Laporan Evolusi


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Siapa pun yang mencari jawaban dari pertanyaan bagaimana mahluk hidup, termasuk dirinya, menjadi ada, akan menghadapi dua penjelasan yang berbeda. Yang pertama adalah penciptaan , gagasan bahwa semua mahluk hidup muncul sebagai hasil dari sebuah rancangan cerdas. Penjelasan kedua adalah teori evolusi, yang menyatakan bahwa mahluk hidup bukanlah hasil dari rancangan cerdas, tetapi dari sebab-sebab yang serba kebetulan dan proses alamiah. Dari pernyataan tersebut banyak orang memperbincangkan dan memperdebatkan teori mengenai asal-usul mahluk hidup.
Bagi sebagian orang yang berfikir dengan akalnya akan memahami bahwa adalah karya penciptaan sempurna yang tiada tara. Sedangkan bagi sebagian yang lainnya yang mempercayai teori evolusi, menganggap bahwa mahluk hidup tercipta sebagai akibat dari peristiwa kebetulan dan muncul dengan sendirinya dari kondisi alamiah dan berevolusi dari satu spesies ke spesies lain melalui berbgai peristiwa yang terjadi secara acak. Sebagian orang yang mempercayai bahwa mahluk hidup terjadi secara kebetulan kemudian bersatu dalam sebuah kepercayaan yang berlandasakan materialism. Berawal dari pemikiran ini, materialism mengingkari keberadaan Sang Maha Pencipta, yaitu Allah. Kaum materialis percaya bahwa teori evolusi atau darwinisme adalah fakta yang telah terbukti secara ilmiah, dengan amat sengit mendukungnya, dan juga, dengan sama sengitnya, menolak semua gagasan yang bertentangan dengannya.(Campbell,2003)
Mengacu pada darwinisme, dikatakan bahwa evolusi adalah proses perubahan mahluk hidup dari bentuk sederhana menjadi bentuk yang kompleks baik morfologi maupun fisiologis secara bertahap dalam waktu sangat lama yang diakibatkan adanya seleksi alam sehingga terbentuk mahluk hidup baru yang berbeda dari moyangnya. Dari penjelasan teori Darwin tersebut munculah beberapa konsekuensi yaitu :
1.      Bentuk mahluk hidup setiap selang waktu beberapa tahun akan berubah (bertahap, membutuhkan waktu yang lama)
2.      Setiap spesies mahluk hidup akan terus berubah seiring dengan bergantinya generasi, sehingga terbentuk mahluk hidup yang memiliki bentuk dan sifat yang berbeda dari moyangnya
3.      Terbentuknya spesies baru sehingga terjadi keragaman mahluk hidup
4.      Spesies yang tidak dapat bertahan karena seleksi alam akan mengalami kepunahan
5.      Evolusi bersifat irreversible sehingga tidak ditemukan lagi mahluk hidup sederhana karena sudah menjadi kompleks
6.      Sesungguhnya tidak terdapat spesies terminal/ akhir/ definitive
Selama satu setengah abad hingga sekarang, teori evolusi telah menerima dukungan luas dari masyarakat ilmiah. Ilmu Biologi diterangkan dalam penjelasan-penjelasan berdasarkan konsep-konsep evolusionis. Itulah mengapa, antara kedua penjelasan antara penciptaan dan evolusi, kebanyakan orang beranggapan bahwa penjelasan evolusionis lebih ilmiah. berdasarkan hal itu, mereka mempercayai bahwa evolusi merupakan sebuah teori yang didukung oleh temuan-temuan ilmiah, sementara penciptaan dianggap sebagai kepercayaan berlandaskan keimanan. Namun faktanya, temuan-temuan baru ilmu pengetahuan modern telah membuat teori evolusi menjadi tidak berlaku lagi. Berbagai cabang ilmu pengetahuan seprti paleontology, genetika, biokimia dan biologi molekuler telah membuktikan bahwa tak mungkin mahluk hidup tercipta akibat kebetulan atau muncul dengan sendirinya dari kondisi alamiah. Dan ilmu pengetahuan menunjukan bahwa segala yang ada merupakan hasil ciptaan sesuatu yang lebih tingi.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah evolusi terjadi ?
2.      Apa saja bukti-bukti bahwa evolusi tidak terjadi ?
3.      Bagaimana bantahan yang menguatkan bahwa evolusi tidak terjadi ?
C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui apakah evolusi terjadi
2.      Untuk mengetahui apa saja bukti-bukti bahwa evolusi tidak terjadi
3.      Untuk mengetahui bagaimana bantahan yang menguatkan bahwa evolusi tidak terjadi


