ACARA 1
UJI VALIDITAS
I.
TUJUAN
1. Untuk
mengetahui apa yang dimaksud dengan uji validitas
2. Untuk
mengetahui langkah-langkah uji validitas melalui program SPSS
3. Untuk
mengetahui tingkat kevaliditasan suatu item soal yang telah dibuat
II.
DASAR
TEORI
Uji
validitas adalah suatu langkah pengujian yang dilakukan terhadap isi (content)
dari suatu instrumen, dengan tujuan untuk mengukur ketepatan instrumen yang
digunakan dalam suatu penelitian tujuan dari uji validitas ini adalah mengetahui
sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen pengukuran dalam melakukan
fungsi ukurnya. Agar data yang diperoleh bisa relevan/sesuai dengan tujuan
diadakannya pengukuran tersebut. (Sugiyono,2006).
Validitas
dalam penelitian menyatakan derajat ketepatan alat ukur penelitian terhadap isi
sebenarnya yang diukur. Uji validitas adalah uji yang digunakan untuk
menunjukkan sejauh mana alat ukur yang digunakan dalam suatu mengukur apa yang
diukur. Uji validitas digunakan untuk mengukur sah, atau valid tidaknya
suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner
mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut
(Ghozali, 2009).
Suatu tes
dapat dikatakan memiliki validitas yang tinggi jika tes tersebut menjalankan
fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang tepat dan akurat sesuai
dengan maksud dikenakannya tes tersebut. Suatu tes menghasilkan data yang tidak
relevan dengan tujuan diadakannya pengukuran dikatakan sebagai tes yang
memiliki validitas rendah. Sisi lain dari pengertian validitas adalah aspek
kecermatan pengukuran. Suatu alat ukur yang valid dapat menjalankan fungsi
ukurnya dengan tepat, juga memiliki kecermatan tinggi. Arti kecermatan disini
adalah dapat mendeteksi perbedaan-perbedaan kecil yang ada pada atribut yang diukurnya
(Ghozali, 2009).
Validitas
sebuah tes dapat diketahui dari hasil pemikiran dan dari hasil pengalaman. Hal
yang pertama akan diperoleh validitas logis (logical validity) dan hal yang kedua diperoleh validitas empiris (empirical validity). Dua hal inilah yang
dijadikan dasar pengelompokkan validitas tes (Arikunto, 2010). Secara garis
besar ada dua macam validitas, yaitu validitas logis dan validitas empiris.
1. Validitas
Logis
Istilah
“validitas logis” mengandung kata “logis” berasal dari kata “logika”, yang
berarti penalaran. Dengan makna demikian maka validitas logis untuk sebuah
instrument evaluasi menunjuk pada kondisi bagi sebuah instrument yang memenuhi
persyaratan valid berdasarkan hasil penalaran. Kondisi valid tersebut dipandang
terpenuhi karena instrument yang bersangkutan sudah dirancang secara baik,
mengikuti teori dan ketentuan yang ada. Berdasarkan penjelasan tersebut maka
instrument yang sudah disusun berdasarkan teori penyusunan instrument, secara
logis sudah valid. Dari penjelasan tersebut kita dapat memahami bahwa validitas
logis dapat dicapai apabila instrument disusun mengikuti ketentuan yang ada.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa validitas logis tidak perlu uji
kondisinya tetapi langsung diperoleh sesudah instrumen tersebut selesai disusun
(Arikunto, 2010).
Ada
dua macam validitas logis yang dapat dicapai oleh sebuah instrument, yaitu :
validitas isi dan validitas konstrak (construct
validity). Validitas isi bagi sebuah instrument menunjuk suatu kondisi
sebuah instrument yang disusun berdasarkan isi materi pelajaran yang
dievaluasi. Selanjutnya validitas konstrak sebuah instrument menunjukkan suatu
kondisi sebuah instrument yang disusun berdasarkan konstrak aspek-aspek
kejiwaan yang seharusnya dievaluasi (Arikunto, 2010).
2. Validitas
Empiris
Istilah
“validitas empiris” memuat kata “empiris” yang artinya “pengalaman”. Sebuah
instrumen dapat dikatakan memiliki validitas empiris apabila sudah diuji dari
pengalaman. Sebagai contoh seorang dapat dikatakan kreatif apabila dari
pengalaman dibuktikan bahwa orang tersebut sudah banyak menghasilkan ide-ide
baru yang diakui berbeda dari hal-hal yang sudah ada. Dari penjelasn tersebut
diketahui bahwa validitas empiris tidak dapat diperoleh hanya dengan menyusun
instrument berdasarkan ketentuan seperti halnya validitas logis, tetapi harus
dibuktikan melalui pengalaman (Arikunto, 2010).
Ada
dua macam validitas empiris, yakni ada dua cara yang dapat dilakukan untuk
menguji bahwa sebuah instrument memang valid. Pengujian tersebut dilaukan
dengan membandingkan kondisi instrument yang bersangkutan dengan kriterium atau
sebuah ukuran. Kriterium yang digunakan sebagai pembanding kondisi instrument
dimaksud ada dua, yaitu : yang sudah tersedia dan yang belum ada tetapi akan
terjadi diwaktu yang akan datang. Bagi instrument yang kondisinya sesuai dengan kriterium yang sudah tersedia, yang
sudah ada, disebut memiliki validitas “ada sekarang”, yang dalam istilah bahasa
