LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA KEANEKARAGAMAN SPESIES



LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA
KEANEKARAGAMAN SPESIES








Di Susun oleh
Nama              : Dimas Wahyu Indrata
NIM               : 1501070011
Prodi/Kelas     : pendidikan Biologi / 3A







PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2016





Kamis,19 Oktober 2016

KEANEKARAGAMAN SPESIES

I.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui dan memahami tentang keanekaragaman spesies terutama pada tanaman kelapa kopyor.
2.      Untuk mengetahui  suatu hubungan kekerabatan tanaman kelapa kopyor  satu dengan yang lain dengan menggunakan teknik statistika.
3.      Untuk mengklasifikasi keanekaraman spesies pada tanaman kopyor.

II.      Dasar teori
Keanekaragaman adalah ungkapan yang menyatakan adanya berbagai macam variasi bentuk, penampilan, jumlah dan sifat yang terlihat pada berbagai tingkatan persekutuan makhluk yaitu ekosistem, jenis dan genetika. (Muzayyinah. 2005).

Keanekaragam dibagi menjadi tiga yaitu:
1.      Keanekaragama ekosistem
Ekosistem adalah suatu satuan lingkungan yang melibatkan unsur-unsur biotic (jenis makhuk hidup) dan faktor-faktor fisik (iklim,air, tanah) serta kimia (keasaman, salinitas) yang saling berinteraksi antara satu dengan lainnya. Jika dilihat dari komponen biotanya, jenis yang dapat hidup dalam ekosistem ditentukan oleh hubungannya dengan jenis lain yang tinggal dalam ekosistem terkait. (Muzayyinah. 2009).
Ekosistem terdiri atas perpaduan berbagai jenis dengan bermacam kombinasi lingkungan fisik dan kimia yang beraneka ragam, maka jika susunan komponen jenis dan susunan komponen fisik berbeda serta kimiannya berbeda ekosistem yang dihasilkan juga berbeda pula. Dengan demikian satu tipe ekosistem tertentu akan terdiri atas kombinasi organisme dengan unsur lingkungan yang khas dan berbeda susunan kombinasi ekosistem yang lain. (Muzayyinah. 2009).
2.      Keanekaragaman spesies
Spesies merupakan satu kesatuan yang dapat dikenal dari bentuk dan penampilan dan terdiri atas pengelompokan populasi atau gabungan individu yang mampu saling kawin antar sesama secara bebas untuk menghasilkan keturunan yang fertil. Spesies itu terbentuk oleh kesesuaian kandungan genetika yang mengatur sifat kebakaannya dengan lingkungan tempat hidupnya. Karena lingkungan tempat hidup jenis itu beranekaragam, jenis yang dihasilkan pasti akan beranekaragam pula. Faktor susunan genetika suatu jenis itu diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena itu anggota jenis yang sama akan memiliki kerangka dasar komponen genetika yang sama pula. Kerangka dasar komponen genetika suatu jenis akan berbeda dengan jenis lain. Perbedaan ini terjadi dalam rangka penyesuaian suatu jenis terhadap lingkungan tempat hidupnya. Jika lingkungan berubah, pasti akan terjadi proses penyesuaian baru oleh jenis yang bersangkutan. Dalam kurun waktu yang sangat panjang, besar kemungkinan bahwa jenis yang mengalami penyesuaian ini akan berevolusi dan membentuk jenis baru. Dengan demikian akan menambah keanekaragaman atau bahkan kepunahan karena tidak bisa menyesuaikan. (Muzayyinah. 2009).
3.      Keanekaragaman genetika
Setiap jenis organisme terdiri dari sekumpulan populasi yang tersusun atas individuyang banyak, seluruh warga suatu jenis itu memiliki kerangka dasar komponen genetika yang sama, akan tetapi kerangka dasar tadi tersusun atas ribuan faktor, faktor inilah yang menentukan apakah misalnya satu bibit bunga berwarna merah, kuning, hijau, biru dll.
Masing-masing individu suatu jenis mempunyai susunan faktor genetika yang tidak sama dengan susunan pada individu yang lain, meskipun dalam jenis yang sama. Selain ditentukan oleh sifat genetikannya sifat yang terlihat dari luar pada masing-masing individu itu dapat ditentukan pula oleh keadaan lingkungan. (Muzayyinah. 2009).

Klasifikasi
Klasifikasi adalah suatu cara pengelompokan tumbuh-tumbuhan dalam tingkat kesatuan takson yang sesuai dan ideal dengan menyatukan golongan tumbuhan dengan sifat-sifat yang sama dan memisahkan pada golongan yang berbeda pada sifat-sifat yang lain/berbeda. Hasil proses pengaturan ini merupakan satu sistem klasifikasi yang diciptakan untuk menyatukan suatu hubungan kekerabatan makhluk hidup satu dengan yang lain. (Muzayyinah. 2009).

