LAPORANM STATISTIKA UJI RELIABILITAS


ACARA 1
UJI VALIDITAS
I.       TUJUAN
1.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan uji validitas
2.      Untuk mengetahui langkah-langkah uji validitas melalui program SPSS
3.      Untuk mengetahui tingkat kevaliditasan suatu item soal yang telah dibuat

II.    DASAR TEORI
Uji validitas adalah suatu langkah pengujian yang dilakukan terhadap isi (content) dari suatu instrumen, dengan tujuan untuk mengukur ketepatan instrumen yang digunakan dalam suatu penelitian tujuan dari uji validitas ini adalah mengetahui sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen pengukuran dalam melakukan fungsi ukurnya. Agar data yang diperoleh bisa relevan/sesuai dengan tujuan diadakannya pengukuran tersebut. (Sugiyono,2006).
Validitas dalam penelitian menyatakan derajat ketepatan alat ukur penelitian terhadap isi sebenarnya yang diukur. Uji validitas adalah uji yang digunakan untuk menunjukkan sejauh mana alat ukur yang digunakan dalam suatu mengukur apa yang diukur. Uji validitas digunakan untuk mengukur sah,  atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut (Ghozali, 2009).
Suatu tes dapat dikatakan memiliki validitas yang tinggi jika tes tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang  tepat dan akurat sesuai dengan maksud dikenakannya tes tersebut. Suatu tes menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan diadakannya pengukuran dikatakan sebagai tes yang memiliki validitas rendah. Sisi lain dari pengertian validitas adalah aspek kecermatan pengukuran. Suatu alat ukur yang valid dapat menjalankan fungsi ukurnya dengan tepat, juga memiliki kecermatan tinggi. Arti kecermatan disini adalah dapat mendeteksi perbedaan-perbedaan kecil yang ada pada atribut yang diukurnya (Ghozali, 2009).
Validitas sebuah tes dapat diketahui dari hasil pemikiran dan dari hasil pengalaman. Hal yang pertama akan diperoleh validitas logis (logical validity) dan hal yang kedua diperoleh validitas empiris (empirical validity). Dua hal inilah yang dijadikan dasar pengelompokkan validitas tes (Arikunto, 2010). Secara garis besar ada dua macam validitas, yaitu validitas logis dan validitas empiris.
1.      Validitas Logis
Istilah “validitas logis” mengandung kata “logis” berasal dari kata “logika”, yang berarti penalaran. Dengan makna demikian maka validitas logis untuk sebuah instrument evaluasi menunjuk pada kondisi bagi sebuah instrument yang memenuhi persyaratan valid berdasarkan hasil penalaran. Kondisi valid tersebut dipandang terpenuhi karena instrument yang bersangkutan sudah dirancang secara baik, mengikuti teori dan ketentuan yang ada. Berdasarkan penjelasan tersebut maka instrument yang sudah disusun berdasarkan teori penyusunan instrument, secara logis sudah valid. Dari penjelasan tersebut kita dapat memahami bahwa validitas logis dapat dicapai apabila instrument disusun mengikuti ketentuan yang ada. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa validitas logis tidak perlu uji kondisinya tetapi langsung diperoleh sesudah instrumen tersebut selesai disusun (Arikunto, 2010).
Ada dua macam validitas logis yang dapat dicapai oleh sebuah instrument, yaitu : validitas isi dan validitas konstrak (construct validity). Validitas isi bagi sebuah instrument menunjuk suatu kondisi sebuah instrument yang disusun berdasarkan isi materi pelajaran yang dievaluasi. Selanjutnya validitas konstrak sebuah instrument menunjukkan suatu kondisi sebuah instrument yang disusun berdasarkan konstrak aspek-aspek kejiwaan yang seharusnya dievaluasi (Arikunto, 2010).
2.      Validitas Empiris
Istilah “validitas empiris” memuat kata “empiris” yang artinya “pengalaman”. Sebuah instrumen dapat dikatakan memiliki validitas empiris apabila sudah diuji dari pengalaman. Sebagai contoh seorang dapat dikatakan kreatif apabila dari pengalaman dibuktikan bahwa orang tersebut sudah banyak menghasilkan ide-ide baru yang diakui berbeda dari hal-hal yang sudah ada. Dari penjelasn tersebut diketahui bahwa validitas empiris tidak dapat diperoleh hanya dengan menyusun instrument berdasarkan ketentuan seperti halnya validitas logis, tetapi harus dibuktikan melalui pengalaman (Arikunto, 2010).
Ada dua macam validitas empiris, yakni ada dua cara yang dapat dilakukan untuk menguji bahwa sebuah instrument memang valid. Pengujian tersebut dilaukan dengan membandingkan kondisi instrument yang bersangkutan dengan kriterium atau sebuah ukuran. Kriterium yang digunakan sebagai pembanding kondisi instrument dimaksud ada dua, yaitu : yang sudah tersedia dan yang belum ada tetapi akan terjadi diwaktu yang akan datang. Bagi instrument yang kondisinya sesuai dengan       kriterium yang sudah tersedia, yang sudah ada, disebut memiliki validitas “ada sekarang”, yang dalam istilah bahasa Inggris disebut memiliki conccuret validity. Selanjutnya instrument yang kondisinya sesuai dengan kriterium yang diramalkan akan terjadi, disebut memiliki validitas ramalan atau validitas prediksi, yang dalam istilah bahasa Inggris disebut memiliki predictive validity (Arikunto, 2010).
