LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA KROMATOGRAFI PIGMEN MATA DROSOPHILA


LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA
KROMATOGRAFI PIGMEN MATA DROSOPHILA





Di Susun oleh
Nama              : Dimas Wahyu Indrata
NIM               : 1501070011
Prodi/Kelas     : pendidikan Biologi / 3A








PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2016



KROMATOGRAFI PIGMEN MATA DROSOPHILA

Kamis, 03 November 2016
I.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui adanya pigmen mata pada lalat buah (Drosophila melanogaster).
2.      Mengamati pemurnian/ pemisahan pigmen-pigmen mata pada lalat buah Drosophila
melanogaster dengan menggunakan teknik kromatografi kertas.
3.      Membedakan beberapa variasi mutan warna mata dengan berdasarkan perbandingan pigmentasi warna.

II.  Dasar teori
A.  Kromatografi
Terdapat dua tipe pigmen mata Drosophila melanogaster yaitu: pigmen mata merah yang biasa disebut pterin  dan pigmen coklat yang disebut ommochrome. Sedangkan pada sel pigmen retina dapat ditemukan ommochrome dan pterin. Perbedaan jumlah dan distribusi pigmen ini akan memberikan variasi mutan Drosophila melanogaster mempunyai pigmen mata berwarna merah.
Dengan kemajuan teknologi, diketahui ada banyak enzim yang mempengaruhi pembentukan pigmen. Untuk mendeteksi adanya perbedaan yang demikian, diperlukan tekhnik-tekhnik seperti sekuensing DNA, elektroforesis, analisis biokimia, analisis embriologi, analisis imunologi dan kromatografi. 
Kromatografi adalah metode analisis yang digunakan secara luas untuk memisahkan, mengidentifikasikan, dan menentukan komponen kimia dalam suatu campuran. Tidak ada metode pemisahan lain yang aplikasinya seluas kromatografi.Metode kromatografi ada 2 yaitu: column chromatography dan planar chromatography. Termasuk di  dalam   kromatografi planar adalah kromatografi lapisan tipis (TLC), kromatografi kertas (PC), dan   elektro kromatografi. Kromatografi merupakan cara pemisahan campuran ke dalam komponen-komponennya berdasarkan kecepatan migrasi tiap-tiap komponennya melalui medium stasioner (fasa diam) di bawah pengaruh fasa gerak. Fase gerak pada metode kromatografi kertas bergerak melewati fase diam karenapengaruh kapilaritas, gravitasi, atau terkadang karena pengaruh potensial listrik.Ada beberapa proses kromatografi berdasarkan tingkat persaingannya dengan fasediam. Proses kromatografi tersebut antara lain kromatografi absorpsi (adsorption chromatography), kromatografi pemisahan (partition   chromatography), kromatografi pertukaran ion (ion exchange chomatography), dan   kromatografi penyerapan (permeation chromatography).
Teknik kromatografi merupakan teknik yang paling tua dan paling sederhana. Tapi seiring berkembangnya pengetahuan maka teknik ini mengalami banyak kemajuan misalnya pada kromatografi tekanan tinggi (HPLC) yang memiliki daya pisah yang besar, kemudian kromatografi kolom, kromatografi dua dimensi, kromatografi fasa gas, tapi kromatografi yang paling sederhana adalah kromatografi lapis tipis dan kromatografi kertas yang akan digunakan pada praktikum kali ini.
Kromatografi kertas adalah kromatografi yang fase diamnya merupakan lapisan tipis dan fase geraknya mengalir disebabkan oleh permukaan kapiler,  pada kromatografi ini fase diamnya berupa zat cair, biasanya merupakan air yang tersuspensi pada serat dari selembar kertas saring yang bermutu tinggi sehingga membentuk adanya kromatografi cair-cair.
Pada kromatografi kertas ini, pigmen itu akan dipisahkan oleh campuran dari cairan yang menyerap kertas saring secara lambat, sehingga kertas itu menjadi media perantara untuk memisahkan pigmen-pigmen tersebut. Tekniknya bisa dilakukan dengan 2 cara yakni pemisahan ke bawah dan pemisahan ke atas. Dengan teknik tersebut akan memperoleh sebanyak 7 berkas tergantung pada pelarut yang digunakan. Sebagian pigmen yang berupa bercak itu akan tampak dilihat dengan mata telanjang, namun dengan bantuan sinar ultra violet semua bercak tersebut akan bisa dilihat. Tujuh bercak tersebut berurutan dari awal ke akhir migrasi adalah sebagai barikut:
Drosoptherin        : orange
Isoxanthopterin    : violet-blue
Xanthopterin        : green-blue
Seplateridine        : bercak yellow-green
III.    Alat dan Bahan
A.    Alat
1.  2 kertas
2. Pensil
3. Penggaris
4. Pinset
5. Botol kromatografi
6. Staples
7. Lampu ultra violet
8. Jarum pentul (penggerus)
B.     BAHAN
1.        Berbagai macam mutan Drosophila:
a.       Normal
b.      Sepia
c.       White