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Tinjauan Kritis terhadap teori Evolusi
Terdapat lebih dari satu juta spesies makhluk hidup yang menghuni bumi. Bagaimana beragam spesies dengan keseluruhan ciri yang sama sekali berbeda dan rancangan sempurna ini muncul menjadi ada? Setiap orang yang menggunakan akalnya akan memahami bahwa kehidupan adalah karya penciptaan sempurna yang tiada tara.. Tetapi, teori evolusi menolak kebenaran yang jelas ini. Mengacu pada darwinisme, dikatakan bahwa evolusi adalah proses perubahan mahluk hidup dari bentuk sederhana menjadi bentuk yang kompleks baik morfologi maupun fisiologis secara bertahap dalam waktu sangat lama yang diakibatkan adanya seleksi alam sehingga terbentuk mahluk hidup baru yang berbeda dari moyangnya (Susanto,2018). Evolusi 'adalah istilah yang banyak digunakan tetapi ambigu. Banyak peneliti organisasi (Huygens et al., 2001; Jenkins dan Floyd, 2001; Jones, 2001; Lewin dan Volberda, 2003; Rodrigues dan Child, 2003) merujuk pada 'evolusi' atau 'co-evolution' sementara tidak cukup jelas apa yang mereka berarti. Tidak ada arti umum yang mapan untuk istilah-istilah ini. Dalam beberapa disiplin akademis ‘evolusi’ membangkitkan Darwinisme, tetapi di tempat lain (terutama dalam ekonomi evolusioner saat ini) merujuk secara lebih samar dan luas untuk berubah.(Houdgsn,2017)
Secara ringkas evolusi menyatakan bahwa keanekaragaman bentuk kehidupan muncul sebagai hasil perubahan susunan genetiknya. Organisme-organisme modern merupakan keturunan dari bentuk-bentuk kehidup-an sebelumnya yang mengalami modifikasi (Luthfi.dkk,2005)
Dari penjelasan teori Darwin tersebut munculah beberapa konsekuensi yaitu :
1.      Bentuk mahluk hidup setiap selang waktu beberapa tahun akan berubah (bertahap, membutuhkan waktu yang lama)
2.      Setiap spesies mahluk hidup akan terus berubah seiring dengan bergantinya generasi, sehingga terbentuk mahluk hidup yang memiliki bentuk dan sifat yang berbeda dari moyangnya
3.      Terbentuknya spesies baru sehingga terjadi keragaman mahluk hidup
4.      Spesies yang tidak dapat bertahan karena seleksi alam akan mengalami kepunahan
5.      Evolusi bersifat irreversible sehingga tidak ditemukan lagi mahluk hidup sederhana karena sudah menjadi kompleks
6.      Sesungguhnya tidak terdapat spesies terminal/ akhir/ definitive
Dari konsekuensi diatas mengundang respon atau tanggaan terhadap teori evolusi khususnya oleh para penganut aliran penciptaan. Darwin dianggap memisahkan Tuhan jauh-jauh dari tindakan penciptaan, meski ada yang berpandangan bahwa “menciptakan sesuatu dengan potensi evolusi bawaan adalah lebih hebat daripada menciptakan suatu entitas yang baku”. On the Origin of Species (2002) mendapat kecaman dari banyak kalangan terutama oleh agamawan karena dianggap tidak mendukung gambaran mengenai penciptaan seperti yang tertuang dalam kitab suci (Hidayat,2014). Menurut aliran penciptaan setiap spesies pertamakali muncul dalam keadaan sempurna, seperti yang kita temukan pada saat ini, melalui prosespenciptaan. Dengan demikian aliran penciptaan juga meyakini baha tidak mungkin ada seekor binatang memiliki struktur dan kebiasaan yang terbentuk dari modifikasi binatang yang hidup sebelumnya dengan struktur dan kebiasaan yang sama sekali berbeda. (Susanto,2018)
Adapun tentang naluri yang dimiliki oleh binatang tidak mungkin diperoleh dan dimodifikasi melalui seleksi alam karena naluri tersebut dimiliki oleh hewan berkat pemberian oleh sang pencipta, dimana ada bataan-batasan yang ketat diantara spesies-spesies yang melakukan perkawinan atara varietas-varitasna (Susanto,2018)
Aliran penciptaa juga memeberikan penjelasan bahwa lapsan bumi tertua tempat ditemukannya fosil-fosil mahluk hidup secara bersamaan adalah lapisan kambrium, yang berkisar 500 - 550 juta tahun yang lalu.
B.     Kesulitan-Kesulitan dalam Teori Evolusi
Sebagaimana diakui Darwin sendiri dalam bukunya The Origin of Species Bab VI : Difficulities of the theory, dalam teori evolusi Darwin ditemukan adanya kesulian-kesulitan yang dapat disimpulkan kedalam 4 kesulitan, dan dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.   Apabila spesies-spesies adalah keturunan spesies lain dengan cara gradasi, mengapa tidak ditemukan bukti-bukti yang cukup banyak adanya bentuk transisi, dan mengapa seluruh lam tidak berada dalam kekacauan tetapi spesies yang ada justru menunjukan keharmonisan dan keserasian.
2.   Apakah mungkin struktur dan kebiasaan yang terbentuk dari modifikasi bintang yang hidup sebelumnya dengan struktur dan kebiasaan yang sama sekai berbeda
3.   Dapatkah nalui diperoleh dan dimodofikasi melalui seleksi alam
4.   Bagaimana penjelasn tentang perkawinan antar spesies atau varietas sehingga menghasilkan variasi tanpa batas, dan demikian pula ditemukad adanya ketidasempurnaan dalam catatan geologis.
Dari pernataan tersebut secara tidak langsung memberikan kelemahan terhadap teori evolusi, sehingga mendukung bahwa evolusi tersebut tidak terjadi. 
C.    Tidak Terjadinya Perubahan dari Sedehana ke kompleks
Walaupun teori evolusi kimia telah teruji melalui eksperimen di laboratorium, namun demikian yang menjadi masalah utama adalah belum dapat terjawabnya : bagaimana mekanisme peralihan dari senyawa kompleks menjadi mahluk hidup yang paling sederhana. Teori evolusi biologi belum ada yang menguji secara eksperimental. Walaupun yang dikemukakan dalam teori itu benar, namun tetap saja belum dapat menjelaskan tentang dari mana dan dengan cara bagaimana kehidupan muncul, hal ini disebabkan karena kehidupan tidak sekedar mengangkut kemampuan replikasi diri sel. Kehidupan lebih dari itu semua, tidak hanya kehidupan biologis, tetapi juga kehidupan rohani yang meliputi moral, etika, estetika, dan inteligensia. (Susanto,2018)
Seperti yang kita pahami, catatan fosil menunjukan bahwa mahluk hidup tidak berevolusi dari bentuk primitif kebentuk yang lebih maju, tetapi muncul secara tiba-tiba dan dalam keadaan sempurna. Ringkasnya, mahluk hidup tidak muncul melalui evolusi, tetapi diciptakan. Hal ini dijelaskan dalam AL-Quran :
إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Artinya :
Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: "kun (jadilah)", maka jadilah ia.
Seperti yang kita pahami, catatan fosil menunjukkan bahwa makhluk hidup tidak berevolusi dari bentuk primitif ke bentuk yang lebih maju, tetapi muncul secara tiba-tiba dan dalam keadaan sempurna. Ringkasnya, makhluk hidup tidak muncul melalui evolusi, tetapi diciptakan