Dari uraian adanya dua jenis validitas, yakni validitas logis yang ada dua macam, dan valiiditas empiris, yang juga ada dua macam, maka secara keseluruhan adanya tiga validitas, yaitu :
a)      validitas isi,
b)      validitas konstrak,
c)      validitas patokan
Dua yang pertama yakni (1) dan (2) dicapai melalui penyusunan berdasarkan ketentuan atau teori, sedangkan dua berikutnya, yakni (3) dicapai atau diketahui sesudah dibuktikan melalui pengalaman (Arikunto, 2010).
a)      Validitas Isi (content validity)
Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan. Oleh karena materi yang diajarkan tertera dalam kurikulum maka validitas isi ini sering disebut validitas kurikuler. Validitas isi dapat diusahakan tercapainya sejak saat penyusunan dengan cara memerinci materi kurikulum atau materi buku pelajaran (Arikunto, 2010).
b)      Validitas konstruksi (construct validity)
Sebuah tes dikatakan memiliki validitas konstruksi apabila butir-butir soal yang membangun tes tersebut mengukur setiap aspek berpikir seperti yang disebutkan dalam Tujuan Instruksional Khusus. Dengan kata lain jika butir-butir soal mengukur aspek berpikir tersebut sudah sesuai dengan aspek berpikir yang menjadi tujuan instruksional (Arikunto, 2010).
Konstruksi dalam pengertian ini bukanlah “susunan” seperti yang sering dijumpai dalam teknik, tetapi merupakan rekaan psikologis yaitu suatu rekaan yang dibuat oleh para ahli Ilmu Jiwa yang dengan suatu cara tertentu “memerinci” isi jiwa atas beberapa aspek seperti : ingatan (pengetahuan), pemahaman, aplikasi, dan seterusnya. Dalam hal ini, mereka menganggap seolah-olah jiwa dapat dibagi-bagi. Tetapi sebenarnya tidak demikian. Pembagian ini hanya merupakan tindakan sementara untuk mempermudah mempelajari. Seperti halnya validitas isi, validitas konstruksi dapat diketahui dengan cara memerinci dan memasangkan setiap butir soal dengan setiap aspek dalam TK. Pengerjaannya dialkukan berdasarkan logika, bukan pengalaman (Arikunto, 2010).
c)      Validitas Patokan ( Criterion Validity)
Jenis validitas patokan dapat dibedakan atas dua tipe yaitu :
1)      Validitas Pengukuran Serentak (concurrent validity)
Validitas ini lebih umum dikenal dengan validitas empiris. Sebuah tes dikatakan memilki validitas empiris jika hasilnya sesuai dengan pengalaman. Jika ada istilah “sesuai” tentu ada dua hal yang dipasangkan. Dalam hal ini hasil tes dipasangkan dengan hasil pengalaman. Pengalaman selalu mengenai hal yang telah lampau sehingga data pengalaman tersebut sekarang sudah ada (ada sekarang, concurrent) (Yusuf, 2015).
Dalam membandingkan hasil sebuah tes maka diperlukan suatu kriterium atau alat banding. Maka hasil tes merupakan sesuatu yang dibandingkan. Mislanya seorang guru ingin mengetahui apakah tes sumatif yang disusun sudah valid atau belum. Untuk itu diperlukan sebuah kriterium masa lalu yang sekarang datanya dimiliki. Misalnya nilai ulangan harian atau nilai ulangan sumatif yang lalu (Yusuf, 2015).
2)      Validitas prediksi (predivtive validity)
Memprediksi artinya meramal, dengan meramal selalu mengenai hal yang akan datang jadi sekarang belum terjadi. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas prediksi atau validitas ramalan apabila mempunyai kemmauan untuk meramalkan apa yang akan terjadi pada masa yang akan dating. Sebagai alat pembanding validitas prediksi adalah nilai-nilai yang diperoleh setelah peserta tes mengikuti pelajaran di Perguruan Tinggi. Jika ternyata siapa yang memiliki nilai tes lebih tinggi gagal dalam ujian semester I dibandingkan dengan yang dahulu nilai tesnya lebih rendah maka tes masuk yang dimaksud tidak memiliki validitas prediksi (Yusuf, 2015).
Klasifikasi yang digunakan untuk menginterpretasikan koefisien korelasi validitas sebagai berikut :
0,90 ≤ r hitung < 1,00
Validitas sangat tinggi
0,70 ≤ r hitung < 0,90
Validitas tinggi
0,40 ≤ r hitung < 0,70
Validitas sedang
0,20 ≤ r hitung < 0,40
Validitas rendah
0,00 ≤ r hitung < 0,20
Validitas angat rendah
r hitung ≤ 0,00
Tidak valid
(Suherman, 2003)
III. ALAT DAN BAHAN
A.    ALAT
1.      Laptop
2.      Stop kontak
3.      Alat tulis
B.     BAHAN
1.      Responden 10 orang
2.      Software SPSS versi 22
3.      Soal test

