MAKALAH PENGANTAR PENDIDIKAN
RUANG PENDIDIKAN INS
( INDONESISCHE NEDERLANSCHE
SCHOOL )
![]() |
Kelompok 7
Penyusun :
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
PURWOKERTO
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Awalnya Belanda tidak memperhatikan pendidikan
rakyat Indonesia dan cenderung bersifat intelektualistis dan individualis. Akan
tetapi, mereka mulai peduli terhadap
pendidikan bangsa Indonesia.
Belanda membentuk lembaga pendidikan yang pada
umumnya bersifat nasionalis religius dan nasional politis. Dari lembaga-lembaga
yang dibentuk, yang masih ada sampai sekarang ada beberapa aliran. Tidak hanya
aliran dari lembaga yang dibentuk, tetapi ada juga yang dibentuk oleh
orang-orang pribumi. Diantaranya, pendidikan Muhammadiyah, Perguruan Taman
Siswa, dan INS Kayutanam yang telah mengalami kehancuran fisik. Dalam makalah ini akan
dibahas mengenai ruang pendidikan INS.
B. Tujuan
1. Mengetahui sejarah Ruang Pendidikan INS.
2. Mengetahui Ruang Pendidikan INS.
3. Mengetahui
aliran-aliran Ruang Pendidikan INS.
4. Mengetahui strategi pembelajaran Ruang
Pendidikan INS.
5. Mengetahui
landasan-landasan Ruang
Pendidikan INS.
6. Mengetahui
nilai-nilai filosofi Ruang Pendidikan INS.
BAB II
ISI
A.
Sejarah
Ruang Pendidikan INS
INS (Indonesische Nederland School ) didirikan oleh Mohammad Syafei, pada tanggal 31
oktober 1926. Di Kayu Tanam, sekitar 60 km disebelah Utara kota Padang. Sekolah
ini didirikan diatas lahan seluas 18 hektar dan dipinggir jalan raya Padang
Bukit Tinggi. Setelah indonesia merdeka kepanjangan INS berubah menjadi Indonesische Nationale School.
Ia menolak subsidi untuk sekolahnya, seperti halnya Thawalib dan Diniyah, tapi Ia membiaya sekolah itu dengan menerbitkan
buku-buku kependidikan yang ditulisnya. Sumber keuangan juga berasal dari
sumbangan-sumbangan yang diberikan ayahnya dan simpatisan-simpatisan serta dari
berbagai acara pengumpulan dana seperti mengadakan pertunjukan teater,
pertandingan sepak bola, menerbitkan lotere dan menjual hasil karya seni buatan
murid-muridnya. Kelas menggunanakan Bahasa
Indonesia dan bahasa ibu sebagai
pelajaran bahasa yang pokok, dan bahasa itu ditekankan pada pelajaran-pelajaran yang akan diterapkan oleh murid-murid apabila mereka kelak kembali.
Dasar-dasar pemikiran INS adalah
sebagai berikut.
1.
Percaya dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2.
Menetang intelektualisme, aktif, giat, dan punya
daya cipta serta dinamis.
3.
Memperhatikan bakat dan lingkungan siswa yaitu
tiap sekolah hendaknya berorientasi pada lingkungan tempat sekolah itu.
4.
Berpikir secara rasional, bukan secara mistik.
B.
Ruang
Pendidikan INS
Ruang pendidikan
INS terdiri dari 4 tingkatan ruang sebagai berikut.
1.
Ruang Rendah Sekolah Dasar 7 tahun.
2.
Ruang Antara 1 tahun (sambungan Ruang Rendah).
3.
Ruang Dewasa 4 tahun (sambungan Ruang Antara dan
Ruang Rendah).
4. Ruang
Masyarakat 1 tahun.
C.
Aliran-aliran
Ruang Pendidikan INS
Aliran- aliran pendidikan yang digunakan dalam
Ruang Pendidikan INS adalah sebagai berikut.
1.
Aliran
Developmentalisme
Proses
pendidikan merupakan proses perkembangan jiwa, yaitu hasil dari aktifitas dan
reaksinya terhadap lingkungan, karena pendidikan merupakan gabungan nature atau
pembawaan dan nurture atau asuhan. Pengembangan pendidiakan mengutamakan
pendidikan secara universal. Friendrich Froebel menyampaikan ada beberapa hal
terkait aliran pendidikan developmentalisme, yaitu teori nilai, pengetahuan,
pembelajaran, social, alamiah manusia, kesempatan, dan transmisi.
