 50 m (Rajanathan dan Bennett, 1990; Bismark, 1994).
Perpindahan kelompok bekantan terjadi dua kali dalam satu hari. Perpindahan pertama terjadi dari sumber air tertentu yang dipergunakan sebagai lokasi tidur ke sumber air lain, tempat bekantan melakukan sebagian besar aktivitas pada siang hari. Perpindahan kedua terjadi dari sumber air untuk aktivitas siang ini ke sumber air berikutnya yang dipergunakan sebagai lokasi tidur pada malam harinya. Penjelasan ini memperkuat pendapat Bismark (1986) bahwa pola pergerakan bekantan berorientasi pada lokasi tempat tidur, tempat makan, dan istirahat. Perpindahan antar sumber air sebanyak dua kali sehari dilakukan oleh 70% dari kelompok bekantan, dan 30%-nya melakukan perpindahan satu kali sehari.
2.8 Perilaku Makan
Primata mempunyai komposisi pakan tertentu, sesuai dengan habitat dan musim (Curtin dan Chivers, 1979; Iwamoto, 1982; Harrison, 1984) sehingga keadaan ini dapat menunjukkan perbedaan pola perilaku makan. Perilaku makan primata berkaitan erat dengan kualitas sumber pakan seperti tingginya kadar selulosa yang tidak dapat dicerna serta adanya senyawa sekunder seperti tanin dalam pakan sehingga kedua komponen ini merupakan faktor utama dalam ekologi makan (feeding ecology) primata (Harison, 1984).
Richard (1977) menelaah teknik makan, tempat dan ketinggian, pola aktivitas, komposisi pakan, bagian yang dimakan, variasi pakan dan jumlahnya serta pola pergerakan sebagai parameter perilaku makan. Menurut jumlah dan jenis makanannya, primata digolongkan pada dua tipe, yaitu frugivorous yang lebih dominan memakan buah dan folivorous yang lebih dominan memakan daun. Suku Hylobatidae termasuk tipe frugivorous, sedangkan anak suku Colobinae (Presbytis spp. dan Nasalis larvatus) tergolong dalam tipe folivorous.
Hasil gambar untuk bekantan makan
Gambar 4.Bekantan Makan
Primata dari anak suku Colobinae mempunyai sistem pencernaan mirip ruminansia. Sistem pencernaan tersebut dikenal dengan polygastric, di antaranya terdapat organ forestomach, tempat terjadinya proses fermentasi makanan oleh bekteri. Dari hasil proses fermentasi tersebut diperoleh (Bennet, 1983):
1.      Bakteri yang menghasilkan vitamin. Dengan demikian satwa tidak terlalu bergantung pada vitamin yang dikandung makanan, kecuali vitamin A dan D.
2.      Bakteri yang dapat menggunakan nitrogen non protein untuk tumbuh. Urea yang terjadi akibat katabolisme protein dapat diubah oleh bakteri menjadi protein. Bakteri dapat lolos dari lambung ke usus halus sehingga satwa mendapat tambahan protein yang berkualitas tinggi.
3.      Penggunaan urea dalam sintesa protein oleh mikro flora menyebabkan penurunan jumlah urea sehingga menghemat pengeluaran air dalam bentuk urin.
4.      Bakteri yang dapat menetralisir pengaruh tanin yang berasal dari tumbuhan yang dimakan satwa
5.      Besarnya jumlah bakteri dan perkembangbiakan yang cepat menyebabkan laju fermentasi juga cepat sehingga proses pembuatan tanin pada makanan baru tidak aktif. Di samping itu terjadi pula degradasi karbohidrat menjadi asam lemak yang mudah menguap.
Primata monogastric seperti Hylobates spp. umumnya memakan pakan yang mudah dicerna, banyak mengandung gula serta tidak mengandung alkoloid. Perbedaan lain antara primata monogastric dengan jenis Colobinae adalah dalam menenuhi kebutuhan nutrisi tertentu di mana primata monogastric memakan pakan dengan nutrisi rendah dalam jumlah besar karena proses pencernaan lebih cepat, sedangkan Colobinae akan mengkonsumsi tumbuhan yang bergizi tinggi (Bennett, 1983).
Menurut Milton (1981) perilaku memilih pakan pada primata berkaitan dengan ukuran tubuh dan anatomi pencernaan. Hubungan dengan anatomi pencernaan yaitu volume saluran pencernaan bekantan lebih besar di antara jenis Colobinae lain Bekantan tergolong primata folivorous (pemakan daun) (Rodman, 1978; Yeager, 1989; Bennett dan Sebastian, 1989). Golongan folivorous mendapat protein esensial dari daun, sedangkan golongan frugivorous menambah kebutuhan proteinnya dari buah dan biji (Hladik, 1978). Bekantan memakan daun, bunga, dan buah yang ada di ujung-ujung cabang, namun posisi bekantan pada cabang besar di tengah tajuk, meraih ranting di sekitarnya atau duduk di atas ranting. Posisi bekantan sewaktu mencari makan serupa dengan teknik P. obscura dan P. melalophos yang dilaporkan Fleagle (1980).
Daun yang dikonsumsi bekantan adalah daun muda dengan urutan 1 sampai 3 dari ujung ranting. Pakan tersebut dapat diambil langsung dengan mulut atau dengan cara memetik. Daun dimakan satu per satu atau dua lembar dengan cara menggigit hingga tiga kali. Setiap gigitan dikunyah antara 10-30 kali, buah A. officinalis dimakan satu per satu dan dikunyah 15-30 kali, sehingga dalam 5 menit bekantan mengkonsumsi 7,5 lembar daun atau 15,6 buah A. officinalis. Mengunyah sebanyak 10-30 kali adalah salah satu strategi bekantan untuk membantu pencernaan secara fisik dan merangsang keluarnya air liur guna mempertahankan pH lambung agar proses fermentasi pakan oleh bakteri lambung dapat berjalan optimum (Bismark, 1994). Pada umumnya Na+ yang ada dalam rumen ruminansia berasal dari air liur (Durand dan Kawashima, 1980), yang berperan untuk menjaga kestabilan pH lambung (Bennet, 1983).
Jenis tumbuhan mangrove yang dimakan bekantan adalah R. apiculata, officinalis, B. gymnorrhiza, B. parviflora, dan A. cobbe. Bagian yang dimakan meliputi daun, bunga, buah dan kulit batang dengan indeks keragaman 1,748 Dari hasil pengamatan feces, selain daun, bunga, buah, dan kulit batang ditemukan pula partikel kepiting dan rayap. Bekantan juga dilaporkan memakan cendawan Stereum lobatum (Bismark, 1980), dan bunga Nipa fruticans (Bennett dan sebastian, 1988 Penelitian Yeager (1988) menyebutkan ada 47 jenis tumbuhan yang dimakan bekantan di hutan rawa gambut tapi tiap bulan hanya dikonsumsi 10-23 jenis (rata rata 14,9 jenis) dengan keragaman jenis 0,86-2,21. Salter et al. (1985) menyebutkan bahwa jenis pakan bekantan di dua lokasi penelitian (TN Bako dan Suaka Margasatwa Samunsam) meliputi habitat mangrove, rawa nipah, hutan tepi sungai, hutan Dipterocarpaceae dan kerangas yang memiliki jenis pakan tidak kurang dari 90 jenis tumbuhan.
Berdasarkan kelas umur, individu bekantan betina dewasa, setengah dewasa, dan remaja dengan berat badan rata-rata adalah 8,84 kg mengkonsumsi pakan dengan komposisi terdiri dari 81,14% daun, 8,38% buah, 7,68% bunga; serta serangga, kepiting, dan kulit kayu sejumlah 2,8% dengan jumlah pakan 900 g berat basah atau 270,25 g dalam berat kering (Tabel 39). Waktu yang diperlukan untuk mengkonsumsi adalah 3,01 jam per hari (Tabel 40). Bila dibandingkan dengan produksi daun muda, hanya 1% dari produktivitas hutan mangrove yang dikonsumsi bekantan. Hladik (1978) melaporkan bahwa primata pemakan daun hanya mengkonsumsi daun dalam total produktivitas hutan yang berkisar antara 0,5-4%.
2.9 Konservasi
The South East Asia Zoo Association (SEAZA) dan Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesai (PKBSI) telah mengindentifikasi bahwa bekantan menduduki prioritas tinggi dalam upaya pelestarian secara insitu atau eksitu. Untuk itu telah diadakan workshop konservasi internasional di Bogor yang diselenggarakan oleh Conservation Breeding Specialist Group of the IUCN- the World Conservation Union (CBSG) dan workshop Indonesia Proboscis Monkey Population and Habitat Viability Assesment (PHVA) pada bulan Desember 2004 (Proboscis monkey PHVA, 2004).
Tingginya tingkat prioritas konservasi bekantan disebabkan oleh kekhawatiran akan penurunan populasi di alam dengan cepat. Populasi bekantan di Kalimantan kurang lebih 25.000 individu, dan dari hasil identifikasi pada 12 lokasi sebaran bekantan, populasi diperkirakan berjumlah 9.200 individu (PHVA Prosboscis monkey, 2004) dan Supriatna (2004) memprediksi populasi tinggal 15.000 individu dengan laju deforestasi habitat 2,49%. Pada tahun 1994 total populasi bekantan di Indonesia sejumlah 114.000 individu dengan salah satu contoh di TN Kutai berjumlah 400 individu (Bismark dan Iskandar, 2002).
Di kawasan konservasi kelompok bekantan terpencar antara 4-25 km (1986), rata-rata 30 km pada tahun 1994, dan jarak sebaran di luar kawasan konservasi akan bertambah seiring dengan terjadinya fragmentasi hutan di sepanjang sungai habitat bekantan, hutan rawa gambut serta terputusnya koridor yang menghubungkan danau-danau berhutan yang berpotensi sebagai habitat bekantan, seperti sebaran sub-populasi bekantan di Delta Mahakam yaitu rata-rata 50 km (Ma’ruf, 2005). Fragmentasi habitat tepi sungai akan memutus jalur migrasi populasi bekantan sewaktuwaktu bila terjadi penurunan daya dukung habitat. Demikian pula kurangnya pakan pada musim tertentu dan kebutuhan mineral yang tinggi sebagai komponen pakan bekantan secara langsung yang dapat berakibat pada penurunan populasi. Dalam setahun kelompok bekantan menggunakan kawasan hutan seluas 9 km²


