Rabu, 04 April 2018
PENGARUH AUKSIN TERHADAP
PEMANJANGAN HIPOKOTIL
I.
TUJUAN
1. Untuk
mengetahui apa yang dimaksud dengan auksin
2. Untuk
mengetahui kemampuan auksin terhadap pemanjangan hipokotil
3. Untuk
mengetahui sifat-sifat dan fungsi auksin
II.
DASAR
TEORI
Zat
pengatur tumbuh pada tanaman adalah senyawa organic bukan hara, yang dalam
jumlah sedikit dapat mendukung, menghambat dan merubah proses fisiologi
tumbuhan. Zat pengatur tumbuh dalam tanaman terdiri dari lima kelompok yaitu
Auksin, Giberelin, Sitokinin, Etilen dan Inhibitor dengan cirri khas serta
pengaruh yang berlainan terhadap proses fisiologis. Zat pengatur tumbuh sangat
diperlukan sebagai komponen medium bagi pertumbuhan dan diferensiasi. Tanpa
penambahan zat pengatur tumbuh dalam medium, pertumbuhan sangat terhambat
bahkan tidak mungkin tidak tumbuh sama sekali. Pembentukan kalus dan
organ-organ ditentukan oleh penggunaan yang tepat dari zat pengatur tumbuh
tersebut (Hendaryono dan Wijayani, 1994: 56)
Zat
pengatur tumbuh digunakan untuk memacu pertumbuhan tanaman.Namun,
di samping dapat memacu, zat ini pun dapat menghambat pertumbuhan tanaman yang
tidak dikehendaki.Penggunaan zat pengatur tumbuh dimaksudkan untuk mencegah
terjadinya gugur bunga dan buah, memperbaiki mutu buah, dan meningkatkan hasil
buah (Setiadi, 2006: 123).
Istilah Auksin berasal dari bahasa
yunani auxein, meningkatkan. Auksin ini merupakan senyawa yang belum
dapat dicirikan mungkin meyebabkan pembengkokan koleoptil oat ke arah
cahaya. Koleoptil yang terjadi akibat terpacunya pemanjangan pada
sisi yang ditempeli potongan akar. Pengaruh Auksin terhadap
pemanjangan dapat dipelajari dari hasil berdasarkan penelitian pada ujung
koleoptil kecambah sejenis gandum. Sebelumnya sudah lama diketahui
bahwa ujung koleoptil itu penting untuk pemanjangan koleoptil dan ujung bawah
batangnya, bila ujung dipotong pertumbuhan akn terhambat beberapa jam, dan akan
tumbuh lagi apabila
ujung batang yang terpotong itu telah memproduksi auksin kembali (Dwidjoseputro,
1986).
Auksin adalah kelas substansi
pertumbuhan tanaman dan morphogens (sering disebut phytohormone atau hormon
tanaman). Auksin memiliki peran penting dalam koordinasi banyak
pertumbuhan dan proses perilaku dalam siklus hidup tanaman. Auksin dan peran
mereka dalam pertumbuhan tanaman pertama kali diungkapkan oleh Frits ilmuwan
Belanda. Hal ini menunjukan bahwa terdapat
zat yang diproduksi dibagian ujung dan bergerak ke bawah yang mempengaruhi
pertumbuhan, zat ini oleh kogl dinamakan Auksin dari bahasa latin yaitu auksin
yang berarti tumbuh (Suwasono, 1983).
Auksin
adalah zat yang ditemukan pada ujung akar, batang, pembentukan bunga yang
berfungsi untuk pengatur pembesaran sel di daerah belakang meristem ujung.
Hormon auksin adalah hormone pertumbuhan pada semua jenis tanaman lain dari
hormone ini adalah IAA atau Asam Indol Asetat. Hormon auksin ini terletak pada
ujung batang dan ujung akar, fungsi dari hormone auksin ini adalah membantu
dalam proses mempercepat pertumbuhan baik pertumbuhan akar maupun pertumbuhan
batang (Campbell, 2004: 234).
Auksin
merupakan istilah genetik untuk substansi pertumbuahn yang khususnya merangsang
perpanjang sel, tetapi auksin juga menyebabkan suatu kisaran respon pertumbuhan
yang agak berbeda-beda. Respon auksin berhubungan dengan konsentrasinya.