Inggris disebut memiliki conccuret
validity. Selanjutnya instrument yang kondisinya sesuai dengan kriterium
yang diramalkan akan terjadi, disebut memiliki validitas ramalan atau validitas
prediksi, yang dalam istilah bahasa Inggris disebut memiliki predictive validity (Arikunto, 2010).
Dari
uraian adanya dua jenis validitas, yakni validitas logis yang ada dua macam,
dan valiiditas empiris, yang juga ada dua macam, maka secara keseluruhan adanya
tiga validitas, yaitu :
a) validitas
isi,
b) validitas
konstrak,
c) validitas
patokan
Dua
yang pertama yakni (1) dan (2) dicapai melalui penyusunan berdasarkan ketentuan
atau teori, sedangkan dua berikutnya, yakni (3) dicapai atau diketahui sesudah
dibuktikan melalui pengalaman (Arikunto, 2010).
a) Validitas
Isi (content validity)
Sebuah
tes dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu
yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan. Oleh karena
materi yang diajarkan tertera dalam kurikulum maka validitas isi ini sering
disebut validitas kurikuler. Validitas isi dapat diusahakan tercapainya sejak
saat penyusunan dengan cara memerinci materi kurikulum atau materi buku
pelajaran (Arikunto, 2010).
b) Validitas
konstruksi (construct validity)
Sebuah
tes dikatakan memiliki validitas konstruksi apabila butir-butir soal yang
membangun tes tersebut mengukur setiap aspek berpikir seperti yang disebutkan
dalam Tujuan Instruksional Khusus. Dengan kata lain jika butir-butir soal
mengukur aspek berpikir tersebut sudah sesuai dengan aspek berpikir yang
menjadi tujuan instruksional (Arikunto, 2010).
Konstruksi
dalam pengertian ini bukanlah “susunan” seperti yang sering dijumpai dalam
teknik, tetapi merupakan rekaan psikologis yaitu suatu rekaan yang dibuat oleh
para ahli Ilmu Jiwa yang dengan suatu cara tertentu “memerinci” isi jiwa atas
beberapa aspek seperti : ingatan (pengetahuan), pemahaman, aplikasi, dan
seterusnya. Dalam hal ini, mereka menganggap seolah-olah jiwa dapat
dibagi-bagi. Tetapi sebenarnya tidak demikian. Pembagian ini hanya merupakan
tindakan sementara untuk mempermudah mempelajari. Seperti halnya validitas isi,
validitas konstruksi dapat diketahui dengan cara memerinci dan memasangkan
setiap butir soal dengan setiap aspek dalam TK. Pengerjaannya dialkukan
berdasarkan logika, bukan pengalaman (Arikunto, 2010).
c) Validitas
Patokan ( Criterion Validity)
Jenis validitas patokan
dapat dibedakan atas dua tipe yaitu :
1)
Validitas Pengukuran Serentak (concurrent validity)
Validitas
ini lebih umum dikenal dengan validitas empiris. Sebuah tes dikatakan memilki
validitas empiris jika hasilnya sesuai dengan pengalaman. Jika ada istilah
“sesuai” tentu ada dua hal yang dipasangkan. Dalam hal ini hasil tes
dipasangkan dengan hasil pengalaman. Pengalaman selalu mengenai hal yang telah
lampau sehingga data pengalaman tersebut sekarang sudah ada (ada sekarang, concurrent) (Yusuf, 2015).
Dalam
membandingkan hasil sebuah tes maka diperlukan suatu kriterium atau alat
banding. Maka hasil tes merupakan sesuatu yang dibandingkan. Mislanya seorang
guru ingin mengetahui apakah tes sumatif yang disusun sudah valid atau belum.
Untuk itu diperlukan sebuah kriterium masa lalu yang sekarang datanya dimiliki.
Misalnya nilai ulangan harian atau nilai ulangan sumatif yang lalu (Yusuf,
2015).
2) Validitas
prediksi (predivtive validity)
Memprediksi
artinya meramal, dengan meramal selalu mengenai hal yang akan datang jadi
sekarang belum terjadi. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas prediksi atau
validitas ramalan apabila mempunyai kemmauan untuk meramalkan apa yang akan
terjadi pada masa yang akan dating. Sebagai alat pembanding validitas prediksi
adalah nilai-nilai yang diperoleh setelah peserta tes mengikuti pelajaran di
Perguruan Tinggi. Jika ternyata siapa yang memiliki nilai tes lebih tinggi
gagal dalam ujian semester I dibandingkan dengan yang dahulu nilai tesnya lebih
rendah maka tes masuk yang dimaksud tidak memiliki validitas prediksi (Yusuf,
2015).
Klasifikasi
yang digunakan untuk menginterpretasikan koefisien korelasi validitas sebagai
berikut :
0,90 ≤ r hitung < 1,00
|
Validitas sangat tinggi
|
0,70 ≤ r hitung < 0,90
|
Validitas tinggi
|
0,40 ≤ r hitung < 0,70
|
Validitas sedang
|
0,20 ≤ r hitung < 0,40
|
Validitas rendah
|
0,00 ≤ r hitung < 0,20
|
Validitas angat rendah
|
r hitung ≤ 0,00
|
Tidak valid
|
(Suherman,
2003)
III. ALAT DAN BAHAN
A. ALAT
1. Laptop
2. Stop
kontak
3. Alat
tulis
B. BAHAN
1. Responden
10 orang
2. Software
SPSS versi 22
3. Soal
test
IV. CARA KERJA
1. Menyusun
instrument soal pilihan ganda sebanyak 10 orang
2. Memilih
responden yang akan mengerjakan instrument soal yang telah dibuat sebanyak 10
orang
3. Mengoreksi
hasil pekerjaan responden kemudian data tersebut dimasukan ke program MS.Excel