Pada
intinya, aliran developmentalisme berupa pengarahan kegiatan oleh peserta
didik, penemuan sebagai pernyataan diri, penekanan pada sifat asli anak karena
belajar adalah hasil kehidupan aktinya. Jadi bukan hanya memperoleh pengetahuan
tetapi belajar merupakan proses melatih keterampilan serta peningkatan
kekuatan, kemauan, dan karakter peserta didik.
2.
Aliran
Nasionalisme
Aliran
ini menanamkan dan sekaligus menumbuhsuburkan nilai-nilai luhur bangsa
Indonesia kepada generasi muda dengan target akhir adalah siswa merasa memiliki
pancasila. Dalam menentukan metode pendidiakan nasionalisme, perlu diperhatikan
pula pusat orientasi metode pendidikan nasionalisme yaitu bukan hanya
menyajikan pengetahuan, tetapi lebih dari itu, yaitu untuk menciptakan atau
merangsang kondisi siswa sehingga terjadi perubahan sikap dan perbuatan siswa
menurut tuntunan Pancasila. Jadi, metode pendidikan nasionalisme adalah suatu
cara yang dilakukan secara sadar, teratur, dan bertujuan untuk menyampaikan
bahan kepada peserta didik. Dimana melalui proses penyampaian tersebut
diharapkan terjadi perubahan sikap dan perbuatan peserta didik sesuai dengan
tuntunan Pancasila.
D.
Strategi Pembelajaran Ruang Pendidikan INS
Pada
kenyataanya sistem pendidikan INS tidak memungkinkan menjadikan
murid-muridnya sebagai seniman, karena di INS hanya menciptakan manusia
Indonesia yang praktis dan mampu bekerja tangan. Artinya, pendalaman seni
lukis tidak diberikan secara mendasar. Yang ada sekedar ilmu dasar untuk dikembangkan
di luar sekolah. Yang menarik saat itu, terdapat mitos ditengah-tengah masyarakat,
bahwa jika seseorang ingin menjadi besar pergilah ke luar Sumbar, terutama
Pulau Jawa untuk belajar dan mendalami seni lukis yang sesungguhnya.
Kolektivitas
masyarakat pun tidak memberikan kemungkinan menentukan jalannya sendiri
sesuai bakat ditengah-tengah masyarakat. Akibatnya anak berbakat sekalipun tidak
mempunyai kemampuan mencatatkan namanya sebagai manusia pribadi besar dalam
seni lukis. Kebanyakan murid-murid INS saat itu menjadi pelukis reklame, illustrator
atau pekerja seni lainnya. Tapi para pengajar disana tetap saja tekun dan
selalu memberikan motivasi, semangat dan dorongan kepada murid-muridnya. Sang
guru tidak mengajarkan bagaimana jadi pelukis, melainkan menanamkan
semangat, sikap, motivasi dan dorongan kreativitasnya agar bisa menggambar dan
melukis dengan baik dan benar.
1.
Kurikulum
Dalam
kurikulum ini yang dikembangkan oleh Ruang Pendidikan INS Moh. Syafei yakni
kurikulum pendidikan dasar yang tahun awalnya berupa pendidikan
pra-sekolah. Dari segi tujuan operasional pendidikan kurikulumnya terdiri
atas pendidikan umum dan kejuruan yang berpusat pada pekerjaan tangan.
Alokasi waktu kerja tangan kelas 1 dan kelas 2 (satu setengah jam) perminggu, dan
untuk kelas 3 (3 jam per-minggu).
Kelas
rendah ditekankan pada kerja mencontoh. Sementara teknik membaca
yang merupakan keharusan menggunakan pendekatan individual,
artinya setelah diterangkan oleh guru secara umum hanya satu murid
saja yang berada di kelas sementara yang lainnya dikelas yang berdekatan. Mata
pelajaran olahraga/permainan rakyat diberikan 5 jam perminggu. Mata pelajaran
kesenian (menyanyi) diberikan 2,5 jam setiap kelas dan di kelas 2 harus menggunakan
bahasa Belanda yang diiringi oleh biola, seruling dan gitar. Tingkat
Pendidikan yang dikembangkan di INS Kayutanam adalah pendidikan dasar dimana
untuk tahun-tahun awal sekolah adalah pendidikan prasekolah. Dari
tujuan kurikulum maka pendidikan terdiri atas pendidikan umum
dan pendidikan kejuruan Sekolah itu terdiri dari :
a. Ruang Rendah atau sekolah Rakyat yang 7 tahun lamanya.
b. Ruang Dewasa empat tahun sebagai sambungan reuang
rendah.