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Bekantan termasuk kedalm hewan yang dilindungi, akan tetapi Menurut McNeely et al. (1990), dari 29.500 km persegi habitat bekantan, saat ini telah berkurang seluas 40%, sedangkan yang berstatus kawasan konservasi hanya 4,1%. Pada tahun 2000, laju deforestasi habitat bekantan 3,49% per tahun (Supriatna, 2004). Dari enam tipe ekosistem habitat bekantan, pada tahun 1995 telah terjadi penurunan luas habitat antara 20-88% (Meijaard, 2000) dan laju penurunan habitat ini di dalam dan di luar kawasan konservasi dua persen per tahun (PHVA Proboscis monkeys, 2004). Akibat dari penurunan luas habitat tersebut maka populasi bekantan cenderung menurun karena primata ini kurang toleran terhadap kerusakan habitat.
3.2 Saran
Melihat fenomena populasi Bekantan yang menurun penulis berharap bahwa ada upaya untuk menghambat laju kepunahan gajah dengan cara konservasi baik dengan mempertahankan populasinya di alam liar (konservasi insitu), dan memelihara sebagian populasinya dalam penangkaran (captivity) atau konservasi eksitu. Penulis berharap semoga makalah ini dapat menjadi salah satu referensi dan pengetahuan untuk memahami lebih dalam tentang populasi Bekantan di Kalimantan. Untuk menyempurnakan makalah ini penulis berharap saran dan masukan dari pembaca untuk perbaikan makalah ke depannya.