4. Membuka
program spss versi 22

5.
Mengisi data responden pada data view

6. Kemudian
setelah mengisi data responden pada data view selanjutnya klik variabel view

7. Pada
kolom name mengganti “Var00001” menjadi “item 1” begitupun sampe data nomer 10

8. Pada
kolom decimal mengganti angka “2” menjadi “0” dari data ke 1 sampai dengan 10

9. Pada
kolom label mengisi kata “ITEM1” dari data 1 sampai dengan 10

10.
Pada kolom measure mengganti “unknown”
menjadi “nominal”

11. Setelah
selesai kemudian klik analyze kemudian akan muncul tampilan seperti berikut
maka selanjutnya pilih correlate dan akan muncul pilihan kemudian klik
bivariate

12. Setelah
klik bivariate selanjutnya akan keluar tampilan seperti berikut ini

13. Setelah
muncul tampilan seperti berikut ini, arahkan kursor ke item 1, kemudian blok
semua item dengan Ctrl+A.

14. Pindahkan
semua item dari sebelah kiri ke sebelah kanan dengan cara klik pada tanda panah
kecil yang ada ditengah.

15. Kemudian
ceklis tanda pearson pada correlation coefficients, sedangkan pada test of
signifikan klik two tailed dan flag significant correlattions selanjutnya klik
OK dan akan muncul tampilan seperti berikut ini.