Mulai
dari kelas 6 ruang rendah atau ruang Dewasa belajar pagi dan petang. Lima kali seminggu petang-petang murid-murid
tamatan HIS atau Schakelschool seperti berbagai macam pekerjaan tangan dan bahasa inggris yang
telah dimulai dari kelas 7 ruang rendah. Tamatan ruang dewasa yang hendak menjadi guru
ditambah belajar satu tahun lagi dalam mata pelajaran yang
diperlukan sambil belajar mengajar diruang rendah menurut beliau sistem yang
sesuai bagi bangsa yang hendak menjadi bangsa yang mulia
adalah system yang memberi kesempatan bagi perkembangnya kreatifitas pelajar-pelajar
sebanyak mungkin.
2. Mata Pelajaran
Mata
pelajaran yang dikembangkan di Ruang Pendidikan INS Kayutanam adalah sebagai
berikut.
a.
Bahasa Ibu.
b. Menggambar (menggambar bebas, menggambar menurut contoh, gambar manusia, benda-benda buatan manusia, benda-benda alam,
menggambar garis lurus dengan cat air dan menggambar perspektif).
c. Membersihkan sekolah dan kelas ( pembentukan tabita
yang positif, bekerja
tuntas dari awal hingga akhir, tertib penggunaan alat dan langkah-langkah
kerja harus diperhatikan serta menumbuhkan kecakapan sosial, komunikasi,
kepemimpinan dan kerjasama.
d. Berkebun (prinsipnya sama dengan kebersihan sekolah
Namun tahapannya
dimulai dari persiapan, penanaman, pemeliharaan dan pemetikan hasil). Penekanannya untuk
menjalani pelajaran berhitung.
e. Bermain-main. Kegiatan ini akan menyenangkan bila dilakukan berkelompok, melibatkan kalah dan menang. Hal ini menanamkan rasa sportifitas, kebersamaan, dan kepemimpinan.
Pada Ruang Pendidikan INS Kayutanam, siswa didorong menjadi siswa yang aktif artinya siswa dituntut
untuk mengembangkan diri menjadi subjek yang kreatif, kalau seorang murid sekolah pertukangan membuat kursi menurut
gambar yang sudah dibuatkan untuknya, anak itu sebenarnya hanya meniru saja
dan bukan menciptakan. Itu lain hal nya dengan murid yang membuat gambar yang akan
ditirunya kemudian atau kalau dia belum pandai mengambar maka ia dibiarkan
untuk membuat kursi menurut pikirannya sendiri. Cara yang
kedua memberi kesempatan kepada si murid mendidik dirinya untuk megembangkan daya ciptanya.
Cara
kedua banyak dilakukan oleh sekolah INS . Memang cara yang
terakhir memerlukan biaya yang mahal, tetapi
daya cipta yang ditimbulkan di jiwa si murid rasanya lebih mahal dari pada barang yang mungkin
dirusakan. Menurut cara pertama mungkin sekali yang dihasilkan kemudian
bukan Tuhan yang mempunyai banyak daya cipta melainkan tukang yang mahir
melaksanakan selain itu menurut beliau dunia ini penuh dengan
bermacam-macam soal, besar dan kecil, mudah dan sukar. Pasti setiap orang menghadapi dan akan memecahkan soalnya masing-masing apabila seorang
yang dalam pendidikannya hanya yang mendapat latihan meniru saja, baginya
akan sulit untuk memecahkan persoalan yang dihadapainya.