III.   Alat dan Bahan
Alat
1.      Meteran
2.      Tabel hasil pengamatan sifat-sifat kelapa kopyor yang akan diamati
3.      Alat tulis
Bahan
1.      Tanaman kelapa kopyok       


IV.   Cara kerja
1.      Melakukan pengamatan pada tanaman kopyor di scient teknopark UMP
2.      Menyiapkan alat yang akan digunakan.
3.      Mulai mengukur pohon secara berurutan dari pohon 2 sampai pohon 30 dengan menggunakan meteran.
4.      Pertama mengukur tinggi tananam yaitu mengukur dari bawah sampai ujung tanaman pada daun ke dua dari daun pertama.
5.      Kedua mengamati warna pelepah tanaman apakah warna hijau, kuning, atau coklat.
6.      Ketiga mengukur panjang tangkai dengan mengukur tangkai dari bawah sampai batas daun pangkal.
7.      Keempat mengukur lebar tangkai daun yaitu mengukur lebar tangkai daun bagian tengah atau bagian yang paling lebar.
8.      Kelima mengukur lebar daun pangkal yaitu pada daun urutan ke tiga dari anak daun paling bawah mengukur dari ujung kanan sampai kiri, selanjutnya mengukur lebar daun tengah yaitu pada anak daun bagian tengah daun dikira-kira saja mengukur dari ujung kanan sampai kiri kemudian mengukur lebar daun ujung yaitu pada anak daun ke 10 dari daun paling ujung atau paling pucuk ukur dari ujung kanan sampai kiri
9.      Keenam menghitung jumlah anak daun pada daun nomer dua dari daun pertama.
10.  Ketujuh mengukur panjang anak daun bagian pangkal yaitu pada anak daun ke 3 dari anak daun paling bawah, setelah itu mengukur panjang anak daun bagian tengah selanjutnya mengukur panjang anak daun bagian ujung (anak daun ke 10 dari anak daun paling ujung).
11.  Terakhir mengukur lebar anak daun bagian pangkal, tengah, dan ujung dengan cara yang sama pada saat mengukur panjang anak daun.
12.  Memasukan data kedalam tabel hasil pengamatan.
13.  Menghitung dengan menggunakan aplikasi STAT

V.      Hasil pengamatan

No.
VARIABEL
POHON
2
POHON
3
POHON
4
POHON
5
POHON
6
POHON
7
POHON
8
POHON
9
POHON
10
1
Tinggi tanaman
278
398
186
271
280
226
148
320
223
2
Warna pelepah
1
2
3
3
2
1
1
1
2
3
Panjang tangkai
81
131
111
100
111
71
26
50
85
4
Lebar tangkai daun
4
5
5
3
4
4
3
5
3
5
Panjang helaian daun
190
269
195
195
29
145
77
135
146
6
Lebar daun (pangkal)
87
120
178
191
90
92
50
100
111
7
Lebar daun (tengah)
120
200
115
115
111
111
60
106
129
8
Lebar daun (ujung)
80
120
118
82
62
92
30
26
115
9
Jumlah anak daun
84
112
52
55
116
88
41
70
70
10
Panjang anak daun (pangkal)
58
63
40
40
61
52
56
56
58
11
Panjang anak daun (tengah)
70
96
56
70
64
60
60
59
65
12
Panjang anak daun (ujung)
50
68
48
52
45
49
44
24
60
13
Lebar anak daun (Panjang
2
2
2
2
2
1
1
2
3
14
Lebar anak daun (tengah)
4
5
4
3
3
4
2
3
5
15
Lebar anak daun (ujung)
3
3
2
4
2
3
1
1
3


No.
VARIABEL
POHON
11
POHON
12
POHON
13
POHON
14
POHON
15
POHON
16
POHON
17
POHON
18
POHON
19
1
Tinggi tanaman
286
230
280
201
217
178
190
212
191
2
Warna pelepah
2
1
1
1
1
1
1
2
2
3
Panjang tangkai
80
79
110
77
74
50
64
64
101
4
Lebar tangkai daun
5
5
5
3
3
4
3
3
8
5
Panjang helaian daun
145
140
171
141
142
128
123
124
90
6
Lebar daun (pangkal)
93
180
133
92
98
75
85
86
101
7
Lebar daun (tengah)
105
121
146
102
117
105
100
100
122
8
Lebar daun (ujung)
70
60
100
51
93
73
92
92
68
9
Jumlah anak daun
90
80
118
86
80
60
66
67
86
10
Panjang anak daun (pangkal)
45
45
63
52
50
35
45
44
48
11
Panjang anak daun (tengah)
56
65
73
51
60
52
57
57
64
12
Panjang anak daun (ujung)
45
28
52
42
46
42
50
50
50
13
Lebar anak daun (Panjang
2
1
2
2
2
2
2
2
2
14
Lebar anak daun (tengah)
5
3
5
3
4
4
4
4
6
15
Lebar anak daun (ujung)
3
1
3
2
2
3
3
3
2