IV. CARA KERJA
1.      Menyusun instrument soal pilihan ganda sebanyak 10 orang
2.      Memilih responden yang akan mengerjakan instrument soal yang telah dibuat sebanyak 10 orang
3.      Mengoreksi hasil pekerjaan responden kemudian data tersebut dimasukan ke program MS.Excel
4.      Membuka program spss versi 22
5.      Mengisi data responden pada data view
6.      Kemudian setelah mengisi data responden pada data view selanjutnya klik variabel view
7.      Pada kolom name mengganti “Var00001” menjadi “item 1” begitupun sampe data nomer 10
8.      Pada kolom decimal mengganti angka “2” menjadi “0” dari data ke 1 sampai dengan 10
9.      Pada kolom label mengisi kata “ITEM1” dari data 1 sampai dengan 10
10.  Pada kolom measure mengganti “unknown” menjadi “nominal”
11.  Setelah selesai kemudian klik analyze kemudian akan muncul tampilan seperti berikut maka selanjutnya pilih correlate dan akan muncul pilihan kemudian klik bivariate
12.  Setelah klik bivariate selanjutnya akan keluar tampilan seperti berikut ini
13.  Setelah muncul tampilan seperti berikut ini, arahkan kursor ke item 1, kemudian blok semua item dengan Ctrl+A.
14.  Pindahkan semua item dari sebelah kiri ke sebelah kanan dengan cara klik pada tanda panah kecil yang ada ditengah.
15.  Kemudian ceklis tanda pearson pada correlation coefficients, sedangkan pada test of signifikan klik two tailed dan flag significant correlattions selanjutnya klik OK dan akan muncul tampilan seperti berikut ini.
16.  Selanjutnya data validitas program spss disimpan dokumen dengan klik file kemudian save atau Ctrl + S
17.  Selanjutnya data yang dihasilkan dicopy ke dalam word
18.  Kemudian setelah dicopy kedalam word kolom item dari item 1 sampai ke 10 pada bagian vertikal dihapus dan sisakan kolom item 1 sampai 10 bagian horizontal dan kolom jumlah bagian verikal. Hingga tampilan menjadi sebagai berikut ini.
V.    HASIL ANALISIS DATA
A.    Analisis data uji validitas
Pada tabel Correlation terdapat 10 item soal yang digunakan pada uji validitas dan pada masing-masing kolom item soal yang digunakan adalah nilai Person Corelation, Sig. (2-tailed) dan N. pada hasil Correlations untuk nilai Correletion dapat dianalisis dengan menggunakan r tabel.
Correlation.