Bagi
latihan memecahkan soal diperguruan itu si anak sebanyak mungkin dihadapakan
dengan sengaja pada berbagai soal yang selaras dengan keadaan si anak yang
mesti dicobanya memecahkan sendiri terlebih dahulu misalnya : murid akan
mengadakan kritik. Kritik tersebut diserahkan kepada
murid untuk dipergunakan bahan penyempurnaan untuk mereka. Selain dari pemecahaan soal –soal ilmiah yang
diadakan dikelas atau didalam buku-buku yang dipelajari latihan pemecahan soal secara
bebas sangat dipentingkan di INS. Bagi keperluan latihan tersebut
tiap-tiap kelas mempunyi perkumpulan musik, bernyanyi, sepak bola dan lain-lainya. Disamping
itu juga ada koperasi yang digunakan untuk praktek seperti masak sederhana di ruang dapur koperasi. CTL :
Komponennya Konstrukivisme, inquiri, questioning, modeling, lerning community, reflecting, autenthic assessment. CBSA
(Cara Belajar Siswa Aktif) Memanfaatkan lingkungan (alam takambang jadi guru) Pendekatan
SAVI : Somatic (Learning by moving and doing) Auditoric (learning hearing and teaching) Fisual
(learning by observing and grafling Intellectual (learning by problem solving and
reflecting) Quantum Lerning : PAKEM.
Ruang Pendidikan
INS Kayutanam menanamkan nilai luhur pada setiap siswanya sepert Iman dan
Taqwa, kebangsaan, budi pekerti, tanggung jawab, jujur dan
ihlas, mandiri, satria, empati, gigih/ulet, rendah hati
(bersahaja). Evaluasi Proses Pembelajaran Ruang Pendidikan INS Kayutanam
seperti evaluasi proses, evaluasi produk.
E.
Landasan-landasan Ruang Pendidikan INS
1.
Landasan Idiil
Pancasila
yang merupakan sumber hukum dan digali dari kebudayaan-kebudayaan yang
tumbuh dan berkembang di tanah air Indonesia.
2.
Landasan
Konstitusional
Sebagai
tujuan dari landasan pendidikan Indonesia yang tertuang dalam Ruang Pendidikan
INS Kayutanam ada dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke-4.
3. Landasan Operasional.
Landasan
operasional sudah tertuang dalam GBHN yang merupakan rintisan dari Ruang Pendidikan INS
Kayutanam yang direalisasikan dalam bentuk Sisdiknas yakni membentuk watak bangsa
Indonesia seutuhnya.
F.
Niai-Nilai Filososfi RP INS Kayutanam
Setelah
kemerdekaan, landasan tersebut dikembangkan menjadi dasar-dasar pendidikan
Republik Indonesia seperti yang tertuang dalam sila-sila Pancasila sebagai
berikut.
1.
Ketuhanan yang
Maha Esa.
2.
Kemanusiaan yang
adil dan beradab
3.
Persatuan
Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan perwakilan.
5.
Keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah
kita melihat perkembangan yang terjadi pada RP INS Kayutanam maka kesimpulan
yang dapat kita ambila dari pembahasan ini adalah bahwa berdirinya RP INS
Kayutanam yang dipelopori oleh M.Syefei ini bertujuan untuk membangun pendidikan
masyarakat Indonesia kearah yang baru yaitu memberikan kesempatan bagi
berkembangaya kreatifitas siswa seluas-luasnya. Karena
pendidikan Pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu kurang
memperhatikan perkembangan rasa, kecakapan dan ketangkasan dan
hanya memperhatikan aspek kognitif saja.
B.
Saran
1. Pemerintah
Seharusnya pemerintah harus lebih memperhatikan pendidikan di Indonesia
agar lebih maju dan berkembang sehingga dapat bersaing di negara-negara asing.
Serta memberikan fasilitas yang memadai sehingga para siswa dapat mengembangkan
bakat dan keerampilan masing-masing.
2.
Guru
Sebagai seorang guru seharusnya dapat mengenali bakat setiap muridnya.
Sehingga guru dapt mengembangkan setiap bakat dan kemampuan siswa. Sekolah
bukan hanya tempat untuk memberikan aspek kognitif saja terhadap muridnya.,
tetapi juga aspek afektif dan psikomotor dari siswanya. Sehingga ketika si
murid lulus dari jenjang pendidikannya, mempunyai keahlian masing-masing dan
dapat bersaing di dunia kerja.
DAFTAR PUSTAKA
Ibrahim,Thalib.
1978. Pendidikan M. Sjafei: INS Kayutanam.
Jakarta: Mahabudi.
Navis,A.A.
1996. Filsafat dan Strategi Pendidikan M. Sjafei (Ruang Pendidikan INS
Kayutanam).
Jakarta: Grasindo.
Soejono, Agus. 1980. Pendahuluan Ilmu Pendidikan Umum.
Bandung: CV. Ilmu Bandung.


No comments:
Post a Comment