Hasil gambar untuk gambar fosil capung saat ini
(Gambar 2.1)
Bentuk fosil capung yang berbentuk sama seperti capung pada umumnya yang ada dimasa sekarang membuktikan tidak adanya perubahan dari sederhana menjadi kompleks. Masih ditemukannya mahluk hidup sederhana pada masa kini yakni bakteri yang disusun oleh satu se atau uniselluler
Hasil gambar untuk bakteri maluk hidup sederhana
(Gambar 2.2 tubuh bakteri tersusun oleh 1 sel)
Dari gambar tesebut dapat dilihat bahwa bakteri merupakan mahluk hidup uniseluller dan merupakan mahluk hidup sederhana sehingga merunntuhkan anggapan kaum evolusionis bahwa evolusi adalah perubahan mahluk hidup dari bentuk sederhana menjadi bentuk yang kompleks.


D.    Tidak Terbukti Bahwa Mahluk Hidup Berkebang dari Kahidupan Akuatik ke Terestrial
Evolusionis menyatakan bahwa suatu ketika, spesies yang hidup di air naik ke darat dan berubah menjadi spesies darat. Ada sejumlah fakta yang sangat jelas menunjukkan kemustahilan transisi seperti itu:
1. Keharusan membawa beban tubuh: makhluk penghuni air membawa beban tubuh mereka tanpa masalah. Tetapi, bagi sebagian besar binatang darat, 40% energi mereka habis hanya untuk membawa beban tubuh mereka. Makhluk hidup yang berpindah dari air ke darat harus mengembang-kan sistem otot dan kerangka baru (!) secara bersamaan agar dapat memenuhi kebutuhan energi ini. Suatu hal yang tidak mungkin terjadi melalui mutasi kebetulan.
2. Daya tahan terhadap panas: suhu daratan dapat berubah dengan cepat dan naik-turun dalam rentang yang lebar. Makhluk hidup di darat memiliki mekanisme tubuh yang dapat menahan perubahan-perubahan suhu yang besar itu. Akan tetapi, suhu lautan berubah secara perlahan dan perubahan tersebut tidak terjadi dalam rentang yang terlalu lebar. Organisme hidup dengan sistem tubuh sesuai temperatur laut yang konstan akan membutuhkan suatu sistem perlindungan agar perubahan suhu di darat tidak akan membahayakan. Sangat tidak masuk akal bahwa ikan mendapatkan sistem tersebut melalui mutasi acak segera setelah mereka naik ke darat.
3. Penggunaan air: air dan kelembaban yang penting untuk metabolisme harus digunakan sehemat mungkin karena kelangkaan sumber air di darat. Sebagai contoh, kulit harus dirancang agar dapat mengeluarkan air sejumlah tertentu, sekaligus mencegah penguapan berlebihan. Karenanya, makhluk hidup di darat memiliki rasa haus karakteristik yang tidak dimiliki organisme air. Di samping itu, kulit tubuh hewan air tidak sesuai untuk habitat non-air.
4. Ginjal: organisme air dapat dengan mudah membuang zat-zat sisa dalam tubuh mereka (terutama amonia) dengan penyaringan, karena banyaknya air dalam habitat mereka. Di darat, air harus digunakan sehemat mungkin. Itulah sebabnya hewan darat memiliki sistem ginjal. Berkat ginjal, amonia disimpan dengan cara mengubahnya menjadi urea dan hanya membutuhkan sejumlah kecil air untuk membuangnya. Di samping itu, beberapa sistem baru dibutuhkan untuk membuat ginjal berfungsi. Singkatnya, agar perpindahan dari air ke darat dapat terjadi, makhluk hidup tanpa ginjal harus membentuk sistem ginjal secara tiba-tiba.
5. Sistem pernapasan: ikan “bernapas” dengan mengambil oksigen yang terlarut dalam air yang mereka alirkan melewati insang. Mereka tidak mampu hidup lebih dari beberapa menit di luar air. Agar mampu hidup di darat, mereka harus mendapatkan sistem paru-paru yang sempurna secara tiba-tiba. Tentu saja mustahil bahwa semua perubahan fisiologis yang dramatis ini dapat terjadi pada organisme yang sama, pada saat bersamaan, dan secara kebetulan. (Yahya:2004)