DAFTAR PUSTAKA

Bennett, E. L. 1983. The Banded Langur: Ecology of a Colobinae in West Malaysian Rain Forest. Ph.D. Dissertation, Cambridge University, Cambridge.
Bismark, M. 1980. Populasi dan tingkahlaku bekantan (Nasalis larvatus) di Suaka Margasatwa Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Laporan Penelitian Hutan No. 357.
Bismark, M. 1997. Pengelolaan habitat dan populasi bekantan (Nasalis larvatus) di Cagar Alam Pulau Kaget. Kalimantan Selatan. Diskusi Hasil Penelitian, Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam.
Bismark, M. 2009.Biologi Konservasi Bekantan. Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam. Bogor
Soendjoto, M. A. 2003. Persebaran dan status habitat bekantan (Nasalis larvatus) di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Media Konservasi 8(20): 45-57.
Soendjoto, M. A. 2005. Adaptasi bekantan (Nasalis larvatus) terhadap hutan karet: Studi kasus di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Disertasi Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor.
Soendjoto, A. M., H. S. Alikodra, M. Bismark, dan H. Setijanto. 2005. Vegetasi tepi baruh pada habitat bekantan (Nasalis larvatus) di hutan karet Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Biodiversitas 6(1):40-44.
Soendjoto, A. M., H. S. Alikodra, M. Bismark, dan H. Setijanto. 2006. Jenis dan komposisi pakan bekantan (Nasalis larvatus Wurmb.) di hutan karet Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Biodiversitas 7(1): 34-38.






No comments:

Post a Comment

RPP BAKTERI SMA

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)                         Nama Sekolah        :           SMA Mata Pelajaran         :       ...

Translate

Powered By Blogger