JUMLAH
KETERANGAN
ALASAN
ITEM1
Pearson Correlation
.425
Validitas sedang
0,40≤0,42<0,70
Sig. (2-tailed)
.221
dan tidak memiliki hubungan yang signifikan
0,221>0,01 dan 0,221 > 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
N
10


ITEM2
Pearson Correlation
.649*
Validitas sedang
0,40≤0,649<0,70
Sig. (2-tailed)
.042
dan memiliki hubungan yang signifikan
0,042 <0,05 yang ditandai dengan *
N
10


ITEM3
Pearson Correlation
.085
Validitas sangat rendah

0,00≤0,085<0,20
Sig. (2-tailed)
.816
dan tidak memiliki hubungan yang signifikan
0,816 >0,01 dan 0,816 > 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
N
10


ITEM4
Pearson Correlation
.234
Validitas rendah
0,20≤0,234<0,40
Sig. (2-tailed)
.516
dan tidak memiliki hubungan yang signifikan
0,516 >0,01 dan 0,516 > 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
N
10


ITEM5
Pearson Correlation
.078
Validitas sangat rendah
0,00≤0,078<0,20
Sig. (2-tailed)
.831
dan tidak memiliki hubungan yang signifikan
0,831 >0,01 dan 0,831 > 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
N
10


ITEM6
Pearson Correlation
.159
Validitas sangat rendah
0,00≤0,159<0,20
Sig. (2-tailed)
.661
dan tidak memiliki hubungan yang signifikan
0,661 >0,01 dan 0,661 > 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
N
10


ITEM7
Pearson Correlation
.649*
Validitas sedang
0,40≤0,649<0,70
Sig. (2-tailed)
.042
dan tidak memiliki hubungan yang signifikan
0,042 <0,05 yang ditandai dengan *
N
10


ITEM8
Pearson Correlation
.389
Validitas rendah
0,20≤0,649<0,40
Sig. (2-tailed)
.266
dan tidak memiliki hubungan yang signifikan
0,266 > 0,01 dan 0,266 > 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
N
10


ITEM9
Pearson Correlation
.130
Validitas sangat rendah
0,00≤0,130<0,20
Sig. (2-tailed)
.721
dan tidak memiliki hubungan yang signifikan
0,721 > 0,01 dan 0,721 > 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
N
10


ITEM10
Pearson Correlation
.425
Validitas sedang
0,40≤0,425<0,70
Sig. (2-tailed)
.221
dan tidak memiliki hubungan yang signifikan
0,221 > 0,01 dan 0,221 > 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
N
10


JUMLAH
Pearson Correlation
1


Sig. (2-tailed)



N
10


Tabel. 1 Correlation
Berdasarkan tabel 1 maka item soal dapat ditentukan tingkat validitasnya dengan melihat person correlation yang kemudian di intepretasikan dengan tabel penguji tingkat kevaliditasan suatu item, dari data tabel yang diperoleh dari 10 item soal semua item soal valid hanya saja tingkat kevaliditasannya tiap item soal yang berbeda-beda, untuk menentukan koefisien korelasi validitas item soal menggunakan tabel sebagai berikut:
0,90 ≤ r hitung < 1,00
Validitas sangat tinggi
0,70 ≤ r hitung < 0,90
Validitas tinggi
0,40 ≤ r hitung < 0,70
Validitas sedang
0,20 ≤ r hitung < 0,40
Validitas rendah
0,00 ≤ r hitung < 0,20
Validitas angat rendah
r hitung ≤ 0,00
Tidak valid
Dari data yang diperoleh tingkat kevaliditasan masih sangat rendah.  Pada tabel terdapat 2 item yang memiliki hubungan signifikansi  ditandai dengan nilai signifikansi < 0,05 yang menunjukan item tersebut valid karena memiliki hubungan yang signifikan antara item dan skor total item, ditandai dengan *
B.     Keputusan hasil analisis uji validitas
Berikut ini merupakan tabel keputusan hasil analisis uji validitas.