Konsentrasi yang tinggi bersifat menghambat. Auksin mengatur proses di dalam
tubuh tanaman dalam morfogenesis. Misalnya kuncup lateral dan pertumbuhan akar
dihambat oleh auksin namun permukaan pertumbuhan akar baru digalakkan pada
jarinngan kalus. Konsentrasi auksin yang berlebihan menyebabkan ketidaknormalan
seperti epinasti. Auksin mempengaruhi pengembangan dinding sel dimana
mengakibatkan berkurangnya tekanan dinding sel terhadap protoplas. Maka karena
tekanan dinding sel berkurang, protoplas mendapat kesempatan untuk meresap air
dari sel-sel yang adadi bawahnya karena sel-sel yang ada di dekat titik tumbuh
mempunyai nilai osmotis yang tinggi (Gardner, 1999: 176).
Peran fisiologis auksin adalah
mendorong perpanjangan sel, pembelahan sel, diferensiasi jaringan xilem dan
floem, pembentukkan akar, pembungaan pada Bromeliaceae, pembentukan buah
partenokarpi, pembentukkan bunga betina pada pada tanaman diocious, dominan
apical, response tropisme serta menghambat pengguran daun, bunga dan buah
(Sugihsantosa, 2009).
Peranan Auksin dalam aktifitas
kultur jaringan auksin sangat dikenal sebagai hormon yang mampu berperan
menginduksi terjadinya kalus, menghambat kerja sitokinin membentuk klorofil
dalam kalus, mendorong proses morfogenesis kalus, membentuk akar atau tunas,
mendorong proses embriogenesis, dan auksin juga dapat mempengaruhi kestabilan
genetik sel tanaman (Sugihsantosa, 2009).
Tumbuhan yang pada salah satu
sisinya disinari oleh matahari maka pertumbuhannya akan lambat karena jika
auksin dihambat oleh matahari tetapi sisi tumbuhan yang tidak disinari oleh
cahaya matahari pertumbuhannya sangat cepat karena kerja auksin tidak dihambat.
Sehingga hal ini akan menyebabkan ujung tanaman tersebut cenderung mengikuti
arah sinar matahari atau yang disebut dengan fototropisme (Lakitan B, 2004). Kondisi gelap juga memacu produksi hormon auksin. Auksin
adalah hormon tumbuh yang banyak ditemukan di sel-sel meristem, seperti ujung
akar dan ujung batang. Oleh karena itu tanaman akan lebih cepat tumbuh dan
panen. Hasil penelitian F.W. Went, ahli fisiologi tumbuhan, pada tahun 1928
menunjukkan produksi auksin terhambat pada tanaman yang sering terkena sinar
matahari (Heddy, 1996).
Untuk tanaman yang diletakkan di
tempat yang gelap pertumbuhan tanamannya sangat cepat selain itu tekstur dari
batangnya sangat lemah dan cenderung warnanya pucat kekuningan.hal ini
disebabkan karena kerja hormon auksin tidak dihambat oleh sinar matahari.
sedangkan untuk tanaman yang diletakkan ditempat yang terang tingkat
pertumbuhannya sedikit lebih lambat dibandingkan dengan tanaman yang diletakkan
ditempat gelap,tetapi tekstur batangnya sangat kuat dan juga warnanya segar
kehijauan, hal ini disebabkan karena kerja hormon auksin dihambat oleh sinar
matahari. Distribusi auksin yang tidak merata dalam batang dan akar menimbulkan
pembesaran sel yang tidak sama disertai dengan pembengkokan organ (Heddy,
1996). Jaringan adalah sekumpulan sel yang
memiliki bentuk dan fungsi yang sama. Ada dua jaringan tumbuhan yang kita kenal
yaitu jaringan meristem dan jaringan dewasa. Jaringan meristam adalah jaringan
yang terus-menerus membelah. Jaringan meristem dapat dibagi 2 macam yaitu
Jaringan meristem primer dan jaringan meristem sekunder (Lakitan B,
2004).
Asam indole acetic acid, juga
dikenal sebagai IAA, adalah senyawa heterosiklik yang phytohormone yang disebut
auksin. Ini padat berwarna mungkin adalah auksin tanaman yang paling
penting. Molekul ini berasal dari indol, mengandung kelompok
karboksimetil (asam asetat). IAA diproduksi dalam sel-sel di puncak
(tunas) dan daun muda tanaman. Sel tumbuhan terutama mensintesis IAA
dari tryptophan tetapi juga dapat menghasilkan secara mandiri dari
tryptophan. Kimia, dapat disintesis dengan reaksi indol dengan asam glikolat
dengan adanya dasar pada 250 ° C. IAA memiliki efek yang berbeda, seperti semua
auksin lakukan, seperti merangsang pemanjangan sel dan pembelahan sel dengan
semua hasil berikutnya untuk pertumbuhan dan perkembangan
tanaman. Ada yang lebih murah dan metabolik stabil analog auksin
sintetis di pasar untuk digunakan dalam hortikultura, seperti asam
indole-3-butirat (IBA) dan asam 1-naphthaleneacetic (NAA).