No.
VARIABEL
POHON
20
POHON
21
POHON
24
POHON
25
POHON
26
POHON
27
POHON 28
POHON 30
1
Tinggi tanaman
190
236
271
215
120
252
275
260
2
Warna pelepah
1
3
2
1
1
1
1
2
3
Panjang tangkai
97
66
88
46
45
90
53
103
4
Lebar tangkai daun
7
5
3
3
3
6
3
3
5
Panjang helaian daun
106
166
111
148
146
112
169
161
6
Lebar daun (pangkal)
121
80
120
71
99
117
122
107
7
Lebar daun (tengah)
110
113
135
73
100
105
103
195
8
Lebar daun (ujung)
76
100
127
76
75
91
95
52
9
Jumlah anak daun
86
68
83
45
34
86
45
74
10
Panjang anak daun (pangkal)
50
61
56
52
16
41
63
58
11
Panjang anak daun (tengah)
68
65
71
60
81
46
80
70
12
Panjang anak daun (ujung)
54
55
84
50
65
50
64
50
13
Lebar anak daun (Panjang
2
3
2
2.5
3
2
3
1
14
Lebar anak daun (tengah)
5
5
4
4
4
3
5
3
15
Lebar anak daun (ujung)
2
4
2
3
3
2
3
1


Data stastistika hasil pengamatan tanaman kelapa kopyor


VI.   Pembahasan
Kelapa kopyor diketahui memiliki nilai jual yang cukup tinggi dapat mencapai 10 kali lipat dibandingkan kelapa normal. Namun demikian Budidaya tanaman kelapa kopyor blum tersedianya bibit kelapa kopyor yang memadai. Maka salah satu cara yang dapat digunakan untuk menghasilkan kelapa yang mampu menghasilkan 100% buah kopyor (true to type) adalah menggunakan kultur embrio. (Sisunandar).
 Pada kebun scient tekno park Universitas Muhammadiyah Purwokerto dibudayakan tanaman kopyor purbalingga dengan jumlah pohon 30 pohon kelapa kopyor maka berdasarkan data dari hasil pengukuran tanaman kelapa kopyor purbalingga pada pohon 2 sampai 30 diperoleh hasil bahwa berdasarkan ciri morfologinya tanaman kelapa kopyor purbalingga dikelompokan menjadi 4 kelompok pada tanaman pohon kelapa 2 memiliki kekerabatan sangat dekat dan memiliki ciri morfologi yang sama  dengan tanaman pohon kelapa kopyor 11 yaitu memiliki lebar anak daun pangkal dan ujung sama. Pohon 7 memiliki kekerabatan sangat dekat dan ciri morfologi yang sama dengan pohon 15 yaitu memiliki warna pelepah sama, lebar anak daun tengah sama. Pohon 17 memiliki kekerabatan sangat dekat dan ciri morfologi yang sama dengan pohon 18 memiliki yaitu panjang tangkai, lebar tangkai, lebar daun tengah, lebar daun ujung dan lebar anak daun sama antara kedua pohon tersebut. Pohon 19 memiliki kekerabatan sangat dekat dan ciri morfologi yang sama dengan pohon 20 yaitu jumlah anak daun, lebar anak daun pada ujung dan pangkal sama. Bedasarkan 5 kelompok tersebut mungkin memiliki kromosom dan gen yang sama karena pada masing-masing kelompok memiliki kesamaan pada lebar anak daun dan mungkin pembagian kelompok ini berdasarkan lebar anak daun. Dan pohon 5 memiliki kekerabatan sangat dekat dan ciri morfologi yang sama dengan pohon 12 yaitu lebar anak daun pangkal. Selain 4 kelompok tersebut dibagi lagi menjadi beberapa kelompok lagi
Pohon 17 dan 18 memiliki kekerabatan dekat dan ciri morfologi mirip dengan pohon 16. Dan pohon 7 dan 15 memiliki kekerabatan dekat dan ciri morfologi mirip dengan pohon 16, 17, dam 18.
Dari ketiga pohon 7, 15, 16, 17, dan 18 memiliki kekerabatan dekat pohon 21 dan 10. Pohon 7, 10, 15, 16, 17, 18 dan 21 memiliki kekerabatan dekat pohon 14. Pada pohon 7, 10, 14, 15, 16, 17, 18 dan 21  memiliki kekerabatan dekat 25. Dari pohon 7, 15, 16, 18, 17, 21, 10, 14 dan 25 memiliki kekerabatan dengan pohon 27 Pada pohon 2 dan 11 memiliki kekrabatan dengan pohon 7, 17, 15, 16, 18, 21, 10, 14, 25 dan 27. Pada pohon 2, 7, 10, 11, 14, 15, 16, 17, 18, 21, 25 dan 27 memiliki kekerabatan dengan pohon 19 dan 20. Pohon 2, 7, 10, 11, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 25 dan 27 memiliki kekerabatan dengan pohon 28. Pohon 2, 7, 10, 11, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 25, 27 dan 28 memiliki kekerabaran dengan pohon 24. Pohon 2, 7, 10, 11, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 24, 25, 27 dan 28 memiliki kekerabaran dengan pohon 9. Pohon 2, 7, 9, 10, 11, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 24, 25, 27 dan 28 memiliki kekerabatan dengan pohon 13. Pohon 2, 7,  9, 10, 11, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 24, 25, 27, 28 memiliki kekerabatan yang cukup jauh dengan 26. Pohon 2, 7, 9 10, 11, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 24, 25, 26, 27, 28 memiliki kekerabatan yang cukup jauh dengan pohon 5 dan 12. Pohon 2, 5, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 24, 25, 26, 27 dan 28 memiliki kekerabatan yang cukup jauh dengan pohon 30. Pohon 2, 5, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 24, 25, 26,  27, 28 dan 30 memiliki kekerabatan jauh dengan pohon 4. Pohon 2, 4, 5, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 24, 25, 26, 27, 28 dan 30 memiliki kekerabatan yang jauh dengan pohon 8. Pohon 2, 4, 5, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 24, 25, 26, 27, 28, 30 memiliki kekerabatan yang jauh dengan pohon 6. Dan pohon 2, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 24, 25, 26, 27, 28, 30 memiliki kekerabatan yang sangat jauh dengan pohon 3. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan semakin jauh garis bagan maka semakin jauh pula tingkat kekerabatannya. Keanekaragaman spesies itu terbentuk oleh kesesuaian kandungan genetika yang mengatur sifat tumbuhan dengan lingkungan tempat hidupnya. Karena lingkungan tempat hidup jenis itu beranekaragam, jenis yang dihasilkan pasti akan beranekaragam pula. Faktor susunan genetika suatu jenis itu diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena itu anggota jenis yang sama akan memiliki kerangka dasar komponen genetika yang sama pula. Kerangka dasar komponen genetika suatu jenis akan berbeda dengan jenis lain. Perbedaan ini terjadi dalam rangka penyesuaian suatu jenis terhadap lingkungan tempat hidupnya.