16. Selanjutnya
data validitas program spss disimpan dokumen dengan klik file kemudian save
atau Ctrl + S

17. Selanjutnya
data yang dihasilkan dicopy ke dalam word

18. Kemudian
setelah dicopy kedalam word kolom item dari item 1 sampai ke 10 pada bagian
vertikal dihapus dan sisakan kolom item 1 sampai 10 bagian horizontal dan kolom
jumlah bagian verikal. Hingga tampilan menjadi sebagai berikut ini.

V.
HASIL
ANALISIS DATA
A. Analisis
data uji validitas
Pada
tabel Correlation terdapat 10 item soal yang digunakan pada uji validitas dan
pada masing-masing kolom item soal yang digunakan adalah nilai Person
Corelation, Sig. (2-tailed) dan N. pada hasil Correlations untuk nilai
Correletion dapat dianalisis dengan menggunakan r tabel.
Correlation.
JUMLAH
|
KETERANGAN
|
ALASAN
|
||
ITEM1
|
Pearson Correlation
|
.425
|
Validitas
sedang
|
0,40≤0,42<0,70
|
Sig. (2-tailed)
|
.221
|
dan
tidak memiliki hubungan yang signifikan
|
0,221>0,01
dan 0,221 > 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
|
|
N
|
10
|
|||
ITEM2
|
Pearson Correlation
|
.649*
|
Validitas
sedang
|
0,40≤0,649<0,70
|
Sig. (2-tailed)
|
.042
|
dan
memiliki hubungan yang signifikan
|
0,042
<0,05 yang ditandai dengan *
|
|
N
|
10
|
|||
ITEM3
|
Pearson Correlation
|
.085
|
Validitas
sangat rendah
|
0,00≤0,085<0,20
|
Sig. (2-tailed)
|
.816
|
dan
tidak memiliki hubungan yang signifikan
|
0,816
>0,01 dan 0,816 > 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
|
|
N
|
10
|
|||
ITEM4
|
Pearson Correlation
|
.234
|
Validitas
rendah
|
0,20≤0,234<0,40
|
Sig. (2-tailed)
|
.516
|
dan
tidak memiliki hubungan yang signifikan
|
0,516
>0,01 dan 0,516 > 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
|
|
N
|
10
|
|||
ITEM5
|
Pearson Correlation
|
.078
|
Validitas
sangat rendah
|
0,00≤0,078<0,20
|
Sig. (2-tailed)
|
.831
|
dan
tidak memiliki hubungan yang signifikan
|
0,831
>0,01 dan 0,831 > 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
|
|
N
|
10
|
|||
ITEM6
|
Pearson Correlation
|
.159
|
Validitas
sangat rendah
|
0,00≤0,159<0,20
|
Sig. (2-tailed)
|
.661
|
dan
tidak memiliki hubungan yang signifikan
|
0,661
>0,01 dan 0,661 > 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
|
|
N
|
10
|
|||
ITEM7
|
Pearson Correlation
|
.649*
|
Validitas
sedang
|
0,40≤0,649<0,70
|
Sig. (2-tailed)
|
.042
|
dan
tidak memiliki hubungan yang signifikan
|
0,042
<0,05 yang ditandai dengan *
|
|
N
|
10
|
|||
ITEM8
|
Pearson Correlation
|
.389
|
Validitas
rendah
|
0,20≤0,649<0,40
|
Sig. (2-tailed)
|
.266
|
dan
tidak memiliki hubungan yang signifikan
|
0,266
> 0,01 dan 0,266 > 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
|
|
N
|
10
|
|||
ITEM9
|
Pearson Correlation
|
.130
|
Validitas
sangat rendah
|
0,00≤0,130<0,20
|
Sig. (2-tailed)
|
.721
|
dan
tidak memiliki hubungan yang signifikan
|
0,721
> 0,01 dan 0,721 > 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
|
|
N
|
10
|
|||
ITEM10
|
Pearson Correlation
|
.425
|
Validitas
sedang
|
0,40≤0,425<0,70
|
Sig. (2-tailed)
|
.221
|
dan
tidak memiliki hubungan yang signifikan