JUMLAH
KETERANGAN
KEPUTUSAN
ALASAN
ITEM1
Pearson Correlation
.425
Validitas sedang
Tidak valid
Karena 0,425<0,6319
Sig. (2-tailed)
.221
dan tidak memiliki hubungan yang signifikan


N
10



ITEM2
Pearson Correlation
.649*
Validitas sedang
Valid
Karena 0,649>0,6319
Sig. (2-tailed)
.042
dan memiliki hubungan yang signifikan


N
10



ITEM3
Pearson Correlation
.085
Validitas sangat rendah
Tidak valid
Karena 0,085<0,6319
Sig. (2-tailed)
.816
dan tidak memiliki hubungan yang signifikan


N
10



ITEM4
Pearson Correlation
.234
Validitas rendah
Tidak valid
Karena 0,234<0,6319
Sig. (2-tailed)
.516
dan tidak memiliki hubungan yang signifikan


N
10



ITEM5
Pearson Correlation
.078
Validitas sangat rendah
Tidak valid
Karena 0,078<0,6319
Sig. (2-tailed)
.831
dan tidak memiliki hubungan yang signifikan


N
10



ITEM6
Pearson Correlation
.159
Validitas sangat rendah
Tidak valid
Karena 0,159<0,6319
Sig. (2-tailed)
.661
dan tidak memiliki hubungan yang signifikan


N
10



ITEM7
Pearson Correlation
.649*
Validitas sedang
Valid
Karena 0,649>0,6319
Sig. (2-tailed)
.042
dan tidak memiliki hubungan yang signifikan


N
10



ITEM8
Pearson Correlation
.389
Validitas rendah
Tidak valid
Karena 0,389<0,6319
Sig. (2-tailed)
.266
dan tidak memiliki hubungan yang signifikan


N
10



ITEM9
Pearson Correlation
.130
Validitas sangat rendah
Tidak valid
Karena 0,130<0,6319
Sig. (2-tailed)
.721
dan tidak memiliki hubungan yang signifikan


N
10



ITEM10
Pearson Correlation
.425
Validitas sedang
Tidak valid
Karena 0,425<0,6319
Sig. (2-tailed)
.221
dan tidak memiliki hubungan yang signifikan


N
10



JUMLAH
Pearson Correlation
1



Sig. (2-tailed)




N
10



Tabel.2
Dari tabel tersebut memeberikan keputusan pada hasil uji validitas bahwa suatu item soal dapat dikatakan valid atau tidak valid, pada tabel terdapat 2 item soal yang valid, keputusan hasil analisis uji validitas ini ditentukan sesuai dengan tabel r (0,05) è df = N-2, soal dikatakan valid ketika r hitung > r tabel sedangkan 8 item soal yang lain dikatakan tidak valid ketika r hitung < r tabel.