E.     Kesalah fahaman Tentang Seleksi Alam
Darwin mengemukakan sebuah gagasan sebagai “mekanisme evolusi”: Seleksi Alam. Seleksi Alam membahas seputar gagasan bahwa makhluk hidup paling kuat yang paling mampu menyesuaikan diri dengan tempat hidup mereka akan tetap hidup. Misalnya, dalam sekelompok rusa yang dimangsa oleh binatang buas, rusa yang mampu lari lebih cepat akan bertahan hidup. Tetapi, tentu saja mekanisme seperti ini tidak akan menyebabkan rusa berevolusi – ini tidak akan merubah mereka menjadi spesies lain seperti gajah, misalnya. (Yahya,2002). Sebagaimana kemustahilan munculnya kehidupan di muka bumi secara kebetulan, adalah tidak mungkin bagi spesies makhluk hidup untuk merubah diri mereka sendiri menjadi spesies lain. Sebab, tidak ada kekuatan yang mampu mendorong terjadinya peristiwa seperti ini di alam. Apa yang kita sebut alam adalah kumpulan dari atom-atom yang tidak memiliki kesadaran dan akal yang menyusun tanah, bebatuan, udara, air dan segala sesuatu yang lain. Tumpukan benda mati ini tidak memiliki kekuatan untuk merubah makhluk tak bertulang belakang (invertebrata) menjadi seekor ikan, kemudian menjadikannya naik ke darat dan berubah menjadi seekor reptil, dan kemudian merubahnya menjadi seekor burung dan menjadikannya mampu terbang, dan akhirnya menjadikannya seorang manusia. (Yahya,2002).