|
0,221
> 0,01 dan 0,221 > 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
|
|
N
|
10
|
|||
JUMLAH
|
Pearson Correlation
|
1
|
||
Sig. (2-tailed)
|
||||
N
|
10
|
|||
Tabel.
1 Correlation
Berdasarkan
tabel 1 maka item soal dapat ditentukan tingkat validitasnya dengan melihat
person correlation yang kemudian di intepretasikan dengan tabel penguji tingkat
kevaliditasan suatu item, dari data tabel yang diperoleh dari 10 item soal
semua item soal valid hanya saja tingkat kevaliditasannya tiap item soal yang
berbeda-beda, untuk menentukan koefisien korelasi validitas item soal
menggunakan tabel sebagai berikut:
0,90 ≤ r hitung < 1,00
|
Validitas sangat tinggi
|
0,70 ≤ r hitung < 0,90
|
Validitas tinggi
|
0,40 ≤ r hitung < 0,70
|
Validitas sedang
|
0,20 ≤ r hitung < 0,40
|
Validitas rendah
|
0,00 ≤ r hitung < 0,20
|
Validitas angat rendah
|
r hitung ≤ 0,00
|
Tidak valid
|
Dari data yang
diperoleh tingkat kevaliditasan masih sangat rendah. Pada tabel terdapat 2 item yang memiliki
hubungan signifikansi ditandai dengan
nilai signifikansi < 0,05 yang menunjukan item tersebut valid karena
memiliki hubungan yang signifikan antara item dan skor total item, ditandai
dengan *
B. Keputusan
hasil analisis uji validitas
Berikut ini merupakan tabel
keputusan hasil analisis uji validitas.
JUMLAH
|
KETERANGAN
|
KEPUTUSAN
|
ALASAN
|
||
ITEM1
|
Pearson
Correlation
|
.425
|
Validitas
sedang
|
Tidak
valid
|
Karena
0,425<0,6319
|
Sig.
(2-tailed)
|
.221
|
dan
tidak memiliki hubungan yang signifikan
|
|||
N
|
10
|
||||
ITEM2
|
Pearson
Correlation
|
.649*
|
Validitas
sedang
|
Valid
|
Karena
0,649>0,6319
|
Sig.
(2-tailed)
|
.042
|
dan
memiliki hubungan yang signifikan
|
|||
N
|
10
|
||||
ITEM3
|
Pearson
Correlation
|
.085
|
Validitas
sangat rendah
|
Tidak
valid
|
Karena
0,085<0,6319
|
Sig.
(2-tailed)
|
.816
|
dan
tidak memiliki hubungan yang signifikan
|
|||
N
|
10
|
||||
ITEM4
|
Pearson
Correlation
|
.234
|
Validitas
rendah
|
Tidak
valid
|
Karena
0,234<0,6319
|
Sig.
(2-tailed)
|
.516
|
dan
tidak memiliki hubungan yang signifikan
|
|||
N
|
10
|
||||
ITEM5
|
Pearson
Correlation
|
.078
|
Validitas
sangat rendah
|
Tidak
valid
|
Karena
0,078<0,6319
|
Sig.
(2-tailed)
|
.831
|
dan
tidak memiliki hubungan yang signifikan
|
|||
N
|
10
|
||||
ITEM6
|
Pearson
Correlation
|
.159
|
Validitas
sangat rendah
|
Tidak
valid
|
Karena
0,159<0,6319
|
Sig.
(2-tailed)
|
.661
|
dan
tidak memiliki hubungan yang signifikan
|
|||
N
|
10
|
||||
ITEM7
|
Pearson
Correlation
|
.649*
|
Validitas
sedang
|
Valid
|
Karena
0,649>0,6319
|
Sig.
(2-tailed)
|
.042
|
dan
tidak memiliki hubungan yang signifikan
|
|||
N
|
10
|
||||
ITEM8
|
Pearson
Correlation
|
.389
|
Validitas
rendah
|
Tidak
valid
|
Karena
0,389<0,6319
|
Sig.
(2-tailed)
|
.266
|
dan
tidak memiliki hubungan yang signifikan
|
|||
N
|
10
|
||||
ITEM9
|
Pearson
Correlation
|
.130
|
Validitas
sangat rendah
|
Tidak
valid
|
Karena
0,130<0,6319
|
Sig.
(2-tailed)
|
.721
|
dan
tidak memiliki hubungan yang signifikan
|
|||
N
|
10
|
||||
ITEM10
|
Pearson
Correlation
|