VI. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan uji statistika yakni uji validitas, uji validitas ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen pengukuran dalam melakukan fungsi ukurnya. Agar data yang diperoleh bisa relevan/sesuai dengan tujuan diadakannya pengukuran tersebut. Pada percobaan kali ini digunakan 10 item soal dan 10 orang responden. Klasifikasi yang digunakan untuk menginterpretasikan koefisien korelasi vallditas sebagai berikut :
0,90 ≤ r hitung < 1,00
Validitas sangat tinggi
0,70 ≤ r hitung < 0,90
Validitas tinggi
0,40 ≤ r hitung < 0,70
Validitas sedang
0,20 ≤ r hitung < 0,40
Validitas rendah
0,00 ≤ r hitung < 0,20
Validitas angat rendah
r hitung ≤ 0,00
Tidak valid
Berdasarkan data yang diuji validitasnya didapatkan hasil yang beragam .
Pada item soal nomer 1 hasil yang diperoleh adalah 0,425 hasil tersebut merupakan rhitung. Jadi rhitung tersebut berada diantara 0,40≤ rhitung.<0,70 sehingga nilai validitas sedang . signifikansi pada soal nomer 1 adalah tidak signifikan karena nilai signifikansi 0,221>0,01 dan 0,221 > 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
Pada item soal nomer 2 hasil yang diperoleh adalah 0,649* hasil tersebut merupakan rhitung. Jadi rhitung tersebut berada diantara 0,40≤ rhitung <0,70 sehingga nilai validitas sedang . signifikansi pada soal nomer 2 adalah signifikan karena nilai signifikansi 0,042 <0,05 yang ditandai dengan *
Pada item soal nomer 3 hasil yang diperoleh adalah 0,085 hasil tersebut merupakan rhitung. Jadi rhitung tersebut berada diantara 0,00≤ rhitung.<0,20 sehingga nilai validitas sangat rendah . signifikansi pada soal nomer 3 adalah tidak signifikan karena nilai signifikansi 0,816 >0,01 dan 0,816 > 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
Pada item soal nomer 4 hasil yang diperoleh adalah 0,234 hasil tersebut merupakan rhitung. Jadi rhitung tersebut berada diantara 0,20≤ rhitung.<0,40 sehingga nilai validitas rendah . signifikansi pada soal nomer 4 adalah tidak signifikan karena nilai signifikansi 0,516 >0,01 dan 0,516 > 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
Pada item soal nomer 5 hasil yang diperoleh adalah 0,078 hasil tersebut merupakan rhitung. Jadi rhitung tersebut berada diantara 0,00≤ rhitung.<0,20 sehingga nilai validitas sangat rendah . signifikansi pada soal nomer 5 adalah tidak signifikan karena nilai signifikansi 0,831 >0,01 dan 0,831 > 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
Pada item soal nomer 6 hasil yang diperoleh adalah 0,159 hasil tersebut merupakan rhitung. Jadi rhitung tersebut berada diantara 0,00≤ rhitung.<0,20 sehingga nilai validitas sangat rendah . signifikansi pada soal nomer 6 adalah tidak signifikan karena nilai signifikansi 0,661 >0,01 dan 0,661 > 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
Pada item soal nomer 7 hasil yang diperoleh adalah 0,649* hasil tersebut merupakan rhitung. Jadi rhitung tersebut berada diantara 0,40≤ rhitung.<0,70 sehingga nilai validitas sedang . signifikansi pada soal nomer 7 adalah signifikan karena nilai signifikansi 0,042 <0,05 yang ditandai dengan *
Pada item soal nomer 8 hasil yang diperoleh adalah 0,389 hasil tersebut merupakan rhitung. Jadi rhitung tersebut berada diantara 0,20≤ rhitung.<0,40 sehingga nilai validitas rendah. signifikansi pada soal nomer 8 adalah tidak signifikan karena nilai signifikansi 0,266 > 0,01 dan 0,266 > 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
Pada item soal nomer 9 hasil yang diperoleh adalah 0,130 hasil tersebut merupakan rhitung. Jadi rhitung tersebut berada diantara 0,00≤ rhitung.<0,20 sehingga nilai validitas sangat rendah . signifikansi pada soal nomer 9 adalah tidak signifikan karena nilai signifikansi 0,721 > 0,01 dan 0,721 > 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
Pada item soal nomer 10 hasil yang diperoleh adalah 0,425 hasil tersebut merupakan rhitung. Jadi rhitung tersebut berada diantara 0,40≤ rhitung.<0,70 sehingga nilai validitas sedang . signifikansi pada soal nomer 1 adalah tidak signifikan karena nilai signifikansi 0,221>0,01 dan 0,221 > 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
Dari hasil uji validitas tersebut diperoleh data yang beragam, item soal yang valid berjumlah 2 soal yakni item nomer 2 dan item nomer 7 sedangkan untuk item 1, 3, 4, 5, 6, 8, 9 dan 10 menunjukan hasil tidak valid. Dari data diatas Uji Validitas Item menggunakan SPSS 22.0  Koefisien korelasi dapat ditafsirkan untuk memperoleh product moment dengan cara membandingkan koefisien korelasi dengan rentangan nilai yang telah ditetapkan. Sehingga akan diperoleh keterangan product moment dari setiap soal dari mulai yang terendah hingga nilai tertinggi. Dalam tabel tersebut dapat diperoleh bahwa 2 soal yang memperoleh Product moment tertinggi rentangan nilai koefisien korelasinya 0,40-0,70. Sedangkan dalam keterangan tersebut diperoleh bahwa soal pilihan ganda tersebut memiliki rata-rata product moment sangat rendah, dengan 4 nomer soal koefisien korelasinya menginjak dibawah angka 0,20.