F.     Mutasi
Sadar  bahwa  seleksi  alam  tidak  berfungsi  mendorong  terjadinya  evolusi,  evolusionis lalu memunculkan konsep “mutasi” dalam teori mereka di abad ke-20. Mutasi adalah perubahan yang terjadi pada gen makhluk hidup karena pengaruh luar seperti radiasi. Evolusionis menyatakan perubahan ini menyebabkan organisme berevolusi. Akan tetapi, berbagai penemuan ilmiah menolak pernyatan ini, sebab semua mutasi yang pernah diketahui, hanya menyebabkan kerugian pada makhluk hidup. Semua mutasi yang terjadi pada manusia mengakibatkan kelainan mental maupun fisik seperti mongolisme (Down’s Syndrome), albinisme (albino), dwarfisme(tubuh pendek), atau penyakit lain seperti kanker. (Yahya,2002). Namun tampaknya selalu ada ruang bagi Tuhan dalam sains. Misalnya teori tentang mutasi DNA dan teori tentang Dentuman Besar yang menghadirkan kekuatan Pemandu dan Perekayasa bagi suatu kerja alam. Sebagai contoh dalam proses mutasi DNA, bahwa mutasi tidak akan pernah bisa terjadi bahkan dalam waktu ratusan juta tahun jika dilakukan secara acak, sehingga suatu mutasi mutlak membutuhkan Pemandu bagi proses mutasi sehingga bisa berjalan dengan baik. (Hidayat,2014).
G.    Bukti Ilmiah evolusi tidak terjadi
1.      Georges cuvier
Cuvier "beranggapan bahwa ciri-ciri anatomi yang membedakan kelompok hewan, membuktikan bahwa spesies tidak pernah berubah sejak masa kejadian. Setiap spesies begitu sempurna terkoordinasi, baik secara fungsi maupun secara struktur, sehingga tidak mungkin bisa bertahan menghadapi perubahan yang berarti." Maksudnya, Cuvier percaya bahwa hewan-hewan diciptakan dalam kelompok yang berbeda dan tetap, seperti dikatakan oleh Alkitab, Sebaliknya, "baik Lamarck maupun Geoffroy Saint-Hilaire mendukung gagasan bahwa semua hewan bisa disusun dalam "sebuah rantai besar makhluk" dari yang paling sederhana sampai yang paling rumit." Lebih lanjut, mereka juga percaya bahwa dengan berlalunya waktu, satu spesies bisa secara bertahap berevolusi menjadi spesies yang lebih tinggi. Lamarck mengatakan bahwa mekanisme yang memungkinkan terjadinya perubahan ini adalah "dipakai tidaknya berbagai anggota tubuh hewan." Lamarck juga percaya bahwa dalam dokumen fosil terdapat cikal- bakal hewan-hewan modern. Dalam perdebatan panjang tersebut, argumentasi paling kuat yang diajukan Cuvier adalah bahwa Lamarck tidak bisa membuktikan adanya transformasi spesies. Sedangkan Cuvier bisa menunjukkannya dari bukti- bukti yang dibawa kembali ke Prancis oleh tentara Napoleon.
Bukti-bukti itu memperlihatkan bahwa hewan peliharaan tidak berubah sejak zaman Mesir kuno. Dia juga menunjukkan bahwa lenyapnya berbagai jenis hewan adalah karena hewan tersebut punah, bukan karena berubah menjadi spesies baru." Cuvier dengan tepat menunjukkan bahwa dokumen fosil justru menentang evolusi dan bukan mendukungnya. Dia mengatakan bahwa "jika spesies memang berubah secara bertahap, kita seharusnya bisa menemukan jejak perubahan itu; antara (fosil) paleotherium dan spesies yang ada sekarang seharusnya ada bentuk antara: tapi ini tidak pernah ada." Hingga sekarang hal ini masih belum terbantah, meskipun berjuta-juta fosil baru telah ditemukan sejak zaman Cuvier. Cuvier dan Lamarck juga tidak sepaham mengenai bagaimana kehidupan dimulai. Lamarck percaya adanya pemunculan spontan, yaitu bahwa kehidupan bisa berasal dari benda tak bernyawa. Namun, Cuvier menunjukkan bahwa "kehidupan selalu berasal dari kehidupan. Kita melihat kehidupan dialihkan tapi tidak pernah diciptakan." Sampai hari ini, tidak pernah ditemukan adanya kehidupan yang berasal dari yang non-hidup, sehingga membuktikan bahwa evolusi tersebut tidak terjadi.( Helmi,2017)