.425
|
Validitas
sedang
|
Tidak
valid
|
Karena
0,425<0,6319
|
Sig.
(2-tailed)
|
.221
|
dan
tidak memiliki hubungan yang signifikan
|
|||
N
|
10
|
||||
JUMLAH
|
Pearson
Correlation
|
1
|
|||
Sig.
(2-tailed)
|
|||||
N
|
10
|
||||
Tabel.2
Dari
tabel tersebut memeberikan keputusan pada hasil uji validitas bahwa suatu item
soal dapat dikatakan valid atau tidak valid, pada tabel terdapat 2 item soal
yang valid, keputusan hasil analisis uji validitas ini ditentukan sesuai dengan
tabel r (0,05) è df = N-2, soal dikatakan valid ketika r
hitung > r tabel sedangkan 8 item soal yang lain dikatakan tidak valid
ketika r hitung < r tabel.
VI. PEMBAHASAN
Pada
praktikum kali ini dilakukan percobaan uji statistika yakni uji validitas, uji
validitas ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana ketepatan
dan kecermatan suatu instrumen pengukuran dalam melakukan fungsi ukurnya. Agar
data yang diperoleh bisa relevan/sesuai dengan tujuan diadakannya pengukuran
tersebut. Pada percobaan kali ini digunakan 10 item soal dan 10 orang
responden. Klasifikasi yang digunakan untuk menginterpretasikan koefisien
korelasi vallditas sebagai berikut :
0,90 ≤ r hitung < 1,00
|
Validitas sangat tinggi
|
0,70 ≤ r hitung < 0,90
|
Validitas tinggi
|
0,40 ≤ r hitung < 0,70
|
Validitas sedang
|
0,20 ≤ r hitung < 0,40
|
Validitas rendah
|
0,00 ≤ r hitung < 0,20
|
Validitas angat rendah
|
r hitung ≤ 0,00
|
Tidak valid
|
Berdasarkan
data yang diuji validitasnya didapatkan hasil yang beragam .
Pada
item soal nomer 1 hasil yang diperoleh adalah 0,425 hasil tersebut merupakan rhitung.
Jadi rhitung tersebut berada diantara 0,40≤
rhitung.<0,70 sehingga nilai
validitas sedang . signifikansi pada soal nomer 1 adalah tidak signifikan
karena nilai signifikansi 0,221>0,01 dan 0,221
> 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
Pada
item soal nomer 2 hasil yang diperoleh adalah 0,649* hasil tersebut merupakan rhitung.
Jadi rhitung tersebut berada diantara 0,40≤
rhitung <0,70 sehingga nilai
validitas sedang . signifikansi pada soal nomer 2 adalah signifikan karena
nilai signifikansi 0,042 <0,05 yang ditandai
dengan *
Pada
item soal nomer 3 hasil yang diperoleh adalah 0,085 hasil tersebut merupakan rhitung.
Jadi rhitung tersebut berada diantara 0,00≤
rhitung.<0,20 sehingga nilai
validitas sangat rendah . signifikansi pada soal nomer 3 adalah tidak
signifikan karena nilai signifikansi 0,816 >0,01
dan 0,816 > 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
Pada
item soal nomer 4 hasil yang diperoleh adalah 0,234 hasil tersebut merupakan rhitung.
Jadi rhitung tersebut berada diantara 0,20≤
rhitung.<0,40 sehingga nilai
validitas rendah . signifikansi pada soal nomer 4 adalah tidak signifikan
karena nilai signifikansi 0,516 >0,01 dan 0,516
> 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
Pada
item soal nomer 5 hasil yang diperoleh adalah 0,078 hasil tersebut merupakan rhitung.
Jadi rhitung tersebut berada diantara 0,00≤
rhitung.<0,20 sehingga nilai
validitas sangat rendah . signifikansi pada soal nomer 5 adalah tidak