Pengujian validitas item soal pilihan ganda dilakukan dengan membandingkan koefisien korelasianya dengan koefisien korelasi tabel. Cara memperoleh hasil valid atau tidaknya dengan syarat bahwa koefisien korelasi harus lebih besar dari koefisien koerelasi tabel dengan menggunakan  taraf signifikansi sebesar  5%,  maka         akan memperoleh ketetapan koefisien korelasi tabel (rtabel = 0, 6319) pada jumlah populasi yang menjadi bahan uji coba (N = 10). Taraf signifikansi tidak menggunakan 1% atau 0,01, dikarenakan tingkat kebenaran validitas yang menggunakan taraf signifikansi 5% atau 0,05 mencapai 95%. Angka yang hampir mencapai 100% yaitu kesempurnaan. Dari data yang diperoleh banyak menunjukan item soal yang diperoleh tidak valid hal ini dapat terjadi karean dipengaruhi beberapa faktor  yakni :
Faktor yang berasal dari dalam tes arahan tes yang disusun dengan makna tidak jelas sehingga dapat mengurangi validitas tes, kata-kata yang digunakan dalam struktur instrument evaluasi, tidak terlalu sulit, item tes dikonstruksi dengan jelas, tingkat kesulitan item tes tidak tepat dengan materi pembelajaran yang diterima siswa, waktu yang dialokasikan tidak tepat, hal ini termasuk kemungkinan terlalu kurang atau terlalu longgarnya waktu dalam pengerjaan soal, jumlah item terlalu sedikit sehingga tidak mewakili sampel serta jawaban masing-masing item evaluasi bisa diprediksi siswa. Seringkali terjadi bahwa interpretasi terhadap item-item tes evaluasi tidak valid, karena dipengaruhi oleh jawaban siswa dari pada interpretasi item-item pada tes evaluasi (Sukardi, 2008).








VII.  KESIMPULAN
Dari praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa :
1.      Uji validitas digunakan untuk menguji alat ukur (instrument) yang digunakan memenuhi syarat-syarat yang baik, sehingga menghasilkan data yang sesuai dengan apa yang diukur
2.      Berdasarkan data yang diperoleh dari uji validitas menunjukan data yang bervariasi yang artinya beragam. Hasil menunjukan terdapat validitas sedang, validitas rendah, dan validitas sangat rendah
3.      Dalam tabel analisis uji validitas tersebut dapat diperoleh bahwa 2 soal yang memperoleh Product moment tertinggi rentangan nilai koefisien korelasinya 0,40-0,70.
4.      Dari 10 item soal pilihan ganda tersebut memiliki rata-rata product moment sangat rendah, dengan 4 nomer soal koefisien korelasinya menginjak dibawah angka 0,20.
5.      Kevaliditasan suatu soal, seringkali terjadi bahwa interpretasi terhadap item-item tes evaluasi tidak valid, karena dipengaruhi oleh jawaban siswa dari pada interpretasi item-item pada tes evaluasi
6.      Faktor-faktor yang mempengaruhi kevaliditasan soal jumlah item terlalu sedikit sehingga tidak mewakili sampel serta jawaban masing-masing item evaluasi bisa diprediksi siswa.













DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zainal. 2011. Evaluasi Pembelajaran. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset
Arikunto. Suharsimi. 2010. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Ghozali, Imam. 2009. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Semarang : UNDIP.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuanttatif Kualitatif dan RND. Bandung: Alfabeta
Sukardi. (2008). Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Yusuf, Muri. 2015. Assesment dan Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Prenada Media Grup.

No comments:

Post a Comment

RPP BAKTERI SMA

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)                         Nama Sekolah        :           SMA Mata Pelajaran         :       ...

Translate

Powered By Blogger