Studi IAA tahun 1940-an menyebabkan
perkembangan herbisida fenoksi asam 2,4-ichlorophenoxyacetic (2,4-D) dan asam 2,4,5-triklorofenoksiasetik
(2,4,5-T). Seperti IBA dan NAA, 2,4-D dan 2,4,5-T metabolik dan
lingkungan yang lebih stabil analog IAA. Namun, ketika disemprotkan pada
tanaman dicot luas daun, mereka mendorong cepat, pertumbuhan yang tidak terkendali,
akhirnya membunuh mereka. Pertama kali diperkenalkan pada tahun 1946, ini
herbisida yang digunakan secara luas dalam pertanian pada pertengahan 1950-an (M.
S. Saleh, 2003).
Jaringan meristem adalah jaringan
yang sel-selnya selalu membelah. Jaringan meristem dapat dibagi menjadi dua
macam, yaitu meristem primer dan meristem sekunder. Meristem primer terdapat
pada titik tumbuh dan menyebabkan perpanjangan akar dan batang, sedangkan
meristem sekunder terdapat pada kambium dan menyebabkan tumbuhan menjadi besar
(Sugihsantosa, 2009).
Jaringan dewasa adalah jaringan yang
tidak meristematis. Jaringan dewasa dapat dibagi menjadi lima macam, yaitu:
jaringan epidermis, jaringan parenkim, jaringan penyokong, jaringan pengangkut,
dan jaringan gabus (Lakitan B, 2004).
Hipokotil adalah pertumbuhan
memanjang dari epikotil yang meyebabkan plumula keluar menembus kulit biji dan
muncul di atas tanah. Kotiledon relatif tetap posisinya. Kotiledon tetap
berada di dalam tanah. Singkatnya, biji tidak terdorong ke atas dan tetap berada
di dalam tanah. Contoh tipe ini terjadi pada kacang kapri dan jagung. Pada
epigeal hipokotillah yang tumbuh memanjang, akibatnya kotiledon dan plumula
terdorong ke permukaan tanah. Perkecambahan tipe ini misalnya terjadi pada
kacang hijau dan jarak (Lakitan B, 2004).
III. ALAT dan BAHAN
ALAT
1.
Pipet
2.
Filter pump
3.
Gelas ukur
4.
Pisau Catter
5.
Jangka sorong
6.
Cawan petri
BAHAN
1.
Kecambah hijau (Phaseolus radiatus)
2.
Larutan Auksin IAA dengan konsentrasi
0,01 ppm, 0,03 ppm,0,05 ppm, 0,07 ppm, dan 0,09 ppm
3.
Aquades
IV.CARA
KERJA
1.
Menyiapkan kecambah kacang hijau berumur
4 – 5 hari
2.
Memotong hipokotil (batang tanaman tepat
dibawah kotiledon) sepanjang 3 cm
3.
Dengan cepat memasukan hipokotil
tersebut kedalam petri yang telah diisi oleh larutan auksin dengan konsentrasi sesuai
yang telah ditetapkan
4.
Mengukur kembali panjangnya setelah 2 x
24 jam
5.
Memasukan data hasil pengukuran kedalam
tabel
V. HASIL PENGAMATAN
|
Perlakuan IAA/ppm
|
Panjang awal
|
Rata-rata panjang akhir
|
Selisih
|
|
Kontrol
|
3 cm
|
3,238
|
0,238
|
|
0,01 ppm
|
3 cm
|
3,44
|
0,44
|
|
0,03 ppm
|
3 cm
|
3,198
|
0,198
|
|
0,05 ppm
|
3 cm
|
3,78
|
0,78
|
|
0,07 ppm
|
3 cm
|
3,175
|
0,175
|
|
0,09 ppm
|
3 cm
|
3,138
|
0,138
|
VI. PEMBAHASAN
Pada
praktikum kali ini melakukan percobaan tentang pengaruh penggunaan auksin (IAA)
terhadap pemanjangan hipokotil, pada percobaan kali ini bertujuan untuk
mengetahui apa yang dimaksud dengan auksin, untuk mengetahui kemampuan auksin
terhadap pemanjangan hipokotil, dan untuk mengetahui sifat-sifat dan fungsi
auksin, untuk menggetahui pengaruhnya maka pada praktikum kali ini digunakan
perlakuan konsentrasi auksin yang berbeda – beda pada setiap kelompoknya, pada
percobaan kali ini konsentrasi auksin yang digunakan yakni 0,01 ppm, 0,03
ppm,0,05 ppm, 0,07 ppm, dan 0,09 ppm dan perendaman dengan penggunaan aquades
sebagai control. Hal ini dilakukan untuk mengetahui nantinya konsentrasi mana
yang tepat terhadap pemanjangan hipokotil. Dari hasil data percobaan yang telah
diperoleh menunjukan hasil yakni perlakuan control menunjukan pemanjangan yang
signifikan dibandingkan dengan perendaman dengan auksin, penambahan panjang
yang diperoleh pada perlakuan control yakni pada panjang awal 3 cm dan panjang
akhir 3,238 cm jadi pertambahan panjang yang terjadi sebesar 0,238 berbeda
dengan konsentrasi 0,01 ppm yang menghasilkan pertambahan panjang hanya 0,44
cm, 0,03 ppm sebesar 0,198 cm, 0,05 ppm sebesar 0,78 cm, 0,07 ppm sebesar 0,175
cm dan 0,09 ppm sebesar 0,138 cm
Hal
ini tidak sesuai dengan teori sebab Konsentrasi suatu auksin di dalam tanaman, mempengaruhi
pertumbuhan suatu tanaman, semakin tinggi konsentrasi suatu auksin di
dalam tanaman maka akan semakin mempercepat pertumbuhan tanaman tersebut.