signifikan karena nilai signifikansi 0,831 >0,01
dan 0,831 > 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
Pada
item soal nomer 6 hasil yang diperoleh adalah 0,159 hasil tersebut merupakan rhitung.
Jadi rhitung tersebut berada diantara 0,00≤
rhitung.<0,20 sehingga nilai
validitas sangat rendah . signifikansi pada soal nomer 6 adalah tidak
signifikan karena nilai signifikansi 0,661 >0,01
dan 0,661 > 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
Pada
item soal nomer 7 hasil yang diperoleh adalah 0,649* hasil tersebut merupakan rhitung.
Jadi rhitung tersebut berada diantara 0,40≤
rhitung.<0,70 sehingga nilai
validitas sedang . signifikansi pada soal nomer 7 adalah signifikan karena
nilai signifikansi 0,042 <0,05 yang ditandai
dengan *
Pada
item soal nomer 8 hasil yang diperoleh adalah 0,389 hasil tersebut merupakan rhitung.
Jadi rhitung tersebut berada diantara 0,20≤
rhitung.<0,40 sehingga nilai
validitas rendah. signifikansi pada soal nomer 8 adalah tidak signifikan karena
nilai signifikansi 0,266 > 0,01 dan 0,266 >
0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
Pada
item soal nomer 9 hasil yang diperoleh adalah 0,130 hasil tersebut merupakan rhitung.
Jadi rhitung tersebut berada diantara 0,00≤
rhitung.<0,20 sehingga nilai
validitas sangat rendah . signifikansi pada soal nomer 9 adalah tidak
signifikan karena nilai signifikansi 0,721 > 0,01
dan 0,721 > 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
Pada
item soal nomer 10 hasil yang diperoleh adalah 0,425 hasil tersebut merupakan rhitung.
Jadi rhitung tersebut berada diantara 0,40≤
rhitung.<0,70 sehingga nilai
validitas sedang . signifikansi pada soal nomer 1 adalah tidak signifikan
karena nilai signifikansi 0,221>0,01 dan 0,221
> 0,05 yang tidak ditandai dengan * maupun **
Dari hasil uji validitas tersebut diperoleh data yang beragam,
item soal yang valid berjumlah 2 soal yakni item nomer 2 dan item nomer 7
sedangkan untuk item 1, 3, 4, 5, 6, 8, 9 dan 10 menunjukan hasil tidak valid. Dari data diatas Uji
Validitas Item menggunakan SPSS 22.0
Koefisien korelasi dapat ditafsirkan untuk memperoleh product moment dengan cara membandingkan
koefisien korelasi dengan rentangan nilai yang telah ditetapkan. Sehingga akan diperoleh keterangan product moment dari setiap soal dari
mulai yang terendah hingga nilai tertinggi. Dalam tabel tersebut dapat
diperoleh bahwa 2 soal yang memperoleh Product
moment tertinggi rentangan nilai koefisien korelasinya 0,40-0,70. Sedangkan
dalam keterangan tersebut diperoleh bahwa soal pilihan ganda tersebut memiliki
rata-rata product moment sangat
rendah, dengan 4 nomer soal koefisien korelasinya menginjak dibawah angka 0,20.
Pengujian validitas item soal pilihan ganda
dilakukan dengan membandingkan koefisien korelasianya dengan koefisien korelasi
tabel. Cara memperoleh hasil valid atau tidaknya dengan syarat bahwa koefisien
korelasi harus lebih besar dari koefisien koerelasi tabel dengan
menggunakan taraf signifikansi sebesar 5%,
maka akan memperoleh