VII.          Kesimpulan:
1.    Keanekaragaman adalah ungkapan yang menyatakan adanya berbagai macam variasi            bentuk, penampilan, jumlah dan sifat yang terlihat pada berbagai tingkatan persekutuan makhluk yaitu ekosistem, jenis dan genetika.
2.    Keanekaragaman dibagi menjadi 3 yaitu : keanekaragaman ekosistm, keanekaragaman         spesies dan keanekaragaman genetika.
3.    Klasifikasi adalah suatu cara pengelompokan tumbuh-tumbuhan dalam tingkat kesatuan      takson yang sesuai dan ideal dengan menyatukan golongan tumbuhan dengan sifat-sifat      yang sama dan memisahkan pada golongan yang berbeda pada sifat-sifat yang        lain/berbeda.
4.    Berdasarkan data hasil pengamtanan maka disimpulkan bahwa semakin jauh garis    bagan maka semakin jauh pula tingkat kekerabatannya. Dan semakin dekat bagan maka      semakin dekat kekerabatannya.
5.     Dalam data tersebut pohon 3 memiliki kekerabarabatan yang paling jauh daripada   pohon kopyor yang lainnya.
6.    Anggota jenis yang sama akan memiliki kerangka dasar komponen genetika yang sama        pula. Kerangka dasar komponen genetika suatu jenis akan berbeda dengan jenis lain.      Perbedaan ini terjadi dalam rangka penyesuaian suatu jenis terhadap lingkungan tempat        hidupnya.















Daftar pustaka

Muzayyinah. 2009, Keanekaragaman Tumbuhan Tak Berpembuluh: UNS Press
Sisunandar. 2016. Penuntun Praktikum Genetika. Purwokerto: Universitas Muhammadiyah           Purwokerto
Sisunandar. Produksi Bibit Kelapa Kopyor True-To-Type Melalui Teknik Kultur Embrio. Diakses tanggal 18 Oktober 2016. http://perkebunan.litbang.pertanian.go.id/wp-content/uploads/2015/09/MP-2-Sisunandar.pdf

























Lampiran


No comments:

Post a Comment

RPP BAKTERI SMA

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)                         Nama Sekolah        :           SMA Mata Pelajaran         :       ...

Translate

Powered By Blogger