Hal-hal yang mempengaruhi konsentrasi IAA di dalam tanaman yaitu sintesis
auksin, pemecahan auksin, dan inaktifnya IAA sebagai akibat proses pemecahan
molekul (Indradewa, 2009). Hal ini disebabkan karena kurang ketelitian
dalam proses pengukuran hipokotil, sebab hormon berfungsi untuk meningkatkan
perkembangan suatu organisme dan berperan aktif dalam perpanjangan jaringan
atau dapat juga karena konsentrasi dari larutan tersebut tinggi sehingga
peranannya dalam merespon pemanjangan jaringan tidak fleksibel bahkan dapat
merusak hormon yang ada dalam hipokotil kacang hijau, seperti yang di sampaikan
Husein (2018) IAA mendorong pemanjangan sel batang hanya pada konsentrasi
tertentu, diatas konsentrasi tersebut IAA menghambat pemanjangan sel atau
batang, pengaruh menghambat ini kemungkinan terjadi karena konsentrasi IAA yang
tinggi menyebabkan tanaman mensintesis ZPT lain yaitu etilen yang memberikan pengaruh
berlawanan terhadap IAA hal ini pun dibuktikan dengan hasil perbandingan
panjang hipokotil hasil perendaman dengan IAA membuktikan bahwa konsentrasi IAA
yang tepat untuk pemanjangan hipokotil yakni pada konsentrasi 0,03 ppm yang
menunjukan pemanjangan 0,198 hal ini sesuai dengan teori bahwa konsentrasi IAA
yang tepat untuk pemanjangan hipokotil adalah konsentrasi yang tidak terlalu
tinggi dan juga tidak terlalu rendah sebab masing-masing tanaman memiliki
keperluan konsentrasi auksin yang berbeda-beda untuk mendorong perkembangan dan
pemanjangan sel-sel batang.
Hal ini berarti menandakan bahwa
setiap larutan sangat berpengaruh terhadap setiap hipokotil. Setiap larutan IAA
akan memberikan pengaruh yang besar terhadap pemanjangan jaringan pada
konsentrasi tertentu, IAA akan bekerja aktif pada konsentrasi optimal yaitu
konsentrasi yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Perlakuan
kontrol (air) memberikan pengaruh terhadap pemanjangan jaringan dengan
bertambahnya ukuran panjang awalnya 3 cm disebabkan oleh jumlah larutan yang
ada di dalam sel meningkat, karena meningkatkan difusi masuknya air ke dalam
sel sehingga terjadi pemanjangan jaringan yang diikuti bertambah panjangnya
hipokotil kacang hijau (Phaseolus radiatus).
Auksin berfungsi dalam proses
pembesaran sel (perpanjangan koleoptil atau batang), menghambat mata tunas
samping, berperan dalam pengguguran daun, aktivitas daripada kambium, dan
berperan dalam pertumbuhan akar (Fetter, 1998). Asam Idole Acetik Acid (IAA)
merupakan larutan auksin endogen atau auksin yang terdapat pada tanaman.
Larutan ini berperan dalam berbagai aspek perkembangan dan pertumbuhan tanaman.