ketetapan koefisien korelasi tabel (rtabel = 0, 6319) pada jumlah
populasi yang menjadi bahan uji coba (N = 10). Taraf signifikansi tidak
menggunakan 1% atau 0,01, dikarenakan tingkat kebenaran validitas yang
menggunakan taraf signifikansi 5% atau 0,05 mencapai 95%. Angka yang hampir
mencapai 100% yaitu kesempurnaan. Dari data yang diperoleh banyak menunjukan
item soal yang diperoleh tidak valid hal ini dapat terjadi karean dipengaruhi
beberapa faktor yakni :
Faktor
yang berasal dari dalam tes arahan tes yang disusun dengan makna tidak jelas
sehingga dapat mengurangi validitas tes, kata-kata yang digunakan dalam
struktur instrument evaluasi, tidak terlalu sulit, item tes dikonstruksi dengan
jelas, tingkat kesulitan item tes tidak tepat dengan materi pembelajaran yang
diterima siswa, waktu yang dialokasikan tidak tepat, hal ini termasuk
kemungkinan terlalu kurang atau terlalu longgarnya waktu dalam pengerjaan soal,
jumlah item terlalu sedikit sehingga tidak mewakili sampel serta jawaban
masing-masing item evaluasi bisa diprediksi siswa. Seringkali
terjadi bahwa interpretasi terhadap item-item tes evaluasi tidak valid, karena
dipengaruhi oleh jawaban siswa dari pada interpretasi item-item pada tes
evaluasi (Sukardi, 2008).
VII. KESIMPULAN
Dari praktikum kali ini dapat
disimpulkan bahwa :
1.
Uji validitas digunakan untuk menguji alat ukur (instrument) yang
digunakan memenuhi syarat-syarat yang baik, sehingga menghasilkan data yang
sesuai dengan apa yang diukur
2.
Berdasarkan data yang diperoleh dari uji validitas menunjukan data
yang bervariasi yang artinya beragam. Hasil menunjukan terdapat validitas
sedang, validitas rendah, dan validitas sangat rendah
3.
Dalam tabel analisis uji validitas tersebut dapat diperoleh bahwa 2
soal yang memperoleh Product moment
tertinggi rentangan nilai koefisien korelasinya 0,40-0,70.
4.
Dari 10 item soal pilihan ganda tersebut memiliki rata-rata product moment sangat rendah, dengan 4
nomer soal koefisien korelasinya menginjak dibawah angka 0,20.
5.
Kevaliditasan suatu soal, seringkali terjadi bahwa
interpretasi terhadap item-item tes evaluasi tidak valid, karena dipengaruhi
oleh jawaban siswa dari pada interpretasi item-item pada tes evaluasi
6.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kevaliditasan soal jumlah
item terlalu sedikit sehingga tidak mewakili sampel serta jawaban masing-masing
item evaluasi bisa diprediksi siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin,
Zainal. 2011. Evaluasi Pembelajaran. Bandung
: PT Remaja Rosdakarya Offset
Arikunto.
Suharsimi. 2010. Dasar-Dasar Evaluasi
Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Ghozali,
Imam. 2009. Aplikasi Analisis
Multivariate dengan Program SPSS. Semarang : UNDIP.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuanttatif Kualitatif dan RND. Bandung: Alfabeta
Sukardi. (2008). Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Yusuf,
Muri. 2015. Assesment dan Evaluasi
Pendidikan. Jakarta : Prenada Media Grup.
.

No comments:
Post a Comment