H.    Evolusionisme Kontras dengan Iman Kristen
Setiap orang yang menolak adanya Tuhan akan bergantung kepada evolusi untuk menjelaskan alam semesta tanpa ahli desain. Hal itu merupakan dasar bagi berbagai pandangan dan kehidupan seperti atheisme, agnostisisme, dan yang berkaitan dengannya, yaitu humanisme sekuler dengan mottonya, "Jika tidak ada pencipta, maka tidak ada penilik untuk mengatur kita selain kita." Dengan demikian tidak ada alasan yang masuk akal untuk hidup berdasarkan prinsip-prinsip yang tertulis dalam Sepuluh Hukum (Taurat), atau bagian lain dalam Perjanjian Lama itu ditolak sebagai mitos budaya.(Saragi,2015)
Isi Alkitab (yang diyakini orang Kristen sebagai pewahyuan Ilahi dari Tuhan), yang secara konsisten terus menyatakan diriNya di dalamnya, telah menciptakan bumi dengan baik (tanpa kematian, perebutan, kekerasan, kekejaman dan pertumpahan darah). Namun alam semesta dan segala isinya telah terkutuk (Kej. 3; Rom. 8) sebagai akibat pendurhakaan (dosa) manusia pertama, Adam, terhadap Penciptanya. Inilah permulaan dosa masuk ke dalam dunia. (Saragi,2015)
I.       Manusia Bukan Merupakan Produk Evolusi
Pada hakikatnya dalam Alqur‟an manusia disebut dengan berbagai nama diantaranya: al- Basyr, al- Insan, an- Nas, dan konsep Bani Adam yang dalam hal ini sebagai penolakan terhadap teori Darwin tentang evolusi bahwa manusia adalah keturunan dari  kera.  Adapun  pemahaman  tentang  peran  manusia  sangat  erat  kaitannya dengan sebutan yang disandangnya. (Mualimin,2017)
a.       Konsep Al- Basyr (رشبلا )
Manusia dalam konsep al- Basyr, dipandang dari pendekatannya biologis. Sebagai mahluk biologis adalah manusia terdiri atas unsur materi, sehingga menampilkan sosok kedalam bentuk fisik material, yaitu berupa tubuh kasar (ragawi). Berdasarkan konsep al- Basyr, manusia tidak jauh berbeda dengan makhluk biologis yang lainnya. Dengan demikian kehidupan manusia sangat terikat kepada kaidah-kaidah prinsip kehidupan biologis yang lain seperti berkembang biak, mengalami fase pertumbuhan dan perkembangan untuk mencapai tingkat kematangan serta kedewasaan. Manusia memerlukan makan, minum dengan kreteria yang halal serta bergizi.(Mualimin,2017)
b.      Konsep Al- Insan  ( ن بسنلاا )
Al-Insan terbentuk dari akar kata Nasiya ( يسن), Nisyu ( يسن ) yang berati lupa, dari kata Insu ( ىسنا ) artinya senang, jinak, harmonis, dan ada juga dari akar kata Naus ( سئن ) yang mengandung arti “pergerakan atau dinamisme”. Merujuk pada asal kata al- Insan dapat kita pahami bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki potensi yang positif dalam tumbuh serta berkembang secara fisik maupun mental spiritual. Di samping itu, manusia juga diberikan dengan jumlah potensi lain, yang berpeluang untuk mendorong dirinya ke arah tindakan, sikap, serta prilaku yang negatif dan merugikan. (Mualimin,2017)
c. Konsep An- Nas ( سبنلا )
Kosa kata An- Nas dalam Al- Qur‟an umumnya dihubungkan dengan fungsi manusia sebagai makhluk sosial. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang bermasyarakat, yang berawal dari pasangan laki-laki dan wanita kemudian berkembang menjadi suku dan bangsa untuk saling kenal mengenal “berinterksi”. (Mualimin,2017)





BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas  dapat disimpulkan bahwa teori evolusi memunculkan beberapa konsekuensi yang dapat mempengaruhi pandangan terhadap asal-usul kehidupan, dalam beberapa penganut teori evolusi berpendapat bahwa mahluk hidup tercipta sebagai akibat dari peristiwa kebetulan dan muncul dengan sendirinya dari kondisi alamiah dan berevolusi dari satu spesies ke spesies lain melalui berbgai peristiwa yang terjadi secara acak. Tetapi hal tersebut belum dapat diuktikan kebenarannya dan blum dapat menjawab bantahan dan kritikan terhadap teori tersebut sehingga evolusi tidak benar-benar terjadi.
B.     SARAN
Dalam menerima suatu ilmu pengetahuan hendaknya kita lebih mendalami kembali informasi yang telah kita dapatkan sehingga tidak terjadinya kesalahan konsep dalam mengkaji suatu ilmu















DAFTAR PUSTAKA
Hidayat,samsul.2017. SACRED SCIENCE vs. SECULAR SCIENCE: Carut Marut Hubungan Agama dan Sains.STAIN: Pontianak
Hodgson. Geoffrey M.2017. Understanding Organizational Evolution: Toward a Research Agenda using Generalized Darwinism. University of Hertfordshire, UK
Helmi.2017. EVOLUSI ANTAR SPECIESn(LELUHUR SAMA DALAM PERSPEKTIF PARA PENENTANG). Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Djuanda Bogor
Luthfi.M.J,dkk.2005.Agama dan Evolusi:Konflik atu Kompromi. Fakult Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga.
Mualimin.2017. Konsep Fitrah Manusia  dan Implikasinya dalam Pendidikan Islam. Universitas Negeri Lampung
Saragi.2015. Ancaman Evolusionis Terhadap Pendidikan Kristen. Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta
Yahya, Harun.2002. Menyibak Tabir Evolusi. Global Cipta Publishing,: Jakarta








No comments:

Post a Comment

RPP BAKTERI SMA

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)                         Nama Sekolah        :           SMA Mata Pelajaran         :       ...

Translate

Powered By Blogger