Fungsi dari larutan ini yaitu mendorong pembelahan sel, penyebaran IAA yang
tidak sama pada tanaman akan mengakibatkan pembesaran sel yang tidak merata dan
terjadi pembengkokan dari koleoptil atau organ tanaman (geotropism dan
fototropisme), IAA pada konsentrasi tinggi dapat menghambat pembesaran sel-sel
akar. IAA juga dapat mengendalikan absisi daun dan dapat menghambat pertumbuhan
tunas lateral (Indradewa, 2009).
Konsentrasi suatu auksin di
dalam tanaman, mempengaruhi pertumbuhan suatu tanaman, semakin tinggi
konsentrasi suatu auksin di dalam tanaman maka akan semakin mempercepat
pertumbuhan tanaman tersebut. Hal-hal yang mempengaruhi konsentrasi IAA di
dalam tanaman yaitu sintesis auksin, pemecahan auksin, dan inaktifnya IAA
sebagai akibat proses pemecahan molekul (Indradewa, 2009). IAA adalah
endogenous auksin yang terbentuk dari Tryptophan yang merupakan suatu senyawa
dengan inti Indole dan selalu terdapat dalam jaringan tanaman. Di dalam
proses biosintesis, Tryptophan berubah menjadi IAA dengan membentuk Indole
pyruvic acid dan Indole-3-acetaldehyde (Loveless, 1991).
Auksin dapat menaikkkan tekanan
osmotik, meningkatkan permeabilitas sel terhadap air, yang menyebabkan
pengurangan tekanan pada dinding sel, meningkatkan sintesis protein,
meningkatkan plastisitas dan pengembangan dinding sel. Pada dosis tinggi auksin
dapat merangsang produksi etilen, kelebihan pada etilen malah dapat menghalangi
pertumbuhan, menyebabkan gugur daun (daun amputansi) dan bahkan membuat tanaman
mati (Fetter, 1998)
VII.
KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari
percobaan ini yaitu :
1.
Auksin merupakan istilah genetik untuk
substansi pertumbuahn yang khususnya merangsang perpanjang sel
2.
Bahwa
jumlah larutan yang ada di dalam sel meningkat, karena auksin dapat
meningkatkan difusi masuknya air ke dalam sel sehingga terjadi pemanjangan
jaringan yang diikuti bertambah panjangnya hipokotil kacang hijau (Phaseolus
radiatus).
3.
Dari
hasil pengamatan diperoleh hasil bahwa kecambah kacang hijau (Phaseolus
radiatus) yang direndam pada larutan IAA 0,01 ppm, 0,03
ppm,0,05 ppm, 0,07 ppm, dan 0,09 ppm dan kontrol mengalami pemanjangan jaringan.
4. Hormon tumbuhan
akan berperan aktif dalam merangsang pemanjangan jaringan jika berada pada
konsentrasi yang sesuai dibutuhkan tumbuhan tersebut
5. Hipokotil
kacang hijau (Phaseolus radiates)
mengalami perpanjangan jaringan yang optimal pada saat perendaman dengan IAA
0,03 ppm
6. Penggunaan konsentrasi larutan yang
tinggi dapat menyebabkan peranannya dalam merespon pemanjangan jaringan tidak
fleksibel bahkan dapat merusak hormon yang ada dalam hipokotil kacang hijau.
7. IAA yang tinggi menyebabkan tanaman
mensintesis ZPT lain yaitu etilen yang memberikan pengaruh berlawanan terhadap
IAA
DAFTAR
PUSTAKA
Campbell, Reece dan Mitchell.
2004. Biologi Jilid 2. Jakarta:
Erlangga.
Fetter,
1998, Fisiologi Tumbuhan Dasar,
PT Yudhistira, Jakarta.
Gardner,
F.P., RB. Pierce, dan R.L. Mitchl, 1995. Fisiologi Tanaman Budidaya. Diterjemahkan oleh H. Susilo. Jakarta:
Universitas Indonesia Press
Heddy,
S., 2000. Hormon Tumbuhan. Rajawali,
Jakarta
Hendaryono, D.P.S dan Wijayani Ari.1995. Teknik Kultur Jaringan.Yogyakarta
: Kanisius.
Husin, Arief. 2018. Petunjuk Praktikum Fitohormon.
UMP, Purwokerto
Indradewa,
2009, Fisiologi Tumbuhan Dasar Jilid 1, ITB Press, Bandung.
Lakitan,
B., 2004, Physiology of Crop Plants, The Iowa State
University Press.
Loveless,
1991, Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan Daerah Tropik, PT
Gramedia, Jakarta.
Sugihsantosa, 2009, Pedoman Teknologi Benih,
Pembimbing Masa, Bandung
Suwasono,
1983. Pengaruh Auksin Terhadap Pertumbuhan. Mina
Raharja, Bandung.
LAMPIRAN


No comments:
Post a Comment