IV.    Cara Kerja
1.       Mengambil kertas, kemudian menggaris dua cm dari bawah
2.       Menandai dengan tanda titik di kertas sebanyak 3 titik
3.      Menamai atau menandai di masing-masing titik itu yaitu untuk mutan sepia: se, white: w, normal: +
4.      Mengambil 3 macam mutan yaitu white, sepia dan normal,  kemudian memasukan ke botol dan membiusnya
5.      Mengambil setiap mutan 3 ekor kemudian memotong kepalanya
6.      Menggerus mata masing-masing mutan pada tanda titik yang sudah di tandai dengan nama masing-masing mutan tersebut, dan menggerus mutan berikutnya di tempat yang sama, sehingga tiap titik berisi 3 kepala mutan
7.      Menggulung kertas kemudian di staples bagian ujungnya sehingga berbentuk seperti tabung
8.       Menempatkan kertas itu kedalam botol kromatografi dengan pinset sehingga kertas tidak tersentuh tangan, dan ujung kertas terbasahi larutan tapi tidak sampai ke titik tempat mata mutan
9.      Menunggu sampai larutan naik ke atas kertas tapi jangan sampai ke ujung atas
10.  Setelah larutan naik ke atas, mengangkat kertas tersebut
11.  Menandai batas yang basah tersebut dengan pensil
12.  Mengeringkan kertas tersebut
13.   Mengamati warna yang muncul pada kertas tersebut dengan mata telanjang dan mencatat hasilnya
14.  Membuka staples kemudian mengamati warna yang ada pada kertas tersebut  dengan penyinaran ultra violet dan mencatat hasilnya

V.       Hasil Pengamatan
A.    Kromatografi Pigmen Mata Drosophilla
Mutan yang digunakan:
-          White   = W
-          Sepia    = Se
-          Normal = ++
Pigmen Mata:
-          Seplateridine     = yellow-green
-          Xanthopterin     = green-blue
-          Isoxanthopterin = violet-blue
-          Drosoptherin     = orange
Tabel dengan mata telanjang
Mutan
Drosoptherin
Isoxanthopterin
Xanthopterin
Sepleteridine
++
( +++ )
-
-
-
Se
-
-
-
( +++ )
W
-
-
-
-

Tabel dengan Sinar UV
Mutan
Drosoptherin
Isoxanthopterin
Xanthopterin
Sepleteridine
++
( +++ )
-
-
-
Se
-
-
( +++ )
-
W
-
-
-
-

VI.   Pembahasan
Kromatografi Pigmen Mata Drosophilla
Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan untuk mengamati adanya pigmen warna pada mata Drosophila dengan mengamatan menggunakan kromatografi kertas. Dengan menggunakan kromatografi kertas memiliki beberapa alasan, yaitu karena pada prosedurnya lebih sederhana, lebih cepat, harga relative lebih  murah, kecepatan pemisahan tinggi dengan pori - porinya yang rapat, serta memiliki sensifitas yang tinggi. Pada praktikum kali ini, lalat yang akan diketahui pigmen warnanya yaitu mutan dengan jenis normal   ( ++ ), sepia ( se ) dan white ( w ). Pada praktikum kali ini setelah kertas saring di angkat dari botol kromatografi pada saat di amati dengan mata telanjang tampak munculnya warna  orange dari mata mutan normal yang telah digerus yang menunjukkan adanya drosoptherin dan juga terlihat adanya warna yellow green pada mutan Sepia menunjukkan adanya warna seplateridine. Sedangkan pada mutan white tidak menunjukan adanya warna.
Setelah dikeringkan beberapa waktu kemudian, warna yang sebelumnya terlihat dengan   jelas kemudian sedikit memudar karena proses pengeringan. Pemisahan pada tiap komponen warna akan terlihat jelas setelah dilihat dengan cahaya dari sinar Ultra Violet. Setelah diamati dengan sinar ultra violet diperoleh perbedaan hasil dengan pengamatan dengan mata telanjang yakni ada beberapa warna yang hanya muncul ketika diberi sinar UV misalkan Xanthopterin pada sepia, dan adapula yang tidak Nampak ketika diberi sinar UV yaitu Seplapteridine. Pada mutan white yang memiliki warna mata putih, pada uji kromatografi ini tidak ditemukan adanya warna yang muncul.
Hasil yang diperoleh yakni pada mutan normal, muncul warna orange yang panjang yakni drosphterin. Pada mutan sepia setelah di amati dengan sinar ultraviolet yang nampak adalah warna green blue yang panjang yang merupakan xantophterin. Dan untuk mutan white tidak muncul warna apapun, hal ini terjadi karena  mutasi warna putih, mencegah pelekatan pigmen pada granula sehingga pigmen itu tidak berkumpul pada emmotidia dan akhirnya muncul mata warna putih, dan untuk yang kehilangan warna coklat ommochrome akan warna mata merah yang cerah. Dan yang kehilangan pigmen mata pterin (pada mutan normal) akan muncul warna mata yang keruh seperti brown.



VII. Kesimpulan
1.      Kromatografi merupakan teknik umum yang digunakan untuk berbagai macam jenis pemisahan yang di dasarkan pada sampel
2.      Pada Drosophila melanogaster terdapat 2 pigmen mata yaitu pigmen mata merah (pterin) dan pigmen mata coklat (ommochrome)
3.      Pada mutan normal yang bermata merah terdapat pigmen drosophterin
4.      Pada mutan sepia terdapat pigmen xanthopterin dan seplateridine
5.      Pada mutan white tidak terlihat adanya pigmen warna yang muncul


Daftar Pustaka

Nio, Tjan Kiauw. 1991. Genetika Dasar. Bandung: Institut Teknologi Bandung
Sisunandar, 2016. Penuntun Praktikum Genetika. Purwokerto: Universitas  Muhammadiyah Purwokerto
Suryo. 1994. Genetika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Yatim, Wildan. 2003. Genetika. Bandung: penerbit Tarsito


















Lampiran
Pengamatan menggunakan Sinar UV
Pengamatan menggunakan mata telanjang

No comments:

Post a Comment

RPP BAKTERI SMA

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)                         Nama Sekolah        :           SMA Mata Pelajaran         :       ...

Translate

Powered By Blogger